logo

Pembela Berharap Hukuman Suharjito Dikurangi Dari Tuntutan

Pembela Berharap Hukuman Suharjito Dikurangi Dari Tuntutan

terdakwa Suharjito
08 April 2021 11:49 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Terdakwa Suharjito dan penasihat hukumnya, Aldwin Rahadian akan mengajukan nota pembelaan pribadi maupun dari pembela terkait tuntutan JPU KPK. Mereka berharap majelis hakim Pengadilan Tipikor bakal mengurangi hukuman terdakwa dari tuntutan JPU. Terlebih mengingat terdakwa menjadi justice collaborator (JC).

“Kami beerharap majelis hakim mengurangkan hukuman klien kami. Salah satu alasannya, karena klien kami JC,” kata salah satu anggota tim penasihat hokum Suharjito yang dikomandoi Aldwin Rahadian, Kamis (8/4/2021).

JPU KPK sebelumnya menuntut pendiri PT Dua Putra Perkasa dan pemilik PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito selama tiga tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Dalam requisitor JPU dinyatakan terdakwa Suharjito terbukti secara sah dan meyakinkan memberikan suap senilai total Rp 2,1 miliar yang terdiri dari 103.000 dolar AS atau sekitar Rp 1,44 miliar dan Rp 706,05 juta kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Pemberian suap kepada Edhy secara bertahap melalui sejumlah orang itu bertujuan agar Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan mempercepat persetujuan perizinan ekspor benih lobster atau benur di Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun anggaran 2020.

“Kami meminta agar majelis hakim memutuskan menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi secara berlanjut," kata Jaksa KPK saat membacakan  tuntutan terhadap Suharjito di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Untuk hal yang memberatkan, jaksa menilai perbuatan Suharjito tak mendukung upaya masyarakat yang sedang giat-giatnya memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sedangkan  hal meringankan, jaksa menilai Suharjito belum pernah dihukum, bersikap kooperatif, dan memberikan keterangan secara signifikan.

Suap itu diberikan Suharjito kepada Edhy Prabowo secara bertahap melalui sejumlah pihak, yakni dua staf khusus Edhy Prabowo, Safri dan Andreau Misanta Pribadi; Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy Prabowo; Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi sebagai anggota DPR sekaligus istri Edhy Prabowo; dan Siswandi Pranoto Loe selaku Komisaris PT PLI sekaligus Pendiri PT ACK. “Uang suap itu  diperuntukkan untuk kepentingan Edhy Prabowo dan istrinya, Iis Rosita Dewi,” demikian jaksa KPK.

Suharjito sebelumnya tampak bagai tidak punya beban bahkan mengakui perbuatannya selama persidangan. Karenannya, proses hukum kasusnya berjalan lancer termasuk saat penyidikan. ***

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH