logo

Resmi Dilantik, Presiden Biden Bersumpah Akhiri Perpecahan Di AS

Resmi Dilantik, Presiden Biden Bersumpah Akhiri Perpecahan Di AS

Istimewa/Antara
21 Januari 2021 09:05 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - WASHINGTON: Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang resmi dilantik pada Rabu, bersumpah untuk mengakhiri "perang tak beradab" di negaranya yang terpecah belah dan terguncang oleh ekonomi yang terpukul dan pandemi Virus Corona yang telah menewaskan lebih dari 400 ribu warganya.

Sambil meletakkan tangan di atas Alkitab warisan keluarganya selama lebih dari seabad, Biden mengambil sumpah jabatan yang dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung AS John Roberts, yang mengikat Presiden untuk "melestarikan, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat."

"Melalui cobaan selama berabad-abad, Amerika telah diuji lagi, dan Amerika telah bangkit menghadapi tantangan," kata Biden saat menyampaikan pidato pelantikannya.

"Hari ini kita merayakan kemenangan bukan dari seorang kandidat, tetapi karena sebuah tujuan: demokrasi [...] Pada saat ini, teman-temanku, demokrasi telah menang," kata Biden menegaskan dilansir Antara. 

Biden (78) menjadi Presiden AS tertua dalam sejarah, yang dilantik dalam upacara berskala kecil di Washington karena kekhawatiran akan Virus Corona dan keamanan, menyusul serangan di Kongres AS atau US Capitol oleh para pendukung mantan Presiden Donald Trump, 6 Januari lalu.

Biden mulai menjabat pada saat AS menghadapi kegelisahan mendalam akibat empat krisis utama, yaitu pandemi, ekonomi, perubahan iklim, serta ketidaksetaraan rasial.

Untuk itu, dia telah menjanjikan tindakan segera, termasuk serangkaian perintah eksekutif pada hari pertamanya menjabat sebagai Presiden AS.

Setelah kampanye pahit yang ditandai dengan tuduhan tak berdasar Trump tentang kecurangan pemilu, Biden menyerukan nada damai dan meminta warga AS yang tidak memilihnya untuk memberinya kesempatan menjadi presiden mereka juga.

"Untuk mengatasi tantangan ini, untuk memulihkan jiwa, dan mengamankan masa depan, Amerika membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Ini membutuhkan hal yang paling sulit dipahami dari semua hal dalam demokrasi: persatuan," kata Biden.

"Kita harus mengakhiri perang tidak beradab yang mempertemukan warna merah dengan biru, pedesaan versus perkotaan, konservatif versus liberal. Kita bisa melakukan ini---jika kita membuka jiwa kita alih-alih mengeraskan hati kita," katanya lagi.

Upacara pada Rabu dibuka di depan Capitol AS yang dijaga ketat, di mana gerombolan pendukung Trump menyerbu gedung itu dua minggu lalu, marah dengan klaim salahnya bahwa pemilu telah diwarnai kecurangan.

Kekerasan tersebut mendorong Dewan Perwakilan Rakyat AS yang dikendalikan Partai Demokrat untuk memakzulkan Trump minggu lalu, untuk yang kedua kalinya.

Ribuan pasukan Garda Nasional dikerahkan ke Washington setelah pengepungan, yang menewaskan lima orang dan memaksa anggota parlemen bersembunyi.

Alih-alih dipenuhi kerumunan pendukung, National Mall pada Rabu ditutupi oleh hampir 200 ribu bendera dan 56 pilar cahaya yang dimaksudkan untuk mewakili orang-orang dari negara bagian dan teritori AS.

"Di sini kami berdiri, hanya beberapa hari setelah gerombolan massa berpikir mereka dapat menggunakan kekerasan untuk membungkam keinginan rakyat, menghentikan pekerjaan demokrasi kami, untuk mengusir kami dari tanah suci ini," kata Biden.

"Itu tidak terjadi; itu tidak akan pernah terjadi. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya," Biden menegaskan pula. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto