logo

Ramadhanomic

Ramadhanomic

12 April 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Marhaban ya Ramadhan dan tanpa terasa Ramadhan kembali hadir menyapa kita. Meski Ramadhan kali ini bersamaan dengan setahun pandemi tetapi imbas terhadap aspek sosial ekonomi tetaplah terasa. Situasinya menjadi semakin runyam ketika pemerintah kembali menegaskan melarang mudik. Padahal, esensi Ramadhan yang berlanjut Lebaran tidaklah bisa dipisahkan dengan tradisi mudik.

Bahkan ada suatu keyakinan mudik bukan sekedar pulang kampung untuk melakukan napak tilas sejarah perjuangan hidup dan kehidupan, tapi mudik juga menjadi muara dari geliat ekonomi bisnis di daerah dan pedesaan. Oleh karena itu menjadi sangat beralasan jika kemudian mudik menjadi menu wajib yang kian penting, bukan sekedar mempererat tali silaturahmi tapi juga geliat ekonomi yang dapat menggerakan sektor riil secara sistematis dan berkelanjutan.

Sayangnya, pandemi setahun terakhir membuyarkan semangat mudik itu sendiri dan hal ini berdampak sistemik terhadap mata rantai kegiatan Ramadhan yang berlanjut Lebaran. Oleh karena itu, bisa dipastikan sektor ritel juga terdampak kembali akibat larangan dari mudik.

Padahal pada Lebaran kemarin banyak sektor ritel yang terdampak akibat mudik yang dilarang, terutama omzet yang turun drastis. Jadi, bisa dipastikan pada Lebaran kali ini sektor ritel kembali terdampak. Artinya, pasokan berbagai keperluan Ramadhan dan Lebaran, misalnya kuliner, sandang dan pangan akan kembali menumpuk seperti Lebaran kemarin. Oleh karena itu, beralasan jika pasokan untuk pemenuhan kebutuhan Ramadhan dan Lebaran tahun ini akan dikurangi. Situasinya menjadi semakin runyam terutama ada rumor bahwa dunia usaha berkeberatan dengan pembayaran THR. 

THR memang menjadi beban dunia usaha (cost) ketika THR itu sendiri sebenarnya hak pekerja. Oleh karena itu, persoalan dari THR setiap tahun cenderung kembali berulang dan demo kaum pekerja yang menuntut THR selalu rutin menghiasi media seolah tanpa henti. Meski musyawarah untuk mencari solusi dan titik temu selalu digelar toh realitas menunjukan problem ini menjadi ritme Ramadhan - Lebaran setiap tahun. 

Jadi setahun ini bisa dipastikan gejolak tuntutan THR akan kembali berulang dan ujungnya pasti kaum pekerja yang terkalahkan dan dikalahkan. Jika dicermati sejatinya yang terdampak dari setahun pandemi bukan hanya kalangan dunia usaha, tapi semua juga terdampak. Realita ini menjadi pembelajaran untuk melihat persoalan secara jernih sehingga tidak mencari kambing hitam dibalik dampak sistemik pandemi setahun terakhir, termasuk juga aspek larangan mudik Lebaran kali ini yang mengulang Lebaran kemarin. 

Sinergi antara pandemi setahun terakhir, larangan mudik dan aspek imbasnya terhadap Ramadhan dan Lebaran maka mata rantai dari distribusi barang – jasa pasti ikut terkena imbasnya. Betapa tidak, Ramadhan identik dengan konsumsi, meski secara harfiah harus menahan hawa nafsu namun faktanya selama Ramadhan justru semakin konsumtif yang kemudian berdampak terhadap proses produksi di semua produk dan jasa. Tentu ini bisa berpengaruh terhadap mata rantai pasokan dan distribusi ke pelosok dan konsekuensinya adalah terjadinya perputaran uang, meski terkesan konsumtif, namun fakta memberikan gambaran terjadinya peningkatan permintaan atas sejumlah produk selama Ramadhan – Lebaran.

Hal ini semakin diperkuat dengan kegiatan mudik yang sejatinya tidak sekedar tradisi untuk bisa menyambung silaturahmi tetapi juga berpengaruh terhadap perputaran jumlah uang yang beredar di daerah. Oleh karena itu, larangan mudik dua lebaran tentu akan berdampak sistemik terhadap proses produksi di semua daerah tanpa terkecuali dan tentu ini akan memicu sentimen terhadap jumlah uang beredar saat Ramadhan – Lebaran. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo