logo

Optimistis Saat Pandemi, Najamudin Dan Mohan Mehra Produksi 'Geust Hause'

Optimistis Saat Pandemi, Najamudin Dan Mohan Mehra Produksi 'Geust Hause'

18 Februari 2021 16:09 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - BANDUNG: Berangkat dari optimisme di masa pandemi virus corona (Covid-19), Najamudin berkolaborasi dengan sutradara Mohan Mehra memproduksi sinetron “Geust Hause”. Sinetron ber-genre komidi ini dibintangi oleh Ginanjar dan Eman Empat Sekawan, Taufik Lala, Gusti Randa, Alicia Johar dan Hamka De Vito serta Barbie Kumalasari.

Ditemui di lokasi shooting sinetron “Geus Hause” di Hotel Bumi Bhandawa, Bandung, Najamudin menjelaskan kenapa dia tetap optimistis bermain di bisnis hiburan, seperti sinetron “Geust Hause” judul yang merujuk pada Guest House, yang diplesetkan menggunakan Bahasa Sunda? Najamudin yang bankir dari bank milik Pemerintah di Bandung mengemukakan, di masa pandemi ini ada tiga jenis bisnis yang masih bisa survive, salah satunya adalah bisnis digital. Najamudin memasukkan film ke dalam klasifikasi digital.

“Di bank tempat saya bekerja, saya bertugas di divisi bisnis, yang membuat saya banyak bertemu banyak pengusaha. Dari situlah saya memperhitungkan bahwa bisnis ini masih tetap bisa survive,” kata lelaki yang telah membintangi tak kurang dari 15 buah film ini.

Sang sutradara, Mohan Mehra pun memiliki optimisme yang sama dengan sang produser. Pengalamannya bertahun-tahun di dunia sinematografi membuat dia yakin akan hal itu. “Genre komedi menurut saya tetap bisa menjual, diantara sinetron-sinetron bertema drama dan remaja,” ujar Mohan dengan penuh keyakinan.

Dalam produksi “Geus Hause”,  Mohan juga dibantu oleh Hannoeng M. Noer, seorang  wartawan senior yang saat ini sedang dalam proses penggarapan web-series yang diproduksi oleh Mabes Polri, bertema anti radikalisme. Duet Najamudin dan Mohan akan terus berjalan setelah produksi sinetron yang ini. Bersama salah satu sahabat Najamudin, yaitu Surti, mereka bersepakat mendirikan sebuah productions house bernama  Dipinang Productions.

Saat produksi “Geus Hause”  berjalan saat ini, secara pribadi Najamudin juga sedang menyelesaikan tahap akhir produksi film yang mengangkat budaya Sunda. Melibatkan ribuan seniman Sunda, film ini berpotensi menjadi film budaya-kolosal. Bahkan sebelum film itu selesai, Museum Rekor Indonesia (MURI) telah berkenan memberikan penghargaan atas pelibatan ribuan seniman itu.

Kiprah Najamudin di bisnis sinema tak lepas dari pesan kedua orangtuanya di masa lalu, saat ia mulai bekerja. Menurut Najamudin, orangtuanya  ingin dia punya side-job diantara pekerjaan tetapnya. Melakoni amanat orangtuanya itu maka Najamudin pun menjelajahi banyak jenis bisnis sebagai pekerjaan sampingannya. Dari mulai kuliner hingga bisnis suplai bahan baku pembuatan kertas.

“Namun dari semua bisnis itu, rasanya bisnis sinema paling saya suka. Ada rasa tanggung jawab saya terhadap perkembangan kesenian di Indonesia, terutama Jawa Barat,” kata Najamudin yang tetap menyimpan optimisme di masa  pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir setahun lamanya. ***