logo

Puluhan Pengungsi Korban Gempa Sulawesi Barat, Tiba Di Solo

Puluhan Pengungsi Korban Gempa Sulawesi Barat, Tiba Di Solo

Puluhan pengungsi korban gempa Mamuju dan Majene, tiba di Kota Solo melalui Bandara Adi Soemarmo Solo
21 Januari 2021 21:07 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Sebanyak 54 pengungsi korban gempa Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, tiba di Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (21/1/2021). Di Solo, mereka ditempatkan di Solo Techno Park (STP).

Puluhan pengungsi tersebut sebelumnya menjalani rapid test antigen Covid-19, begitu tiba di Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo. Hasilnya lima orang pengungsi positif Covid-19. Pengungsi yang positif Covid-19 tetap dibawa ke ke STP tetapi ditempatkan di ruangan berbeda.

"Kita pastikan dulu melalui tes PCR jika positif baru dibawa ke Asrama Haji Donohudan," jelas Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, di STP Solo, Jawa Tengah.

Lebih lanjut Rudy mengatakan lokasi tersebut sangat layak untuk menampung pengungsi. Fasilitas yang ada di lokasi tersebut juga lengkap, bahkan pihaknya akan menyediakan tempat tidur baru untuk pengungsi.

"Tidak tahu kenapa memilih Kota Solo untuk lokasi pengungsian, pemberitahuan dari pusat juga mendadak.Pokoknya kalau untuk orang menderita kita terima, kita siap menampung. Itu juga anak bangsa yang juga harus ditolong kok,” kata Rudy.

Jika dibutuhkan pihaknya akan menyiapkan lokasi lainnya. Untuk anggaran juga sudah kami siapkan yakni dari anggaran tak terduga. Lokasi pengungsian di STP hanya diperuntukkan bagi pengungsi yang tidak terpapar Covid-19. Mereka juga dilarang keluar dari STP karena harus menjalani karantina terlebih dahulu.

"STP bisa menampung sekitar 70-80 orang," ujarnya.

Sebelumnya, puluhan pengungsi tersebut tiba di Bandara Adi Soemarmo Solo dengan menggunakan pesawat Hercules TNI AU dengan nomor penerbangan A -1330.

Salah satu pengungsi, Sukoyo (48) asal Jumantono, Karanganyar, Jawa Tengah, mengaku sengaja pulang bersama istri dan tiga anaknya atas inisiatifnya sendiri. Dia memilih untuk tinggal di kampung halamannya selama satu tahun dulu sambil menunggu kondisi aman. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto