logo

Pejabat Kemensos Akui Terima Sepeda Mahal

Pejabat Kemensos Akui Terima Sepeda Mahal

Kemensos
08 Maret 2021 20:53 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Sosial (Kemensos) Hartono Laras dan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Pepen Nazaruddin mengakui, menerima sepeda merek Brompton yang harganya cukup mahal.

"Kami menerima sepeda Brompton pada Agustus 2020 dari sopirnya Adi," kata Hartono dalam sidang kasus suap dan korupsi bansos corona di tubuh Kemensos yang juga menjerat eks Mensos Juliari Batubara serta sejumlah pejabat Kemensos di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (8/3/2021).

Hartono bersaksi untuk dua terdakwa yaitu untuk Harry Van Sidabukke yang didakwa menyuap Juliari senilai Rp1,28 miliar dan Ardian Iskandar Maddanatja yang didakwa memberikan suap senilai Rp1,95 miliar terkait penunjukan perusahaan penyedia bansos sembako Covid-19.

Adi yang dimaksud adalah Adi Wahyono yang merupakan Kabiro Umum Sekretariat Jenderal Kemensos sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Satuan Kerja Kantor Pusat Kemensos tahun 2020 dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos sembako Covid-19. Adi dalam perkara ini juga ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.

"Saya tidak tahu harga sepedanya waktu itu diminta untuk dikembalikan ke KPK," kata Hartono.

"Ada keperluan apa saudara menerima itu?" tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Muhammad Nur Azis.

"Di bulan Agustus itu kita bersepeda," jawab Hartono.

"Ada tidak kaitan dengan jabatan saudara?" tanya jaksa Azis.

"Tidak," jawab Hartono.

"Tidak ada sepeda dari kantor?" tanya jaksa Azis lagi. "Tidak ada yang di kantor," ungkap Azis pula.

Hartono membantah menerima uang dari Adi. "Pernah mau kasih tapi saya tidak mau menerimanya," ungkap Hartono.

Saksi Dirjen Linjamsos Pepen Nazaruddin juga mengaku menerima sepeda merek Brompton dari Adi. "Terima sepeda Brompton) dari Pak Adi KPA," Pepen mengakui terus terang.

"Saudara pernah terima uang terkait bansos ini? Misalnya, uang Rp1 miliar" tanya jaksa Azis.

"Saya tolak," jawab Pepen.

Masih terkait dengan bansos sembako wilayah Jabodetabek 2020, penyidik KPK masih terus memanggil saksi-saksi. Dita dari pihak swasta, dan Muhajir Abdul Rahman selaku Komisaris CV Moun Cino dimintai keterangan. "Dia dipanggil sebagai saksi untuk tersangka JPB," ujar Plt Jubir KPK, Ali Fikri, Senin (8/3/2021).

Diduga pemberi suap yaitu Harry Van Sidabukke sebagai broker PT Pertani dan PT Mandala Hamonangan Sude (MHS) serta Ardian Iskandar Maddanatja selaku Direktur Utama (Dirut) PT Tigapilar Agro Utama (TAU) tengah menjalani persidangan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos, Hartono; Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Jaminan Sosial (LinJamsos) Kemensos, Pepen Nazaruddin telah memberi keterangan, Senin (8/3/2021).

JPU KPK menjadwalkan pula Sesditjen LinJamsos Kemensos, Mokhamad Ony Royani; Kasubagpeg Sesdirjen Linjamsos Kemensos, Rizki Maulana; dan Staf Subbag Tata Laksana Keuangan Bag Keuangan Sesdirjen Linjamsos Kemensos, Robbin Saputra, Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Kedua saksi terakhir  merupakan tersangka dalam perkara ini. Adi menjabat sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) yang ditunjuk oleh Juliari dalam proyek Bansos.  Sedangkan Matheus Joko adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). ***

Editor : Pudja Rukmana