logo

Musiman

Musiman

15 Maret 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi 

Sebulan lagi Ramadhan dan tentu berlanjut Lebaran sehingga ancaman inflasi musiman di dua bulan ke depan dipastikan akan kembali berulang. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut laju inflasi Pebruari sebesar 0,1% atau lebih rendah dari Januari yaitu 0,26%. Besaran inflasi kali ini dipicu lonjakan harga cabai yang mencapai Rp110.000 per kg.

Padahal, kemarin juga terjadi kenaikan harga kedelai sehingga pedagang tahu – tempe melakukan protes. Selain itu, sebelumnya juga terjadi protes oleh pedagang daging sapi karena harga naik drastis sehingga mereduksi konsumsinya. Terkait ini inflasi kalender Januari – Pebruari 2021 sebesar 0,36% dan inflasi inti Januari – Pebruari sebesar 0,25%.

Besaran inflasi di triwulan I 2021 dipengaruhi oleh pandemi yang terus berlarut entah sampai kapan dan di sisi lain realitas terjadinya bencana sejak akhir 2020 sampai triwulan I 2021 secara tidak langsung juga ikut andil terhadap distribusi dan produksi bahan pokok yang kemudian ini memicu inflasi.

Logika dibalik inflasi tidak bisa terlepas dari teoritis demand – supply sehingga ketika ada permintaan tinggi yang tidak ditutup oleh pasokan maka harga menjadi naik dan hal ini akhirnya memicu inflasi. Oleh karena itu, bencana yang ada di sejumlah daerah pasti berdampak sistemik terhadap kepastian produksi dan distribusi. Padahal, kepastian dari pasokan itu sendiri mengacu kuantitas dan kualitas.

Jadi, ketika kuantitasnya tidak dapat memenuhi pasokan maka akan terjadi ketidakseimbangan. Begitu juga jika kualitas dari produksi tidak maksimal atau kurang baik maka tentu juga berimbas terhadap kenaikan harga di pasaran. Mekanisme inilah yang seharusnya dicermati oleh pemerintah, terutama Kementerian Perdagangan untuk mewaspadai tiap lonjakan dan atau kondisi abnormal ketidakseimbangan yang ada di pasar.

Ketidakcermatan dalam prediksi juga bisa fatal terhadap kepastian pasokan bahan pokok karena rentan memicu spekulasi. Oleh karena itu, sidak di pergudangan menjadi penting agar tidak ada spekulan, apalagi penimbun terhadap sejumlah komoditas pangan – bahan pokok. Penimbunan

itu sendiri tentu melibatkan pedagang besar yang lebih dekat kepada rantai pasok. Artinya semakin panjang rantai pasok akan sangat rentan terhadap berbagai kemungkinan permainan (pasokan barang di pasar).

Terkait ini beralasan jika kemudian pemerintah bersama aparat berusaha memangkas rantai pasok agar tidak terlalu panjang. Meski demikian, persoalan memotong rantai pasok tidaklah semudah yang dibayangkan karena sejatinya banyak praktek yang mengarah kepada mafia bahan

pangan. Setidaknya sejumlah kasus menunjukan bahwa mafia perdagangan terhadap sejumlah bahan pangan di pasaran memang benar adanya. Keberadaanya tidak hanya menguasai pasokan tetapi juga mata rantai dari hulu ke hilir sehingga konsumen dirugikan karena harga tentu juga dikuasai oleh mereka yang akhirnya permainan harga menjadi sesuatu yang direkayasa.

Pemerintah memang tidak boleh lengah menghadapi ancaman inflasi musiman, apalagi sebulan lagi sudah ramadhan yang berlanjut lebaran. Situasi rutinitas tahunan ini pastilah berdampak terhadap ancaman inflasi musiman dan karenanya perlu melakukan sidak di sejumlah pasar

tradisional untuk memantau pergerakan harga sejumlah bahan pokok. Di satu sisi sidak bukanlah hanya melihat fluktuasi harga sejumlah bahan pokok, tetapi juga perlu mencermati ketidakseimbangan demand – supply untuk semua komoditi sehingga kepastian pasokannya dapat terjaga dan terdeteksi dengan baik. 

Hal ini penting karena salah satu faktor inflasi musiman lebih dipengaruhi psikologis konsumtif yang bersifat sesaat. Hal ini dapat dijelaskan dengan teoritis impulse buying. Padahal, impulse buying tidak lepas dari godaan peritel yang gencar melakukan promosi. Oleh karena itu, impulse buying rentan terhadap konsumerisme. Kekhawatiran impulse buying tidak bisa terlepas dari kehadiran bonus, insentif, THR, dan uang kaget lainnya yang hadir setiap lebaran. ***

• Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo