logo

IPDN, Pencetak Pamong Lokal Multitalenta Dan Berwawasan Global

Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), DR. Hadi Prabowo, MM.

IPDN, Pencetak Pamong Lokal Multitalenta Dan Berwawasan Global

24 Maret 2021 09:31 WIB

SuaraKarya.id - SUMEDANG: Puncak Dies Natalis ke-65 Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pertengahan Maret 2021 lalu, tidak saja ditandai dengan rangkaian acara seremonial tetapi juga sukses dilaksanakannya Seminar Nasional mengenai penyelenggaraan Otonomi Khusus di Papua dan Papua Barat secara daring dan luring dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

Peringatan HUT 65 Tahun IPDN juga menjadi batu lompatan atau milestone atas capaian sejarah panjang sekolah pamong praja tersebut. Dipimpin oleh Rektor DR. Hadi Prabowo, MM., IPDN kini menjelma bukan lagi menjadi kampus "horor" yang menerapkan disiplin militer dengan kasus-kasus perpeloncoan yang beberapa kali merenggut korban jiwa, tetapi menjadi kampus humanis yang mencetak pamong-pamong lokal berwawasan global.

Berikut kutipan wawancara dengan jurnalis senior suarakarya.id, AG. Sofyan dengan mantan Sekjen Kementerian Dalam Negeri RI yang berkarir dimulai dari birokrat di Provinsi Jawa Tengah. Wawancara khusus berlangsung di Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Petikannya:

Bagaimana Anda memaknai 65 tahun perjalanan panjang IPDN ini?

Begitu saya masuk (jadi Rektor IPDN), saya menyempurnakan segala kelemahan yang disesuaikan dengan perkembangan di tingkat nasional dan global. Makanya kita susun rencana induk pengembangan IPDN 2020-2045, di mana kita menjadikan pendidikan ke depan kepamongprajaan yang unggul, profesional, berdaya saing dan berintegritas. Nah, kuncinya tentu kita harus membuka diri dan terbuka mengelola lembaga pendidikan kedinasan ini. Pertama, dengan penguasaan IT (Information Technology/Teknologi Informasi). Kedua, kita harus membuka pola pikir dan budaya kerja harus ada kecepatan di dalam memahami semua perubahan karena perubahan itu sangat cepat dan datang di luar prediksi kita.

Oleh karena itu, kita jadikan pamong praja juga harus peka di dalam menyikapi tantangan zaman. Secara otomatis kita utamakan penguasaan ilmu dan teknologi dan lebih khusus adalah bahasa asing karena bahasa asing ini penting untuk membuka komunikasi dan akses lebih luas ke dunia.

Kita ingin (sesuai arahan Pak Mendagri Tito) lulusan IPDN akan menjadi pionir-pionir dalam pemerintahan daerah. Oleh karena itu dipersiapkan supaya sebelum praja kembali ke pemerintah daerah sudah menyelesaikan jenjang S2 ke luar negeri. Untuk itu kita kerjasama dengan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan untuk mempersiapkan dengan baik kemampuan bahasa tersebut. Kita juga kerjasama dengan UPI dan ITB.

Dan karena ilmu kita itu ilmu terapan, maka kita harus punya laboratorium di setiap Program Studi (Prodi). Ada laboratorium di setiap keilmuan yang digeluti. Sehingga yang dipelajari tidak hanya teoritis tetapi juga implementatif sesuai dengan kemampuan dalam menyikapi lingkungannya.

Itu tantangan ke depan karena di tengah persaingan nanti kan kita harus bisa penuh inovasi, supaya bagaimana kita sigap memberikan pelayanan cepat kepada masyarakat.

Pemerintah itu kan nature-nya kan pelayanan. Oleh karena itu pamong praja harus bisa menguasai pertama teknologi informasi terkait dengan aplikasi-aplikasinya yang berkembang itu, kemudian dia juga harus mempunyai pemikiran bagaimana dia mempunyai kecepatan di dalam memberikan pelayanan dan tentunya memberikan kajian untuk pengambilan kebijakan serta keputusan pimpinan. Sikapnya itu tetap, sikap dasarnya itu Asta Brata itu yang utama, berjiwa Pancasila, unggul, berkarakter, berinovasi dan sebagainya.

Apa yang sudah Anda lakukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di IPDN?

Kita buka juga kerjasama dengan lembaga luar negeri sehingga memberikan istilahnya pertukaran mahasiswa dan sebagainya. Terus kita juga utamakan penelitian dan pengabdian seiring dengan pengembangan ilmu kepemerintahan.

Karena yang kita pelajari itu ilmu pemerintahan, membedakan dengan yang umum karena yang umum adalah mengutamakan science. Artinya disini adalah visinya dan kita terapannya. Nah, kalau terapan itu sudah pasti antara teori dan aplikasinya ini cenderung pada sisi penanganan kasus.

Bagaimana dengan cara mempersiapkan SDM birokrasi yang unggul itu, kapan kerjasama dengan LPDP?

Ini kita sedang proses, kita pelatihan dulu. Dan kita upayakan tahun ini. Tahun ini nanti tesnya pada bulan April-Mei 2021. Jadi ini baru yang pertama. Kemudian IPDN juga diarahkan untuk menyikapi secara proaktif terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di tengah masyarakat, misalnya pada saat Pilkada serentak 9 Desember 2020.

Pada saat pembahasan antara Pemerintah dan Dewan (mengenai Pilkada serentak), kita lakukan seminar nasional. Pada saat undang-undang Ciptakerja sedang dibahas, kita lakukan kaitannya dengan sosialisasi di enam provinsi. Terus kita pada saat pelaksanaan pilkada, kita lakukan kajian monitoring.

Terus pada saat ini masalah Otsus Papua dan Papua Barat, kita kemarin gelar seminar nasional yang dalam hal ini tentunya dari narasumber yang kompeten dan kapabel di bidangnya bisa memberikan masukan kepada pemerintah maupun lembaga legislatif ataupun lembaga-lembaga lain yang membutuhkan. Sehingga hal ini merupakan wujud dari pengabdian dan penelitian IPDN dalam mengimplementasikan salah satu fungsi Tri Darma Perguruan Tinggi. Otomatis kita harapkan ini bermanfaat dan ada korelasinya dengan ilmu pemerintahan yang dikembangkan di IPDN.

Bagaimana dengan program vaksinasi di era pandemik saat ini apakah berjalan, meskipun sejauh ini tidak ada siswa praja yang terpapar kasus Covid-19 alias dikatakan zero case?

Kita bukan soal tidak terpapar, tapi vaksinasi itu penting untuk memberikan kekebalan. Namun vaksinasi itu seiring dengan tentunya persediaan dari pemerintah, sehingga kampus (IPDN) di Jakarta sudah, kampus (IPDN) Kalbar sudah, nah (kampus IPDN) Jatinangor ini kebagian dari pemerintah tanggal 15 diundur menjadi tanggal 22 Maret.

Tapi kalau yang dari unsur-unsur para praja ada yang langsung dari masyarakat, kita sudah dijanjikan dari Kementerian Kesehatan nanti tanggal 22 Maret. Kalau yang kampus di Jakarta sudah semua. Jakarta itu siswanya 308-an, Kalimantan 167 siswa. Itu sudah vaksin yang pertama, besok yang kedua.

Apakah selama ini Protokol Kesehatan (Prokes) sudah dilaksanakan di lingkungan IPDN?

Prokes dilaksanakan. Seminar-seminar pakai prokes. Buktinya Dies Natalis ini tidak kita gelar secara umum dan kita lakukan upacara sederhana dengan testimoni dari Pak Presiden dan Pak Menteri Dalam Negeri, para menteri, itu dilakukan hanya terbatas yang luring maksimal 100 orang, kemudian lainnya virtual.

Kalau prokes tiap harinya kita harus mengacu, diterapkan, dan dilaksanakan, sehingga kita yang terpapar sedikit itu karena fokusnya kuat. Dan kita sudah sepakat semua pimpinan di sini selalu check and recheck setiap hari. Dan klinik pun sampai punya mobil PCR sendiri, kalau ada yang panas-panas dikit dicek, gitu.

Bagaimana komitmen Anda untuk mendukung digitalisasi di kampus IPDN?

Kita lakukan langsung di wisma-wisma, jadi dosen-dosen ini tidak mengajar tatap muka melainkan melalui daring ke wismanya. Paling ada yang olah raga lari-lari setiap pagi, nah itu kan untuk menaikkan imun. Karena di sini, fisik itu yang utama. Dengan fisik utama, mereka disteril otomatis, mereka tidak mudah terpapar. Tapi meskipun dia imunnya tinggi kalau keluar (kampus) ya bahaya juga. Itu saja.

Bagaimana dengan aktivitas pembaretan?

Belum dilaksanakan, nanti kalau sudah selesai. Sekarang ini untuk penerimaan pakai prokes, pembelajaran prokes, lha yang berkaitan dengan dunia luar apakah laskarda atau pembaretan ini, kita tangguhkan dulu. Kalau enggak gitu bisa kena semua karena Korona belum hilang dari bumi.

Selama satu tahun Anda memimpin IPDN apa saja yang sudah Anda kerjakan?

Yang pertama kita kembangkan kepekaan, yang utama kita kurang memiliki kepekaan dalam menyikapi lingkungan. Selama ini pembinaan mengandalkan doktrin-doktrin yang kaku. Padahal sekarang ini yang perlu dikedepankan adalah kecerdasan dan kecepatan. Respon terhadap hal-hal yang ada di sekeliling atau lingkungan sehingga mereka akan terbiasa dari hal yang terkecil dan ketika menghadapi persoalan yang besar nanti mereka mudah mencari suatu alternatif solusi. Dan dari penguasaan IT ini -memang kemarin agak lemah- penguasaan IT ini ada dalam kerangka untuk kemudahan percepatan pelayanan kepada masyarakat.

Kalau dulu, kita pendekatannya masih cenderung militer, sekarang kita ubah. Kita pendekatannya tetap pendekatan disiplin namun untuk kecerdasan diutamakan ke depan ini harus banyak diasah, supaya mampu mencari way out di dalam menyikapi permasalahan.

Karena itu ilmu terapan yang banyak kita hadapi maka banyak kita berikan pendidikan adalah bagaimana memahami, mempelajari, dan menyelesaikan suatu kasuistis. Teori itu landasan, namun output-nya adalah penyelesaian suatu kasus. Nah, kalau sudah terbiasa, ini akan cepat.

Karena apa? Pamong praja ini adalah seseorang yang memberikan pelayanan dan perlindungan. Otomatis melayani kemudian melindungi dan meningkatkan kesejahteraan itu prinsipnya. Sehingga mereka juga harus bisa tanggap terhadap situasional dan perubahan zaman, termasuk IT dan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Maka kita sudah ubah bahwa cara pembelajaran itu tidak hanya pembelajaran yang bersifat hanya memberikan pembelajaran teori-teori belaka, namun kasuistis itu penting.

Kemudian juga kapasitas dosen kita tingkatkan supaya kapasitas pengajar ini tidak hanya monoton pada imu-ilmu yang sudah lama diturunkan padahal ini sudah mengalami perkembangan-perkembangan yang maju, sehingga kita lakukan assessment terhadap dosen. Kita lakukan pemerataan sesuai dengan peningkatan kebutuhan di kampus-kampus.

Anda menginginkan lulusan IPDN berdaya saing global tapi harus didukung dengan penerapan industry 4.0, artificial intelligent atau internet of things. Apakah ada rumusan atau cetak biru ala Rektor Hadi?

Kurikulumnya sudah kita sempurnakan. Kurikulum itu sudah kita tata menuju industry 4.0 karena penguasaan IT di situ yang dominan, sehingga kita harus punya wawasan ke depan dan kurikulum itu harus kita sesuaikan dengan tuntutan zaman.

Jadi kita harus juga tingkatkan, yang mungkin kemarin ada mata kuliah yang tidak ada, sekarang kita adakan. Misalnya praja kita juga harus bisa menguasai bahasa asing yang kita fasilitasi dengan adanya laboratorium bahasa. Misalnya dia yang jurusan keuangan daerah, itu kita buatkan laboratorium yang bisa menyusun mulai dari RPJMD, RKPD, KUA, PPS sampai RAPD.

RAPD pun mereka harus bisa membuat prioritas daerah dan tentunya potensi kemampuan daerah. Kemudian harus juga memahami terkait dengan indikator makro ekonomi, dan khususnya juga mereka harus bisa menghitung kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, karena itu terapan kalau hanya dikasih teori ilmu pemerintahan itu nanti tidak siap pakai, padahal sekarang ini yang dibutuhkan adalah yang bisa menghitung atau menganalisanya dengan angka dan data. Misalnya tentang ilmu kependudukan, mereka juga harus bisa menghitung bagaimana prediksi pertumbuhan penduduk, bagaimana IPM-nya, bagaimana penyebarannya dan kemudian juga bagaimana tingkat kesehatannya masyarakat sehingga seorang praja ini yang sesuai bidang ilmunya mereka memahami, pemikirannya cepat dan dia tentunya mempunyai talenta-talenta yang dibutuhkan.

Sehingga memang itulah yang utama, maka kita izinkan praja boleh mengakses perangkat teknologi, seperti smartphone, komputer, lap top namun secara bertanggung jawab tinggi. Ini pergeseran mindset yang harus kita responsif dan adaptif terhadap perubahan.

Dan dengan adanya pandemi ini kita bersyukur yang tadinya tidak pernah kuliah daring sekarang kita kuliah daring, menggunakan IT, orangnya yang biasanya nggak bisa buka sekarang harus bisa buka, bisa memainkan dan terbiasa serta bisa menguasainya. Nah itu juga peluang sebenarnya. Di tengah kita terkena bencana kesehatan, namun di satu sisi kita ada hikmahnya dan bisa memanfaatkan dan itu untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pembelajaran. Iya toh?

Adakah siswa praja bisa membuat aplikasi?

Oh iya, sekarang di tingkat desa atau kelurahan saja kita lakukan terjun ke akar rumput (masyarakat-red) namanya Bakti Karya Praja dan Kukerta (Kuliah Kerja Nyata). Sekarang itu kita lebih utamakan adalah memberikan masukan dan penyelesaian termasuk pemberian aplikasi bagaimana suatu desa bisa menyusun monografi, bagaimana suatu desa itu di dalam pengaturan pembuatan APBDes. Kemudian juga kecamatan terkait dengan pelayanan satu atap, itu aplikasi, kita memang harus tanggap, cepat dan responsif terhadap perubahan dan dinamika di masyarakat.

Termasuk misalnya budidaya ikan itu, bagaimana mengembangkan ikan dengan teknologi yang bisa dimonitor dengan hanya sebuah aplikasi. Itu pembelajaran ekstrakulernya ada dari disiplin ilmu pertanian, ada perkebunan, ada peternakan dan sebagainya.

Alumni IPDN disiapkan jadi SDM yang multitalent?

Ya sesuai dengan bidang keilmuan. Kita bukan pengin nomor satu, karena pemerintah daerah itu tidak hanya membutuhkan lulusan IPDN juga yang memiliki kemampuan bidang keilmuannya yang sudah ada. Tapi karena mereka menguasai bidang ilmu pemerintahan, kepamongan, maka mereka minimal harus bisa memberikan alternatif solusi. Misalnya saja, sekarang, bagaimana melihat situasi apakah ini termasuk KLB, kejadian luar biasa atau tidak, itu orang pemerintah yang menentukan.

Terus tentang kejadian bencana, kita bukan mau masuk ke arah bencana, tapi kita harus bisa memprediksikan atau mengantisipasi, melakukan mitigasi bencana dan sebagainya sehingga dia harus cepat dan tanggap. Sehingga dengan demikian mampu memberikan kontribusi nyata pada pemerintah daerah.

Karena apa? Karena kalau nanti dia menjadi camat itu kan jadi pejabat tertinggi di wilayah kecamatan. Otomatis di bawahnya, bisa ada dokter, perawat, ada anggota Babinsa, anggota Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat atau tokoh adat.

Kalau dia tidak bisa lintas sektor, tidak bisa berkomunikasi dan berkoordinasi, itu kan akhirnya akan menghambat kerja-kerja melayani rakyat.

Anda happy menjadi Rektor atau Sekjen Kemendagri?

Saya di sini ini karena amanah dan penugasan dari Pak Mendagri, otomatis saya harus bisa mempertanggungjawabkan dan membuat legacy yang lebih maju. Karena apa? Pak Menteri percaya saya, itu hal yang sangat luar biasa.

Oleh karena itu saya dipesankan untuk memajukan praja menjadi seorang pemimpin yang multitalenta, seorang pemimpin yang mampu menyikapi suatu perubahan. Otomatis karena kalau saya ada tugas begini kan masa tugas saya sudah selesai, namun dengan di sini sampai mengajar, punya murid kan ngajar.

Lha otomatis kita merasa enjoy meskipun kita melihat dan akui ketertinggalannya juga masih banyak, namun dengan kerjasama seluruh pejabat struktural, pejabat pelaksana akademis, dosen, itu setapak demi setapak kita upayakan dan hasilnya nyata satu tahun mengubah kurikulum, renstra, rencana aksi, menata kembali dan mengklasifikasikan penulisan, karya ilmiah, itu juga kita batasi.

Misalnya D4 itu tidak boleh hanya menulis satu kecamatan, dia harus menulis tingkat kabupaten dengan locus antar-kecamatan. Kalau kita masuk pada S1 atau S2 itu penulisan harus ranah provinsi atau lintas-kabupaten. Kalau S3 berarti nasional lintas-provinsi. Lha ini kan peningkatan suatu kualitas. Jangan sampai seorang doktor menulis satu kecamatan, formalitas aja itu kan tidak pas.

Lalu dosen juga harus mau terbuka sesuai dengan kompetensi dan bidang keilmuannya. Praja mau pilih pembimbing saja namun dibatasi sehingga bisa menentukan sesuai bidang keilmuan. Jadi ini keterbukaan.

Adakah kerjasama dengan institusi lain?

Iya ada dengan berbagai lembaga termasuk universitas vokasi yang terapan. Namun yang kita utamakan sekarang ini kita punya laboratorium berstandar internasional, artinya bahasa Inggris dan komputer, sehingga begitu dia lulus laboratorium komputer itu, mereka mempunyai sertifikat yang tidak diterbitkan oleh IPDN, tapi diterbitkan oleh lembaga sertifikasi (dalam hal ini British Council), sehingga mereka akan saleable.

Kita angkat ini kalau lulus bahasa Inggrisnya bagus, otomatis kalau mau ke luar negeri juga bisa. Ini sudah tepat karena standarnya internasional.

Ada pengakuan internasional tentunya ya?

Kalau hanya punya sertifikat kan ora iso opo-opo (tidak bisa apa-apa), hanya formalitas saja. Itu kalau IPDN. Makanya laboratorium bahasanya dikembangkan oleh UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dengan LPDP. Yang komputer dengan ITB, yang meluluskan mereka, dan yang memberi sertifikat mereka, bukan kita.

Mahasiswa ini bisa diikutsertakan di sana?

 Iya merekanya (instrukturnya yang) ke sini.

Apakah program ini baru dilaksanakan sekarang?

Iya baru saya, dulunya belum ada hehe..

Sekarang angkatan ke berapa?

Sekarang angkatan pertama, ada 56 di laboratorium atas. Jadi kalau nanti test IELTS (The International English Language Testing System), kalau Bahasa Inggris-kan TOEFL, namanya IELTS, itu nanti dari ijazahnya (dari) British Council.

Jadi kalau ke luar dari situ berarti sudah diakui secara internasional. Kita jadi menuju smart campus. Ini menuju Tim IT. Ketuanya yang kompeten dan kapabel. IT dari professional nanti kita jadikan TA, nanti kita bikin data base, bikin seluruh aplikasi bisa naik pangkat, itu sudah semuanya.

Jadi kita mengarah ke sana yang dulunya belum pernah ada smart campus dan sebagainya. Sementara ini kita bulan Juni ini kita harus sudah jalan semua.

Pembelajaran Laboratorium Bahasa ini berapa lama?

Dari 1 Maret sampai 7 April 2021. Habis itu langsung test ILETS kerjasama dengan British Council dan LPDP. Nah yang lulus test IELTS situ yang boleh ikut test LPDP. Test LPDP itu untuk memperoleh beasiswa pendidikan lanjutan ke luar negeri. 

Artinya beasiswa itu kalau sudah selesai?

Iya. Setelah selesai mereka langsung. Ini sudah dihitung. April sudah selesai, kira-kira Mei nanti mereka test LPDP, lulus Juli maka mereka dilantik oleh Pak Presiden direncanakan sekitar Agustus. Artinya Agustus itu dia sudah lulus sebagai sarjana.

Targetnya apa?

Jangankan test, untuk masuk ke laboratorium yang itu saja dikelas 4 itu sudah 17.000 orang lebih. Ternyata yang memenuhi syarat TOEFL-nya hanya 56 minimal 600, nah 600 ini masih akan diuji lagi kalau peserta testnya banyak, 1534.

Kalau kita masuk 20 itu udah alhamdulillah, setelah selesai kita latih yang masuk kelas 3 baru, kelas 4 baru, karena tadinya nggak ada.

Ini sifanya berlanjut terus?

Iya. Ini berlangsung di laboratorium atas di Kampus Jatinangor.

Dukungan sarana dan prasarananya begaimana?

Kalau dukungan sarana kita sudah siap 140 (komputer). Karena ada 140 komputer di sana. Karena kemarin refocussing dan lain-lain, kita kekuatannya hanya 50, kita anggarannya tersedot pandemi jadi dipotong-potong. Tapi kita tidak menyerah. Kita tetap kembangkan kerjasama dengan ini-itu sehingga kita dapat bantuan komputer baru dan lain-lain.

Kalau kita mengandalkan anggaran ini saja akan cepat habis buat makan dan seragam praja saja. Mereka ini makan dan seragamnya sudah semua (all in). Yang dipotong itu anggaran kita.

Berarti nggak salah Anda merekrut orang-orang terbaik di sekeliling Rektor?

Makanya saya ajak ke sini supaya jadi semua sesuai target dan misi menjadikan smart campus. Kalau nggak jadi tak balikin ke Jawa Tengah semua, gitu loh he-he...***

Editor : Markon Piliang