logo

Puasa Sebagai Perisai Hawa Nafsu

Puasa Sebagai Perisai Hawa Nafsu

16 April 2021 13:19 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: H. Achmad Ridwan, SE, MM

Sabda Rasulullah sholallahu alaihi wa salam yang mengatakan bahwa di bulan Ramadhan syaitan-syaitan dibelenggu memiliki dua makna, salah satunya sebagai makna sebenarnya, yakni bahwa syaitan benar-benar terbelenggu difahami dalam pengertian yang sebenarnya (dibelenggu) sehingga intensitasnya dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan di banding bulan lainnya. Artinya bukan total syaitan tidak mampu melakukan menggoda manusia, tetapi kondisi syaithan yang melemah dan keimanan manusia yang menguat, kalau diilustrasikan pada saat ini seperti vaksin pada tubuh manusia, virus atau bakterinya melemah sementara tubuh yang ditempatinya memiliki kekuatan kekebalan yang meningkat.

Bukan sama sekali menghilang godaan

syaitan ini. Lantas kemudian, ada saja orang melakukan maksiat di bulan Ramadhan karena kondisi  keimanannya sangat lemah, sehingga sering dipertanyakan kenyataan ini, katanya syaitan dibelenggu dan lemah, tapi kok masih banyak kemaksiatan dan dosa yang merajalela.

Jawabnya sangat sederhana, seperti perumpamaan di atas, bukan syaitannya yang terbelenggu dan lemah, akan tetapi keadaan keimanannya yang sangat teramat lemah. Sama seperti penularan penyakit covid-19 pada saat ini.

Lantas bagaimana dong cara mengobatinya?

Jawabnya, puasa yang benar, sebagai kuncinya. Supaya membuka pintu agar menjadi orang yang bertaqwa dan mampu mengendalikan hawa nafsunya agar menjadi mujahid sejati.

Jawaban seperti ini pun masih dianggap masih absurd dan klise, belum ada penjelasan yang perfect.

Marilah kita mulai dari sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa salam: “Kebaikan itu dari kebiasaan, keburukan itu dari pemaksaan dan barangsiapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan menjadikannya faham tentang agama” (HR. Ath Thabrani dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan).

Semua keadaan sesuatu selalu terjadi secara bertahap melalui proses tertentu. Latarkabunna thobaqon ‘an thobaq, sungguh manusia akan melalui proses sedikit demi sedikit, dalam kehidupan.(Al-Quran, Insyiqoq: 19).

Baik itu kebaikan maupun keburukan terjadi dengan bertahap. Seperti contoh ledakan penyebaran virus corona 19 menular secara bertahap, diawali dari Wuhan, kota di Tiongkok akhirnya sampai ke pelosok dunia yang terpencil sekalipun, bahkan tempat ibadah yang paling bersih tidak luput dari virus ini, Masjidil Haram.

Lantas penyembuhan atau menghentikannya juga harus dengan cara bertahap, di awali dengan lockdown, menutup pintu bagi yang akan pergi maupun yang datang. Pada awalnya sebagai aturan yang mengagetkan, karena tiba-tiba semua orang harus menghentikan segala aktifitasnya di luar rumah, yang pada ujungnya banyak yang tidak mematuhi aturan ini, dikarenakan hajat hidup yang harus dipenuhi. Akan tetapi karena terus menerus pemerintah memaksa rakyat untuk melaksanakan peraturan yang dinamakan protokol kesehatan (prokes) dan belum berhentinya korban virus Covid-19, maka mau tidak mau masyarakat melaksanakan prokes ini, karena dilaksanakan terus-menerus maka lambat laun prokes bagi rakyat sudah menjadi kebiasaan.

Kembali kepada puasa sebagai perisai hawa nafsu. Ibadah puasa yang sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ada amalan penyertanya. Konsep pembiasaan mengendalikan hawa nafsu harus dimulai dengan kalimat; “Saya sedang berpuasa”.

Selanjutnya memaksa diri untuk melakukan amalan penyertanya, Sholat Tarawih, baca Al Quran, bersedekah, jauhi kumpul-kumpul dengan orang, menghindari obrolan panjang yang menyebabkan sering terjadi perselisihan. Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka insya Allah lambat laun menjadi kebiasaan. Kalau sudah biasa maka akan menjadi nikmat mengerjakannya.

Maka sering yang terjadi seseorang begitu merindukan Ramadhan, dikarenakan amalan ibadah di dalamnya yang membuat jiwa tenang dan damai. Dan Ramadhan adalah bulan bagi seorang Mu’min yang memang telah cukup mengumpulkan rizky selama sebelas bulan sebelumnya, kemudian pada bulan Ramadhan dikhususkan untuk beribadah saja maka itu dibolehkan.

Sementara keburukan bagi seorang mu’min merupakan perbuatan terpaksa, karena pada hakekatnya jiwa orang beriman adalah enggan untuk melakukan dosa jika tidak terpaksa, dalam hal ini terpaksa karena keadaan tertentu atau karena bisikan hawa nafsu yang begitu dahsyat. Disinilah hikmahnya puasa dalam mengantisipasi hawa nafsu yang menjerumuskan pada perbuatan dosa. Wajar kalau Nabi mengatkan bahwa jihad yang besar adalah melawan hawa nafsu. Biasanya seorang mu’min akan berfikir dua kali jika akan berhadapan dengan perbuatan dosa dikarenakan bisikan hawa nafsu, dan senantiasa berlindung kepada Allah subhanahuwata’ala untuk membimbingnya pada jalan petunjuk, janji Allah SWT kepada hambanya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami. Kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama-sama dengan orang yang berbuat baik”. (Al-Qur’an: Al Ankabut:69).

Maka jika difikirkan bolehlah sejenak menengo ke belakang sejenak sebagai pelajaran, bahwa pandemi itu tidak lah begitu buruk banget bagi seorang  yang beriman, kecuali sebagai ibroh (pelajaran) yang berharga. Dan tentu saja menjadi kenikmatan sendiri dalam mengamalkan amalan Ramadhan saat ini. 

Semoga.

*H. Achmad Ridwan, SE, MM-Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, Pelaporan BAZNAS Provinsi Jawa Barat

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH