logo

Menko PMK: Perlu Koreksi Mendasar Penataan Lingkungan

 Menko PMK: Perlu Koreksi Mendasar Penataan Lingkungan

Menko PMK Muhadjir Effendy (kanan) tunjau posko pengungsian, korban banjir di Banjarbaru, Kalsel.(foto,ist)
21 Januari 2021 22:27 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BANJARBARU: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, banjir besar yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan dampak dari fenomena alam La Nina.

Fenomena anomali cuaca yang kerap menyebabkan bencana hidrometeorologi itu lumrah terjadi di Indonesia. Namun, Menko PMK menyebut, Kalimantan Selatan termasuk wilayah yang tidak diprediksi akan mengalami dampak La Nina.

Hal itu disampaikannya di posko pengungsian banjir Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Kota Banjarbaru, Provinsi Kalsel, Kamis (21/1/2021).

"Seingat saya Kalimantan Selatan adalah termasuk wilayah yang tidak dikira akan menghadapi dampak badai La Nina ini. Tetapi namanya kita boleh meramal, boleh berikhtiar, tapi pada akhirnya Tuhanlah yang maha penentu," tuturnya.

Banjir besar yang menggenangi 11 Kabupaten dan Kota di Kalsel itu merendam kurang lebih 87.765 rumah warga. Ketinggian air mencapai 2 meter dan menyebabkan 74.863 orang mengungsi, terdapat pula korban meninggal sebanyak 21 orang.

Sarana prasarana juga banyak yang rusak akibat banjir. Seperti jembatan putus, tanggul jebol, jalan trans Kalimantan putus, serta banyak pula sekolah dan rumah ibadah yang rusak.

Menko PMK mengatakan, adanya bencana banjir ini merupakan pertanda yang menunjukkan bahwa ketahanan lingkungan di Kalimantan Selatan masih lemah. Menurut dia, apabila ketahanan lingkungan telah kuat, fenomena La Nina tidak akan menyebabkan bencana yang parah.

Karena itu, lanjut dia, khususnya warga Kalsel kemudian para penentu kebijakan harus betul-betul melakukan semacam koreksi yang mendasar, terhadap masalah penataan lingkungan, termasuk tata guna tanah. Dikatakannya, Bumi Kalimantan memiliki sumberdaya alam berupa keanekaragaman hayati dan kandungan mineral di dalam perut buminya.

Menko PMK tak memungkiri bahwa eksploitasi alam menjadi salah satu penyebab banjir besar di Kalsel. Pengelolaan alam yang salah dan sembrono, kata dia, menyebabkan timbulnya malapetaka bencana alam.

Karena itu, dia minta pada seluruh pihak, baik masyarakat umum, pengusaha, dan pemerintah daerah untuk lebih mencintai alam dan memanfaatkan alam dengan bijaksana. "Marilah kita memanfaatkan alam ini dengan cara-cara yang bijak, yang arif, dengan penuh perhitungan manfaat dan risikonya. Jangan sampai ternyata manfaat itu lebih kecil dibanding risikonya," pesannya.

Risiko, lanjut Menko PMK, jangan hanya dihitung jangka pendek, tapi jangka panjangnya. Keuntungan juga begitu, jangan hanya dihitung jangka pendek tapi jangka panjangnya.

"Jangan sampai ada yang mengambil keuntungan terlalu besar (dari lingkungan). Sementara sebagian yang lain menanggung risiko terlalu besar," tuturnya mengingatkan.

Menko PMK yang meninjau posko pengungsian warga di beberapa titik, yakni di BBPPKS Banjarbaru, Stadion Demang Lehman Banjarbaru, serta Puskesmas Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, mengecek pelayanan pada para pengungsi. Seperti kelayakan tempat tinggal dan kecukupan logistik sandang serta pangan. Dia melihat posko pengungsian di Stadion Demang Lehman cukup padat.

Karena itu, demi kenyamanan pengungsi dia meminta agar satu ruangan posko cukup diisi oleh satu atau dua keluarga saja. Apabila tidak memungkinkan, dia minta agar setiap orang dalam posko pengungsian tetap menjaga protokol kesehatan.

Dia minta agar setiap tamu yang datang dilakukan rapid test. Untuk para pengungsi akan dilakukan swab, agar posko pengungsian tidak menjadi klaster Covid-19.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto