logo

Golkar Harus Cerdas Merespon  Kebutuhan-Kepentingan Bangsa 2024: Usung Capres Airlangga

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar DR. (HC) Drs. H. A. M. Nurdin Halid

Golkar Harus Cerdas Merespon Kebutuhan-Kepentingan Bangsa 2024: Usung Capres Airlangga

15 Maret 2021 23:54 WIB

SuaraKarya.id - JAKARTA: Hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar di Gedung DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, 5-6 Maret 2021 lalu menegaskan kebulatan tekad Partai Golkar untuk menjadi pemimpin koalisi besar pada Pemilu 2024 sekaligus menjadikan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (AH) sebagai Capres pada Pemilu Presiden 2024 mendatang.

Untuk mengetahui bagaimana strategi dan kesiapan Partai Golkar dalam menghadapi pesta demokrasi tersebut, Jurnalis Senior Suarakarya.id: Ag. Sofyan berkesempatan mewawancarai Politisi Senior Golkar yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar DR. (HC) Drs. H. A. M. Nurdin Halid (NH)  di kantornya Graha NH, Pancoran, Jakarta terkait hasil Rapimnas dan langkah-langkah taktis untuk bisa mengkapitalisasi dukungan AH dari partai lain bahwa figur tersebut menjadi kebutuhan bangsa untuk Indonesia ke depan paska berakhirnya dua periode kepemimpinan Joko Widodo selaku Presiden RI. Berikut petikannya:

Partai Golkar bertekad menjadi pemimpin koalisi besar pada Pemilu 2024, bagaimana Anda melihat konstelasi politiknya?

Rapimnas kemarin mengeluarkan keputusan yang luar biasa strategis karena percepatan konsolidasi organisasi itu sudah terurai dengan sangat baik, kemudian langkah-langkah konsolidasi organisasi itu sudah dilakukan untuk menjadi organisasi modern, untuk menjadi pemimpin koalisi besar dan tinggal diimplentasikan oleh DPD-DPD I dan DPD-DPD II Golkar. Insya Allah target konsolidasi organisasi kita tahun 2021 selesai.

Dengan konsolidasi organisasi itulah maka kita bisa memenangkan Pileg (Pemilu Legislatif), Pilpres (Pemilu Presiden) dan kemungkinan juga Pilkada (Pemilu Kepala Daerah) tahun 2024.

Nah, ketika Ketua Umum berbicara bahwa Golkar akan menjadi pemimpin koalisi besar, itu jelas alasannya karena Golkar ini kan pemenang nomor dua, dengan perolehan suara sebesar 12 persen itu adalah angka yang cukup signifikan.

Oleh karena itu, Golkar memang tepat untuk menempatkan diri sebagai pemimpin koalisi besar ini adalah hal faktual dan realistis. Artinya punya dasar yang kuat karena kita pemenang nomor dua. Kalau nanti mau mencalonkan Presiden kan hanya cukup dengan tambahan satu partai, yakni Golkar dan koalisinya.

Tapi kita tentu berharap tidak hanya satu partai melainkan dengan beberapa partai. Dengan demikian koalisi besar ini di samping menjamin sistem presidential juga ada keseimbangan dengan legislatif. Ada check and balances dalam sistem politik yang sehat dan demokratis sehingga roda pemerintahan ke depan dapat berjalan lebih baik yang berkualitas untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Itu sebetulnya keinginan Golkar untuk menjadi pemimpin koalisi besar dan bukan untuk sok-sokan, bukan hanya untuk kekuasaan, tetapi kekuasaan untuk rakyat.

Ketika berbicara mengenai kekuasaan untuk rakyat maka harus ada keseimbangan antara pihak eksekutif dan legislatif. Ketika Golkar bisa menjadi pemimpin koalisi besar, kemudian mudah-mudahan dan Insya Allah, Ketua Umum kita berhasil menjadi Presiden, maka roda pemerintahan akan berjalan dengan baik.

Berarti Pak Airlangga itu sudah berpikir jauh ke dapan. Berpikirnya bukan hanya ada ambisi untuk menjadi Presiden, hanya untuk kekuasaan, tetapi bagaimana pemerintahan ini dapat berjalan dengan baik dengan adanya keseimbangan antara eksekutif dan legislatif. Beliau punya visi besar bagi Indonesia. Itu loncatan besar yang dilakukan Golkar.

Dalam Rapimnas kemarin hampir semua DPD menyuarakan pencapresan AH pada Pilpres 2024 mendatang, apa tidak terlalu pagi dan tergesa-gesa? Bukankah nanti malah digebuki oleh partai-partai lain?

Justru menurut saya terlambat, harusnya di Munas kemarin sudah diputuskan pencapresan Pak Airlangga. Kenapa? Karena tahun 2024 itu tidak ada incumbent lagi. Pak Presiden kita sekarang ini kan sudah selesai sebagai Kepala Negara dua periode. Artinya, ini kan medannya sangat luas. Berarti kita ingin mencari ikan di laut lepas. Kalau kita hendak mencari ikan di laut lepas, maka mesti kan dipersiapkan kapalnya yang besar dan modern, alat pancing yang canggih, logistik yang kuat, itu tidak bisa nanti di ujung semata. Jadi menurut saya malah terlambat ini.

Tapi sekali pun demikian ini sudah merupakan keputusan yang menurut saya sangat strategis, sehingga nanti kita tidak perlu sembunyi-sembunyi. Golkar itu sudah melakukan  survei calon sejak awal, kita sampaikan ke rakyat bahwa Golkar itu punya program. Punya program untuk menjadikan partai politik sebagai pilar demokrasi.

Golkar yang modern, yang ingin mencetak kader-kader yang mumpuni, punya idealisme, punya gagasan, punya karakter, dengan melalui pembinaan di Golkar Institute.

Nah, ini kan loncatan berpikir yang luar biasa. Inilah yang menjadi jualan kita kepada rakyat Indonesia, di samping berbagai program yang berkaitan dengan karya kekaryaan. Karena Golkar ini modal utamanya karya kekaryaan, kerakyatan yang manusiawi.

Energi positif ini harus segera disampaikan kepada rakyat sehingga rakyat bisa menilai oh ini to Airlangga sebagai sosok yang dibutuhkan oleh Indonesia dan untuk masa depan bangsa ini. Apalagi beliau menyumbangkan achievement digitalisasi, sebuah tuntunan modern dengan revolusi 4.0 yang harus kita laksanakan dari sekarang.

Dan itu adalah salah satu program primadona Pak Airlangga dan juga Pak Presiden Jokowi untuk mengelola bangsa ini dengan meninggalkan cara-cara yang biasa, tidak terjebak rutinitas. Tetapi kecepatan yang menjadi kampium.

Jadi, menurut saya, pendapat orang, Golkar terlalu cepat memutuskan, ini tidak terlalu cepat. Butuh sosialisasi yang lebih dini dan massif. Persoalan nanti hasilnya apa, itu soal lain.

Indonesia ini yang namanya calon pemimpin, cepat atau lambat, lambat atau cepat sama saja. Lebih baik dari sekarang, sehingga rakyat ada waktu cukup untuk menilai, daripada dihantam di ujung jadi tidak ada waktu untuk mempertahankan. Itu kalau saya. Pandangan Nurdin Halid.

Dan Golkar sekarang sudah bagus, sudah punya calon terbaik, jadi rakyat tidak harus “beli kucing dalam karung”.

Bagaimana untuk meyakinkan para anggota koalisi bahwa Golkar adalah pemimpin koalisi besar? Dalam politik itu kan tidak ada teman yang abadi, dan tidak ada musuh yang abadi. Yang ada adalah kepentingan. Nah, kepentingan ini kepentingan apa? Kepentingan bangsa dan kebutuhan bangsa. Kepentingan bangsa dan kebutuhan bangsa inilah yang harus kita jual ke partai lain. Bila ada kepentingan bangsa yang sama, kebutuhan bangsa yang sama, maka mereka mau bersama-sama Golkar.

Jadi kita di sini bukan bicara kepentingan partai atau kepentingan pribadi, tetapi kepentingan bangsa dan kebutuhan bangsa. Dengan adanya kepentingan bangsa dan kebutuhan bangsa yang sama pasti nyatu dengan Golkar.

Tantangan Pak Airlangga saat ini sangat berat sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), kalau tidak berhasil bukannya akan jadi bumerang buat Golkar?

Saya melihatnya begini, menjaga kesehatan (rakyat) itu adalah sebuah kewajiban tetapi pada waktu yang sama harus ada aktivitas untuk memulihkan ekonomi itu memang tidak mudah. Alhamdulillah, sejauh ini Pak Airlangga bisa merangkai program yang bisa disetujui oleh Presiden yang berkaitan dengan hal ini, sehingga menjaga kesehatan pada satu sisi dan di sisi lain memulihkan ekonomi itu bisa terjadi. Sehingga kita bisa melihat tanda-tanda ekonomi pulih itu sudah kelihatan kan. Kita tidak terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, kita tidak melihat ada rakyat yang tidak bisa makan, pengangguran ada di mana-mana, kita tidak melihat itu.

Ini semua adalah keberhasilan dari Bapak Presiden kita melalui program-program yang dicanangkan oleh Menko Perekonomian sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Ini kan fakta. Kalau semua rakyat disiplin melaksanakan program pemerintah ini maka pasti (Indonesia) akan berhasil (mengatasi Covid-19 dan krisis ekonomi).

Kalau ini berhasil bukan hanya keberhasilan Pak Airlangga sendiri, tetapi keberhasilan Presiden kita dalam memenej negeri ini melalui Menko Perekonomian. Artinya keberhasilan ini merupakan keberhasilan Pemerintah beserta seluruh jajarannya. Jadi ini keberhasilan bersama.

Tentu rakyat akan menilai, siapa di sini yang mengkoordinir? Namanya Pak Airlangga yang membuat Indonesia bisa keluar dari krisis baik kesehatan maupun krisis ekonomi.

Dengan demikian saya percaya rakyat akan bersimpati dan berempati kepada sosok yang berkontribusi besar penanganan pagebluk ini sehingga rakyat akan mencintai dan akan memilih Pak Airlangga.

Saya berkeyakinan dilihat rakyat, beliau memiliki kepemimpinan yang cool, berkarakter dan yang lebih penting lagi adalah pemimpin yang humanis.

Coba kita lihat saja, beliau tidak grusa-grusu, jarang muncul di televisi tetapi beliau kerja-kerja dan kerja. Dan hasilnya kelihatan. Sederhana saja kalau kita obyektif, ada enggak pengangguran di mana-mana? Nggak ada rakyat susah makan akibat Covid? Ada nggak krisis kesehatan yang luar biasa seperti ini? Kan nggak ada. Itu karena rangkaian program (Pemerintah) yang bisa dilaksanakan secara tertib, konsisten dan disiplin.

Dan RI-1 merasa happy dan sangat terbantu di periode keduanya ya?

Iya, dan saya kira apa yang membuat keberhasilan ini adalah keberhasilan Presiden, dan pelaksananya adalah Menko Perekonomian.

Bagaimana kalau pesaing kita katakanlah PDI Perjuangan tidak menginginkan kader non-partai mereka menjadi calon Presiden?

Kembali lagi ke yang tadi kita samakan persepsi dulu, bahwa ada kepentingan yang sama dan ada kebutuhan yang sama. Jadi kebutuhan bangsa dulu, bukan kebutuhan Partai Golkar.

Partai ini kan hanya pilar-pilar, kebutuhan bangsa ini harus disamakan dengan partai-partai yang mau bersama Golkar. Kalau sudah ada persepsi tentang apa sih yang menjadi kebutuhan bangsa ini untuk tahun 2024 ke depan, atau menghadapi 100 tahun Indonesia emas, Golkar itu sudah punya konsep tentang itu, tentang Negara Kesejahteraan. Negara Kesejahteraan ini merupakan kebutuhan bangsa.

Jadi hal inilah yang akan kita tawarkan ke partai-partai yang lain. Kalau persepsinya sudah sama, ada kepentingan bangsa, ada kebutuhan bangsa, inilah yang akan merekatkan dengan partai-partai lain sehingga mereka mau menyatu dengan Partai Golkar untuk (mendukung) Pak Airlangga. Kira-kira begitu.

Apa yang harus dilakukan oleh kader-kader di akar rumput untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai Negara Kesejahteraan tersebut?

Yang pertama sosialisasi, jaringan instrumen partai harus menjadi instrumen pemenangan, baik (pemenangan) Golkar maupun (pemenangan) Pak Airlangga. Setelah sosialisasi ini, di waktu yang sama sembari kita melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh secara simultan sampai ke bawah di tingkat desa/kelurahan, bahkan kita rencanakan sampai TPS-TPS. Itulah kemudian ada Karakterdes, sembari melakukan konsolidasi itu juga kenapa kita harus mensosialisasikan calon Presiden.

Atau kenapa Golkar memiliki calon Presiden, itu harus kita sampaikan. Karena Golkar dengan idealismenya, atau jati dirinya yakni karya kekaryaan, memang untuk kepentingan rakyat. Golkar memiliki konsep negara Indonesia sejahtera. Bagaimana untuk mensejahterakannya sudah terangkai dalam program Golkar. Itu dulu.

Kalau kita sudah bisa meyakinkan kader maka kita akan punya kader yang militan untuk memenangkan Pak Airlangga. Tidak bisa kita hanya dengan retorika, tidak bisa. Dan itu sudah terurai dengan sangat baik dalam konsep Negara Kesejahteraan. Dan itu adalah andalan Partai Golkar.

Perlu langkah konkret untuk mewujudkan konsep Negara Kesejahteraan bagaimana?

Harus ditunjukkan fakta-fakta, antara lain bahwa di Pemerintahan itu begitu Pak Airlangga mendapat kepercayaan dari Presiden, dan ini tidak mudah memegang amanah ini. Apalagi beliau masih sangat muda, beliau dapat menjalankan tugas yang begitu berat di tengah-tengah masa pandemi.

Tapi alhamdulillah beliau sudah terlihat dapat melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, dan beliau mampu melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga yang lain, sehingga ada sinergitas yang luar biasa dan berjalan dengan baik.

Fakta-fakta ini harus ditunjukkan kepada para kader, dan harus di-announced karena ini bukan retorika tapi fakta.

Contoh sederhananya, adakah pengangguran yang bergelimpangan? Adakah rakyat yang di mana-mana tidak bisa makan? Adakah rakyat yang berguguran? Memang ada Covid, kemudian ada yang meninggal tapi masih jauh dari pada presentasi global. Ini prestasi. Ini sulit dan tidak mudah.

Ini lebih sulit dari pada krisis (ekonomi) tahun 1998. Krisis 1998 tidak susah bagi negara untuk menyelesaikan karena yang terpapar itu konglomerat. Kalau sekarang yang terpapar itu ekonomi kecil, ekonomi mikro, koperasi dan lainnya. Jadi lebih susah. Tetapi pelan-pelan Indonesia bisa bangkit lagi.

Nah, itu kan sebuah keberhasilan. Itulah yang bisa kita tunjukkan kepada kader-kader Golkar. Sehingga ada sugesti yang kuat bahwa inilah pemimpin Golkar yang menjadi pemimpin bangsa.

Tentang target vaksinasi bagaimana supaya dapat berjalan lebih cepat?

Sederhana saja, ketika Presiden sebagai orang pertama di negeri ini divaksin, jumlah orang yang terkena (Covid-19) masih di atas dua digit, antara 11-13 ribu. Tapi setelah Presiden dan tenaga Kesehatan divaksin, yang terkena Covid kan langsung menurun drastis, sudah hampir setengahnya.

Jelas menunjukkan bahwa vaksin sangat bermanfaat. Tidak sulit kita untuk menterjemaahkan itu. Sekarang saja DKI yang tadinya zona merah kan sudah turun. Dan pembatasan sosial hingga ke RT/RW itu merupakan satu terobosan agar Covid bisa tuntas dan pulang kandang he-he..

Sebagai kader senior, apa pesan Anda buat para kader Golkar?

Kekuatan Golkar itu terletak pada kadernya. Golkar tidak dimiliki oleh siapa-siapa. Berbeda dengan partai lain yang identik dengan orang. Kalau Golkar itu Tbk. Maka Ketua Umum Golkar dan seluruh jajaran harus paham itu. Maka di Golkar itu tidak boleh ada faksi-faksi. Di Golkar itu harus kompak dan solid karena dimiliki oleh seluruh kader.

Tidak ada tokoh yang bisa mengklaim bahwa Golkar ini punya saya. Atau misalnya partai lain, Gerindra identik dengan Pak Prabowo, Nasdem identik dengan Pak Surya Paloh, PDIP identik dengan Bu Mega, Demokrat identik dengan Pak SBY. Golkar enggak. Golkar ini selalu dinamis, tapi di balik dinamisasi itu jangan sampai mengarah pada perpecahan.

Oleh karena itu pemimpin Golkar, dari mulai Ketua Umum sampai ke seluruh jajarannya harus mampu mengakomodir seluruh kepentingan kader. Tidak boleh membeda-bedakan, khususnya dalam pelayanan apapun.

Maka sudah tepat salah satu ikrar daripada Pancabakti Partai Golkar adalah “kami warga Golongan Karya adalah pembina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak setiakawan.” Karena bagaimana kita mau mempersatukan Indonesia, bagaimana mau membina persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia kalau kader Golkar cakar-cakaran.

Itu yang harus dipahami oleh seluruh kader Golkar. Itu kritikan saya. Anda optimis soliditas dan kekompakan di Golkar masih bisa dijaga?. Kalau tidak dijaga berbahaya. Ini berkat kepemimpinan humanis dari Ketum kita Pak Airlangga Hartarto.***