logo

Patut Ditiru, Obyek Wisata Guci Terapkan Pembayaran Non Tunai

 Patut Ditiru, Obyek Wisata Guci Terapkan Pembayaran Non Tunai

Foto: Istimewa
16 Maret 2021 15:47 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - SEMARANG: Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jateng, resmi menerapkan pembayaran non tunai bagi wisatawan. Hal itu ditandai dengan peluncuran program pembayaran non tunai oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo secara virtual, Senin (15/3/2021).

Bekerjasama dengan Bank Indonesia, Guci menggunakan aplikasi Quick Response Code Indonesia (QRIS) untuk mendukung program pembayaran non tunainya. Usai diresmikan, Ganjar mencoba penerapan pembayaran non tunai dengan berpura-pura sebagai pengunjung dan melakukan transaksi menggunakan gawainya.

"Sudah berhasil. Gubernur datang lima orang dengan total biaya Rp51.000," kata Bupati Tegal, Umi Azizah, yang hadir dalam peluncuran seraya menunjukkan struk pembayaran tiket dari Gubernur.

Ganjar sendiri sangat mengapresiasi penerapan pembayaran non tunai di obyek wisata Guci. Ia bahkan meminta semua destinasi wisata di Jawa Tengah melakukan hal yang sama.

"Menarik, karena BI punya aplikasi QRIS yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran non tunai. Saya mendorong agar di tempat-tempat wisata, tempat belanja, rumah makan dan lainnya di Jateng juga menerapkannya," kata Ganjar.

Penerapan pembayaran non tunai di tempat-tempat wisata, lanjut Ganjar, merupakan langkah tepat untuk mewujudkan adaptasi kebiasaan baru selama pandemi Covid-19. Dengan sistem chasless tersebut, maka akan mengurangi sentuhan langsung dan mengurangi resiko penularan.

"Dengan chasless payment, kita tidak bersentuhan langsung dan tidak perlu pegang-pegang uang. Cukup menggunakan aplikasi dan hanya ditempelkan saja. Betul-betul contactless dan ini sangat aman untuk kita menghindari potensi penularan karena sentuhan langsung," terangnya.

Selain itu, penggunaan sistem pembayaran non tunai juga bisa mengurangi potensi kecurangan atau korupsi. Mekanisme non tunai yang langsung ditransfer antara bank to bank membuat potensi penyalahgunaan keuangan bisa dihindari.

"Jadi integritas bisa dijaga, karena uangnya akan terdeteksi dengan lengkap. Ini bisa mencegah korupsi," tegasnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebut manfaat lain dari penggunaan sistem non tunai. Diantaranya membuat masyarakat lebih aman karena tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar saat berwisata.

Lebih dari itu, dengan mekanisme non tunai ada data yang terhimpun. Data yang masuk itu bisa digunakan untuk memotret perilaku konsumen saat berwisata dan bisa digunakan sebagai pisau analisis.

"Dia datang berapa orang, beli apa saja, tujuannya kemana kan bisa dikumpulkan. Data itu bisa menjadi alat untuk melakukan analisis untuk pengembangan destinasi wisata. Tak hanya destinasi wisata, kalau ini dilakukan di hotel, restoran, tempat belanja dan lainnya di Jateng, maka akan menarik. Saya tentu mendukung," tutupnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Pribadi Santoso, mengatakan BI terus mendorong sistem pembayaran elektronik pada seluruh lapisan masyarakat. Harapannya, dengan masifnya pembayaran non tunai tersebut khususnya selama pandemi, akan mengurangi potensi penularan Covid-19 dari sentuhan langsung dan dari uang tunai.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto