logo

Kewaspadaan

Kewaspadaan

19 April 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Ramadhan telah tiba dan tentu akan berlanjut ke Lebaran. Meski di satu sisi pemerintah tegas melarang mudik seperti tahun kemarin tapi di sisi lain kerinduan silaturahmi tentu tidak bisa dicegah dan karenanya beralasan jika kemudian pemerintah juga memberikan warning terkait mudik lebih awal yang mungkin dilakukan sebagian masyarakat.

Terkait ini logis jika kemudian pemerintah juga memberikan warning berkaitan ancaman di balik pandemi yang telah terjadi setahun terakhir dengan dampak sistemiknya. Selain itu fakta inflasi musiman juga tidak bisa diabaikan, apalagi BPS melaporkan inflasi Maret 2021 sebesar 0,08% sehingga inflasi tahun kalender 2021 yaitu 0,44%.

Konsekuensi dari pandemi setahun terakhir memang tidak hanya berdampak di sektor kesehatan, tapi juga di bidang sosial – ekonomi, termasuk juga di sektor politik. Realitas ini menjadi pembelajaran untuk mereduksi dampak sistemik lebih lanjut dan karenanya di dua lebaran ini pemerintah tegas melarang mudik karena kekhawatiran faktor sebaran pandemi yang kian luas. Padahal, pandemi setahun terakhir telah memicu kemerosotan sosial – ekonomi. Oleh karena itu, menjadi penting untuk melakukan pemetaan terhadap sejumlah kasus yang terjadi dan juga potensi terjadinya kasus yang lain.

Kilas balik pandemi setahun terakhir fakta menunjukan selama triwulan I 2020 ternyata penurunan ekspor ke China terjadi sebesar 36,5% untuk komoditas ikan dan udang yaitu dari US$ 84 juta menjadi US$ 53,4 juta sedangkan komoditas bahan kimia organik turun 28% dari US$ 56,4 juta menjadi US$ 40,4 juta. Impor dari China juga turun di Januari 2020 yaitu impor non-migas sebesar 3% dari US$ 4 miliar menjadi US$ 3,9 miliar tapi impor migas justru naik 31%. Penurunan impor terbesar yaitu dari buah-buahan sebesar 79% dari US$ 160,4 juta menjadi US$ 33,9 juta. Kumulatif di tahun 2020 ekspor kita ke China US$ 37,4 miliar atau naik 10,1% dibandingkan 2019 dan impor dari China US$ 41 miliar atau turun 10,13% dari 2019.

Rincian kinerja Indonesia-China setahun terakhir pasca pandemi bahwa defisit di 2019 US$ 11,7 miliar, sementara di 2021 defisit menyempit senilai US$ 3,6 miliar. Adapun, beberapa produk unggulan dan potensial yang mengalami peningkatan antara lain besi dan baja meningkat 134,3%, sarang burung walet 88,05%, kertas dan produk kertas 133,25%, kopi, teh, mate dan rempah-rempah 175,34%, alas kaki naik 19,75%, minyak atsiri, preparat wewangian, kosmetika naik 15,62%. Fakta harmoni bilateral RI – China terutama di era Jokowi tidak diragukan lagi dan

karenanya ketergantungan bahan baku, bahan produksi dan bahan pangan China bisa fatal jika ekonomi di China terguncang. Oleh karena itu dampak sistemik pandemi setahun terakhir ini menyiratkan ancaman tentang ketergantungan impor dari suatu negara. Oleh karena itu pasca pandemi setahun terakhir maka ke depan perlu evaluasi terhadap ketergantungan impor sehingga pasokan terhadap semua kebutuhan bahan baku, bahan produksi dan bahan pangan relatif aman dan bebas dari ancaman ketidakstabilan pasokan.

Kasus harga bawang putih, lonjakan harga daging sapi, rentannya harga kedelai dan juga pedasnya harga cabai yang mencapai Rp.110.000 per kg menjadi sinyal negatif terkait kepastian harga selama ramadhan - lebaran. Meski untuk kasus cabai berdalih anomali cuaca sehingga

banjir berdampak terhadap kuantitas dan kualitas pasokan sehingga tidak terjadi keseimbangan demand – supply namun antisipasinya seharusnya bisa dilakukan. Oleh karena itu, inflasi tahun kalender perlu dicermati untuk antisipasi ancaman inflasi musiman ramadhan-lebaran. Pandemi setahun terakhir ini harus menjadi warning terkait kepastian pasokan semua komoditas, termasuk untuk mereduksi ketergantungan impor dan memacu swasembada komoditas unggulan untuk memacu ekspor demi penguatan neraca perdagangan. ***

  • Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo