logo

Fadli Zon Minta Lembaga Yang Tangani Terorisme, Dievaluasi

Fadli Zon Minta Lembaga Yang Tangani Terorisme, Dievaluasi

Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon
08 April 2021 18:50 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon meminta lembaga- lembaga yang menangani terorisme termasuk Badan Intelejen Negara (BIN) untuk dievaluasi, menyusul masih adanya aksi-aksi terorisme di Indonesia.

"Terorisme di Indonesia harus menjadi evaluasi. Kenapa masih ada tindakan terorisme tersebut. Kami berharap dengan banyaknya lembaga yang menangani terorisme semakin kecil terorisme itu," jelas Fadli Zon seusai menghadiri Sosialisasi Diplomasi Parlemen, Badan Kerjasama Antar Parleman (BKSAP) DPR RI di UNS Inn, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/4/2021).

Terkait aksi terorisme, politisi Partai Gerindra tersebut mengatakan pihaknya melihat di Amerika, banyak kasus terorisme yang manufaktur atau dibuat. Sehingga terorisme bukan karena ideologi. Oleh karena itu pihaknya meminta harus ada evaluasi, jangan sampai terorisme menjadi instrumen bagi kekuasaan untuk menjustifikasi adanya kegiatan teror.

"Misal saja, selama ini terjadi yang tertuduh umat Islam yang merupakan mayoritas. Stigmatisasi ini secara dunia internasional secara geopolitik sudah berubah. Amerika sendiri sudah berubah," ujarnya.

Fadli mengungkapkan dalam buku Terror Factory disebutkan dari 581 kasus terorisme di Amerika, semua yang membuat adalah FBI sendiri. Untuk itu pihaknya mengingatkan agar jangan sampai ada oknum-oknum yang selalu memelihara agar selalu ada terorisme.

"Seharusnya terorisme itu dihabisi jangan sampai ada yang menghidupkan. Evaluasi itu juga harus dilakukan semua lembaga apalagi yang memiliki anggaran yang memberantas terorisme," jelasnya lagi.

Sehingga bisa diketahui sejauh mana efektifitas program-program seperti deradikalisasi dan lainnya. Karena menurutnya masih banyak yang salah kaprah dengan istilah-istilah itu.

"Kita orang Indonesia tidak pernah mendengar ada bom bunuh diri sampai tahun 2002 lalu saat bom Bali 1. Dan itu karena proyek war in terror dari Amerika, tapi sekarang Amerika sudah berubah, jangan sampai Indonesia masih seperti itu," katanya.

Disinggung program deradikalisasi, Fadli Zon mengungkapkan sebenarnya pemahaman agama orang Indonesia sangat moderat. Karena sudah bercampur dalam tradisi dan Islan tidak pernah menumpas tradisi serta memilih akulturasi budaya.

"Kita tidak melihat radikalisme di Indonesia. Kita kan tidak tahu bom 2002 itu untuk dirinya sendiri atau menjadi alat kepentingan orang luar. Kita tahu bahwa semacam ISIS juga merupakan kepentingan orang luar, jelas itu tidak diajarkan dalam Islam apalagi rumah Ibadah. Jadi itu bukan orang Islam atau siapa tidak jelas," pungkasnya. ***

Editor : Markon Piliang