logo

Pandemi Covid-19, Imbal Hasil Peserta BPJAMSOSTEK Tetap Melebihi Deposito

Pandemi Covid-19, Imbal Hasil Peserta BPJAMSOSTEK  Tetap Melebihi Deposito

19 Januari 2021 15:48 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Tahun yang sangat berat akibat imbas pandemi Covid-19 tak banyak mempengaruhi kinerja BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK).  Sepanjang 2020 mereka tetap mencatatkan hasil positif pada kinerja institusi  di bidang Investasi, kepesertaan, dan pelayanan.

Menurut Dirut BPJAMSOSTEK, Agus Susanto,  penerimaan iuran (unaudited) yang berhasil dibukukan sebesar Rp73,31 triliun walaupun ada implementasi PP 49 Tahun 2020 tentang relaksasi iuran Program JKK, JK sebesar 99% dan penangguhan Program JP sebesar 99%.  "Iuran tersebut ditambah pengelolaan investasi berkontribusi pada peningkatan dana kelolaan mencapai Rp486,38 triliun pada akhir Desember 2020," ujarnya, Selasa (19/1/2021).

BPJAMSOSTEK juga mencatatkan hasil investasi Rp32,30 triliun, dengan Yield on Investment (YOI) yang didapat sebesar 7,38%. Dana dan hasil Investasi tersebut mengalami pertumbuhan masing masing 12,59% dan 10,85%.

Investasi BPJAMSOSTEK, kata Agus, dilaksanakan berdasarkan PP No 99 tahun 2013 dan PP No 55 tahun 2015, yang mengatur jenis instrumen-instrumen investasi yang diperbolehkan berikut dengan batasan-batasannya. Ada juga Peraturan OJK No 1 tahun 2016 yang juga mengharuskan penempatan pada Surat Berharga Negara sebesar minimal 50%.

BPJAMSOSTEK  menempatkan dana investasi sebesar 64% pada surat utang, 17% saham, 10% deposito, 8% reksadana, dan investasi langsung sebesar 1%.  Selama pandemi, pengelolaan dana investasi mendapatkan tantangan yang cukup berat, termasuk oleh seluruh bidang usaha di dalam negeri.

Kondisi pandemi termasuk pasar investasi global dan regional, kata dia, memiliki pengaruh pada hasil investasi yang diraih oleh industri jasa keuangan pada tahun 2020. "Kami telah mengalihkan mayoritas portofolio pada instrumen fixed income hingga mencapai 74% dari total portofolio, sehingga tidak berpengaruh langsung dengan fluktuasi IHSG," ujarnya.

Dia kemudian mencontohkan pada investasi saham, mayoritas penempatan atau 98% penempatan dilakukan pada saham kategori Blue Chip atau LQ45.  
Jumlah saham non LQ45 tersebut hanya sekitar 2% besarannya dari total portofolio saham BPJAMSOSTEK.

BPJAMSOSTEK hanya berinvestasi pada emiten BUMN, emiten dengan saham yang mudah diperjualbelikan, berkapitalisasi besar, memiliki likuiditas yang baik dan memberikan deviden secara periodik. "Tentunya faktor analisa fundamental dan review risiko menjadi pertimbangan utama dalam melakukan seleksi emiten, dan tidak ada investasi di saham gorengan," ujarnya.

Melalui kinerja pengelolaan dana tersebut, sebagai Badan Hukum Publik yang bersifat nirlaba, seluruh hasil pengelolaan dana dikembalikan kepada peserta, sehingga BPJAMSOSTEK dapat memberikan hasil pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) kepada pesertanya mencapai 5,63%. Angka itu sudah di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah yang pada tahun 2020 sebesar 3,87%.

Jika ditilik dari tahun 2016 hingga 2020 saja, dana kelolaan BPJAMSOSTEK dapat tumbuh mencapai 2 kali lipat dengan CAGR sebesar 18,74%, hingga mencapai Rp486,38 triliun. Padahal sejak tahun 1977 hingga 2015, dana kelolaan BPJAMSOSTEK berada pada angka Rp206,58 triliun. 

Dari sisi kinerja kepesertaan BPJAMSOSTEK, total 50,72 juta pekerja telah terdaftar sebagai peserta BPJAMSOSTEK hingga akhir Desember 2020. Hasil ini merupakan pencapaian yang positif untuk mengakhiri tahun 2020, meski dengan kondisi pandemi Covid-19 yang juga tidak kalah menantang bagi peningkatan kepesertaan. 

Walaupun banyak terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) akibat berkurangnya pendapatan usaha sebagai dampak dari pandemi Covid-19, BPJAMSOSTEK tetap dapat melakukan akuisisi peserta sebanyak 17,4 juta untuk tahun 2020. Meski demikian, dirinya mengaku lonjakan klaim JHT imbas dari PHK tidak bisa dihindari, yaitu sebesar 15,22% atau sebanyak 2,2 juta pengajuan klaim JHT pada tahun 2019 dengan nominal yang juga melonjak 24,25% atau sebesar Rp26,64 triliun.

Sepanjang tahun 2020, pembayaran klaim atau jaminan yang dikucurkan  BPJAMSOSTEK mengalami peningkatan sebesar 20,01% atau mencapai Rp36,5 triliun. Diantaranya untuk Jaminan Hari Tua (JHT) mencapai Rp33,1 triliun untuk 2,5 juta kasus, Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 34,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,35 triliun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 221,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,55 triliun, dan Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 97,5 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp489,47 miliar. 

Sementara, Kepala kantor cabang Surabaya Karimunjawa Muhyidin berharap, para peserta tidak perlu khawatir terhadap dana yang ada di BPJAMSOSTEK. "Jangan ada kekawatiran terhadap dana yang ada di kami. Karena peserta yang sudah keluar dari kepesertaan, saldo JHT-nya  akan tetap mendapatkan pengembangan seperti yang sudah ditentukan," ujarnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto