logo

Art Policing: Pemolisian Dengan Pendekatan Seni Budaya

Art Policing: Pemolisian Dengan Pendekatan Seni Budaya

21 Maret 2021 14:47 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Chrysnanda Dwi Laksana*

Polisi sebagai petugas, sebagai fungsi dan sebagai  institusi, tugas pokoknya adalah untuk " nguwongke". Mengangkat harkat dan martabat manusia. Meningkatnya kualitas hidup masyarakat dengan terjaminnya keamanan dan rasa aman. Selain itu juga dapat ditumbuhkembangkan produktifitas dan teratasinya hal hal yg kontraproduktif.

Bangsa Indonesia dalam masyarakat yang majemuk potensi konfliknya besar. Para bapak bangsa sadar akan hal itu maka pada konstitusi atau UUD dituliskan suatu kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi kewajiban kita semua. Pengalaman dijajah karena bangsa kita mudah dikoyak dan diadu domba
Namun seringkali upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara justru yang diabaikan bahkan jarang atau rata2 tidak dilakukan. Tatkala anak2  bangsa  mudah diadu domba, mudah dibodoh2i logika daya nalarnya akan menguap.

Apalagi kalau sudah dikemas dlm primordial. Maka jiwa " balung kerenya" muncul. Antar saudara antar sesama bs saling serang saling melabel buruk dengan bangganya menunjukkan puncaknya yaitu kebencian. Tatkala sudah menjadi kebencian makan menunggu ada pemantiknya saja untuk meledak. Setelah hancur2an baru menyesal" getun tibo mburi". Ini semua kontra produktif bahkan menimbulkan kerusakkan sosial.

Konflik berkepanjangan menunjukkan ketidak cerdasan. Semua dimulai dari pembiaran, sikap masa bodoh atau permisive atas berbagai pelanggaran. Di sinilah polisi bertugas untuk menjaga kehidupan, membangun peradaban sekaligus berjuang untuk kemanusiaan.
Polisi menjaga kehidupan maknanya adalah bagaimana agar terwujud keamanan dan rasa aman. Agar premanisme tdk tumbuh dan berkembang. Mengapa demikian? Karena suatu masyarakat untuk dpt bertahan hidup tumbuh dan berkembang memerlukan adanya energi yg dihasilkan dari produktifitas.

Dalam proses produktifitas tsb ada ancaman hambatan gangguan yg kintra produktif. Misalnya adanya premanisme atau konflik sosial. Palak memalak. Atau suap dan saling backing yg ilegal dsb.
Polisi membangun peradaban di sini ditunjukkan bahwa polisi sbg penegak hukum dan keadilan yg bertugas untuk menyadarkan, membangun budaya tertib dan adanya keteraturan sosial.

Di sini hukum sebagai simbol peradaban. Maknanya bahwa polisi di dalam mengakkan hukum juga sbg penegak keadilan. Ini menunjukkan hukum bagi manusia bukan sebaliknya.
Polisi sbg pejuang kemanusiaan ini ditunjukkan dalam upaya upaya " nguwongke" atau mengangkat harkat dan martabat manusia.

Upaya upaya menjamin keamanan dan rasa aman dan adanya keteraturan sosial
Apa yg dilakukan dlm pemolisian yg bersifat preemtif preventif maupun represif scr konvensional, scr elektronik dlm pelayanan virtual maupun scr forensik semua bertujuan bagi hidup kehidupan dan peradaban manusia.

Sejalan dengan hal tsb maka pemolisian dg berbagai variasi dan jenisnya pendekatannya dpt diklakukan melalui pendekatan seni budaya atau art policing.
"Art itu smart ". Maknanya bahwa seni adalah salah satu cara mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Seni ini humanisme atau demi kemanusiaan. Seni merupakan ice break kehidupan sosial yg rumit kompleks. Seni juga jembatan hati bagi masyarakat.

Seni dpt melalui gerak, nada, suara, kata, rupa yg dikemas dalam pertunjukan seni atau performance art. Ruang 2 bagi festival seni menjadi penting untuk mengasah hati dan intellegent. Mengapa bukan hanya knoledge dalam membangun kecerdasan.

Albert Einstein mengingatkan :" the sign of inttelegent is no knoledge but imagination". Imajinasi ini adalah pilar seni. Berkesenian bukan hafalan melainkan berimajinasi. Imajinasi ini simbol dari kecerdasan.
Jd apa yg dilakukan dan diperjuangkan dalam   pemolisian walaupun kecil itu bagian menyadarkan dan mencerdaskan. Tatkala polisi dalam mengimolementasikan art policing maka akan mengedepankan hati nurani, dialog dan saling mendukungbsatu sama lain tentu juga bertahap akan mampu mengatasi berbagai konflik dan potensi konflik sosial yg kontra produktif dan merusak keteraturan sosial.

Melalui art policing polisi tidak hanya memiliki soft power tetspi juga smart power dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial, walaupun bagai ngudari benang ruwet yg kecemplung ter.

Jakarta 21 maret 2021

*Brigjen Pol Chrysnanda Dwi Laksana PhD, Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri.

Editor : Markon Piliang