logo

Suksesi & Konflik

Suksesi & Konflik

22 Maret 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Teoritis Manajemen Sumber Daya Manusia  (MSDM) menjelaskan bahwa suksesi dapat memicu konflik, begitu juga sebaliknya bahwa konflik sering juga menyertai terjadinya suksesi, baik di perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, drama konflik yang terjadi di Partai Demokrat kali ini sejatinya merupakan bagian dari praktek manajemen konflik seperti yang dijelaskan dalam teoritis MSDM.

Secara konseptual manajemen konflik itu sendiri membutuhkan strategi pendekatan yang sangat berbeda karena kasus per kasus yang terjadi juga bermuara dari persoalan yang berbeda. Oleh karena itu benchmarking dari strategi penyelesaian konflik cenderung berbeda dan dipastikan bersifat unik. Jadi, penyelesaian dari manajemen konflik yang saat ini disuguhkan Partai Demokrat pastinya akan bisa diselesaikan dengan cara yang unik dan tentu berbeda dengan penyelesaian di kasus manajemen konflik yang pernah terjadi di partai yang lain.

Belajar bijak dari manajemen konflik parpol yang terjadi di republic ini tentu memberi gambaran tentang bagaimana seni mengelola konflik dan juga pendekatan strategisnya. Publik tentu masih ingat betapa konflik di parpol yang terjadi di republik ini tidak bisa terlepas dari kepentingan penguasaan tampuk kursi kekuasaan. Sejarah kelam dari PDI di era Soerjadi yang berseteru dengan Megawati melalui peristiwa monumental akronim Kudatuli atau Kerusuhan 27 Juli 1996 pada Sabtu kelabu ketika menyerang markas PDI Jl. Diponegoro 58 Jakarta Pusat (waktu itu dikuasai kubu Megawati) akhirnya memecah PDI menjadi 2 yaitu PDI di kubu Soerjadi dan PDI di kubu Megawati. Kepemimpinan Soerjadi terkait dengan hasil kongres PDI di Medan.

Muncul sejumlah argumen di balik strategi besar pemenangan di pilpres 2024. Meski kalkulasinya masih samar namun waktu cepat berlalu untuk segera menuju 2024 dan pertarungan pilpres pasti akan seru karena Jokowi sudah tidak dapat maju kembali karena sudah 2 periode. Di sisi lain, wajah-wajah muda sepertinya sangat berpotensi untuk maju bertarung di pilpres 2024 dan salah satunya kandidat yang dapat berpeluang maju adalah AHY lewat koalisi dengan Partai Demokrat. Bahkan, wacana 3 periode jabatan Presiden juga mencuat berkaitan dengan persaingan menuju RI 1.

Kisah kelam kudatuli juga menyiratkan adanya kemauan orde baru untuk menggembosi PDI yang memiliki basis massa cukup besar sehingga bisa menjadi rival terberat untuk melanggengkan kekuasaan orde baru. Oleh karena itu, terjadilah Kongres PDI tanggal 20-23 Juli 1996 di Medan yang akhirnya menempatkan Soerjadi sebagai Ketua PDI. Di sisi lain kepemimpinan Megawati atas PDI sebagai hasil dari Munas 22 Desember 1993 di Kemang Jakarta Selatan juga memperebutkan klaim kepengurusan yang sah dan juga berhak atas gedung DPP PDI. Yang justru menjadi pertanyaan ketika kudatuli akhirnya melahirkan PDI-P, maka apakah Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara juga akan melahirkan Partai Demokrat Perjuangan?

Banyak kalkulasi beredar dan banyak juga argumen skenario dibalik konflik yang saat ini sedang dipertontonkan Partai Demokrat. Saling klaim juga muncul di media baik itu dari kubu AHY dan juga dari Moeldoko. Di satu sisi AHY menegaskan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang sah, begitu juga Moeldoko yang menjabat sebagai Kepala Kantor Staf Presiden Jokowi. Presiden Jokowi menegaskan yang terjadi dengan konflik di Partai Demokrat adalah konflik internal dan pemerintah tidak campur tangan. Fakta lain yang menarik di tengah konflik juga muncul wacana 3 periode kekuasaan Presiden.

Terlepas dari ragam skenario, argumen dan hipotesis dibalik konflik Partai Demokrat dengan kehadiran KLB yang akhirnya memunculkan Moeldoko sebagai Ketum, maka sejarah kudatuli tetap harus dicermati.  Argumen yang mendasari yaitu munculnya juga kemungkinan karma di balik kasus ini dengan rentetan kejadian kudatuli. Jika ini benar maka dendam membara konflik di PDI ternyata masih membara dan karma itu ternyata  benar adanya.

Semoga konflik Partai Demokrat bisa cepat selesai dengan penyelesaian manajemen strategi yang cerdas, bukan justru kembali menanam dendam membara bagi partai lain dikemudian hari dengan target pemenangan kekuasaan di pilpres. Terkait hal ini maka konflik di Partai Demokrat tidak saja akan memperkaya teoritis MSDM tetapi juga realitas konflik kepartaian yang terjadi di republik ini. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo