logo

Sidang Praperadilan Penembakan Mobil Bos Tekstil Berlanjut Mendengarkan Keterangan Saksi

Sidang Praperadilan Penembakan Mobil Bos Tekstil Berlanjut Mendengarkan Keterangan Saksi

Sidang praperadilan kasus penembakan mobil bos tekstil digelar di PN Solo, Rabu (20/1/2021)
20 Januari 2021 19:02 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Sidang praperadilan kasus penembakan mobil Alphard milik bos tekstil di Karanganyar, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). Dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim Bambang Hermanto tersebut agendanya adalah mendengarkan keterangan saksi.

Ada enam saksi yang dihadirkan dalam sidang tersebut, salah satunya adalah saksi ahli dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Dua orang saksi ditolak karena masih ada hubungan darah dengan pihak pelapor.

"Terkait kasus ini, saya tidak masuk kepada persoalan kasus tersebut sendiri ya karena di dalam hal praperadilan ini pun membatasi hanya pada soal prosedural," jelas Saksi Ahli Dr Mompang L Panggabean.

Menurut Mompang, dalam kasus tersebut ada kerancuan, dimana pelaku penembakan yakni Lukas Jayadi dikatakan oleh pihak polisi tertangkap tangan. Tetapi polisi membuat surat perintah penangkapan padahal jika tertangkap tangan hal itu tidak dibutuhkan.

"Begitu juga kita lihat di dalam dokumen disebutkan adanya gelar perkara. Padahal padahal berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 6 tahun 2019 mengatakan bahwa gelar perkara itu tidak dilakukan jika pelakunya tertangkap tangan jadi di sini ada ada kesimpangsiuran," jelasnya lagi.

Menurut mompang artinya artinya apa yang diatur dalam Peraturan Kapolri itu ada yang tumpang tindih sehingga kalau dikatakan itu tertangkap tangan maka seharusnya bisa dibuktikan bahwa memang itu tertangkap tangan. Sehingga hal-hal yang berkaitan dengan tertangkap tangan itu saja yang dilakukan dalam proses pemeriksaan keterangan.

"Surat perintah penangkapan itu kan tidak diperlukan tetapi harusnya konsistensi terhadap apa yang dikatakan sebagai tertangkap tangan. Itu pun harus betul-betul bisa ditunjukkan di dalam dokumen dokumen yang dibuat," paparnya.

Sementara itu kuasa hukum Lukas Jayadi, Sandy Nayoan mengatakan dalam ketentuan Peraturan Kapolri Nomor 6 tahun 2019 diwajibkan agar tidak ada penyalahgunaan kewenangan sehingga perlu kecermatan, ketelitian dan ketepatan dalam penanganan perkara tersebut.

"Ini yang tadi kita ungkap dalam persidangan, fakta yang kita peroleh kemudian dengan berkas-berkas yang kita miliki nanti kita hadapkan dalam persidangan. Dari keterangan ahli juga memberikan kepada hakim untuk kemudian melakukan pemeriksaan, penelitian, pengujian berdasarkan fakta fakta dan bukti bukti saksi yang sudah kami hadirkan di persidangan," jelas Sandy.

Menurut Sandy, hakim nanti akan menentukan apakah sesuai prosedur atau tidak, tahapan yang sudah dilaksanakan kepolisian. Karena untuk mencapai dua alat bukti itu semua harus melalui proses dan sesuai dengan aturan.

Sedangkan dari pihak termohon yang diwakili Kasubag Hukum Polresta Solo, AKP Rini Pangastuti mengatakan semua yang dilakukan kepolisian dengan menetapkan pelaku sebagai tersangka semua sudah sesuai prosedur.

"Untuk surat penyitaan, penggeledahan semua ada dan untuk penyitaan sudah ada penetapan dari PN. Surat penggeledahan bisa disusulkan ini sesuai dengan peraturan Kapolri," kata Rini.

Kasus penembakan mobil Toyota Alphard Nopol AD 8945 JP terjadi di Jalan Monginsidi, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, pada Rabu (2/12/2020). Mobil tersebut ditumpangi bos tekstil, I (72) dan penembakan dilakukan tersangka Lukas Jayadi (72), keduanya masih ada hubungan keluarga. Tersangka Lukas Jayadi kemudian mengajukan praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH