logo

Ada Andil Besar PLN Dibalik Pesatnya Perkembangan Sapeken

Ada Andil Besar PLN Dibalik Pesatnya Perkembangan Sapeken

Suasana di salah satu sudut Desa Sapeken
19 Januari 2021 07:30 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Hari belum beranjak sore ketika tiba di Pelabuhan Sapeken. Pulau terpencil yang harus ditempuh 28 jam perjalanan dari Surabaya ini, memang benar-benar jauh dari sana-sini. Sapeken masuk wilayah Kabupaten Sumenep, tapi lebih dekat ke Bali. Tak ada nuansa Madura sama sekali di sini. Bahkan komunikasi sehari-hari warganya menggunakan Bahasa Bajo, dan adatnya lebih lekat ke adat Mandar Sulawesi Barat.

Waktu tempuh dari Surabaya ke ujung Sumenep yang 3 jam, lalu lanjut menumpang kapal Sabuk Nusantara sehari semalam, sudah cukup menggambarkan betapa terasingnya pulau yang hanya memiliki satu desa ini. Lepas dari Pelabuhan Kalianget Sumenep, kapal andalan rakyat pesisir ini, harus singgah dulu ke pulau lain seperti Masalembo, Keramaian, Kalianget, Sapudi, Kangean dan baru giliran Pelabuhan Sapeken. Seorang teman yang hijrah dari Surabaya dan kini menetap di pulau ini Zumrotin (40), banyak berkisah tentang peliknya hidup di pulau terpencil ini.

Ditemui di rumahnya di Dusun Karang Kongo, Desa Sapeken, Kecamatan/Pulau Sapeken, Sumenep, Zumrotin mengaku tak pernah punya gambaran bakal menetap di pulau yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota ini. Hampir semua sanak kerabat hingga rekan-rekannya juga menyangsikan, wanita asal Lamongan yang alumni Fakultas Tarbiyah IAIN (Sekarang bernama UIN) Sunan Ampel Surabaya ini, bakal betah berlama-lama tinggal di salah satu dari 126 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Sumenep tersebut.

Saat pertama kali tiba di pulau yang berjarak 335 kilometer dari Kota Surabaya pada Juni 2011 lalu ini, Zumrotin mengaku sudah siap mental untuk menghadapi beragam keterbatasan di daerah barunya itu. "Bagi saya waktu itu, yang penting sudah ada listrik walau hanya nyala pada malam hari. Saya takut gelap," ujar wanita yang pertama kali datang ke Sapeken sebagai guru sekolah swasta tersebut, Selasa (19/1/2021).

Sebelum jaringan PLN masuk, kata dia, warga Pulau Sapeken sudah terbiasa dengan pasokan listrik swasta yang hanya 12 jam sehari. Kehidupan warganya pun apa adanya, karena memang tak banyak yang bisa diperbuat di pulau yang bahkan tak ada satupun kendaraan roda empat di sini.  Faktor keterbatasan itu memang kali pertama dilihat Zumrotin yang terlanjur terbiasa dengan fasilitas komplit di ibu kota Jawa Timur.

Zumrotin yang akhirnya menikah dengan warga asli Sapeken ini merasakan betapa bersuka citanya masyarakat Sapeken saat menyambut masuknya jaringan PLN yang menjadikan pasokan listrik berlangsung 24 jam. Tak butuh waktu lama, kehadiran negara lewat jaringan listrik PLN ini langsung mengubah segalanya. Upaya mencari nafkah warga semakin bervariasi dari yang awalnya hanya mengandalkan pemasukan sebagai nelayan dan pedagang tradisional.

Kini, Sepeken sudah tak sama dengan yang dulu. Sudah banyak pedagang online di sini. Beragam usaha rakyat semakin berkembang, terutama kerajinan tangan yang hasilnya dipasok ke Bali. Toko-toko elektronik semakin banyak. Produksi pabrik es batu untuk kebutuhan nelayan terus meningkat. Masyarakat yang kini sudah bisa membuat es batu sendiri, juga pilih jualan beraneka ragam minuman berbahan dasar es.

Berkat pasokan listrik PLN yang 24 jam, layanan telekomunikasi sudah jauh lebih lancar meski tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Surabaya. Seperti warga milenial yang lain, Zumrotin yang juga pemilik Toko Ezra ini mempromosikan dagangannya lewat beragam media sosial yang kini sudah dimiliki oleh hampir seluruh warga Sapeken.

Ibu tiga anak yang sudah lama berhenti mengajar ini juga banyak meraup untung dari berjualan pakaian online. Karena Sapeken disebutnya sudah mirip fashion show setiap kali ada hajatan warga. "Banyak yang tidak tahu bahwa Sapeken sudah jauh berubah. Kaum perempuan di sini sangat Fashionabel. Mereka bahkan jauh lebih modis ketimbang daerah asal saya di Lamongan," ujarnya.

Berkat listrik PLN, kesejahteraan masyarakat Pulau Sapeken saat ini sudah jauh lebih bersinar ketimbang orang Lamongan. Satu-satunya dilema, kata dia, adalah pembangkit milik PLN menggunakan diesel yang solarnya harus dipasok dari luar pulau. Ketika ada cuaca buruk, kapal pengangkut BBM tak berani melaut yang pada gilirannya mengganggu pasokan listrik ke rumah pelanggan. Listrik yang kerap padam ini konon menjadikan perangkat elektronik tidak tahan lama.

Toko elektronik di Pulau Sapeken tak pernah sepi, karena kebanyakan pemilik barang elektronik lebih pilih membeli yang baru ketimbang datang ke tukang service. Berdalih keterbatasan spare part, ongkos service barang elektronik di sini mendekati harga produk itu sendiri. "Ongkos service kipas angin Rp150 ribu, padahal barang itu harganya tak sampai Rp250 ribu," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Manager Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Pamekasan yang juga menjadi Juru Bicara (Jubir) PLN Wilayah Madura, Firman Raharja menjelaskan bahwa PLN sudah beroperasi di Kepulauan Sapeken sejak 1986. "Kami berusaha melaksanakan kewajiban untuk melistriki wilayah kepulauan, agar Rasio Elektrifikasi masyarakat di Jawa Timur terus bertambah," ujarnya.

Seiring dengan lonjakan kebutuhan listrik, permintaan pasang baru di Pulau Sapeken memang terus bertambah. Jumlah pelanggan PLN di pulau tersebut sudah mencapai 1.800 pelanggan. Pihaknya masih harus menyiapkan anggaran investasi lagi untuk perluasan jaringan bagi 400-an calon pelanggan baru.

Disinggung tentang masih seringnya listrik padam gara-gara pasokan BBM, pihaknya memastikan sudah menyiapkan solusi untuk menekan kejadian-kejadian seperti itu. Selain perbaikan moda transportasi laut, PLN juga fokus melakukan penambahan storage untuk penyimpanan bahan bakar minyak. Hanya itu yang bisa dilakukan, karena PLN tak mungkin menarik kabel dari Pulau Jawa ke Sapeken.

Hingga saat ini, kata dia, pihaknya masih memiliki beban 23 pulau terasing lainnya yang masih butuh sentuhan listrik PLN. Perusahaan plat merah ini sudah bersiap untuk memenuhi kebutuhan warga yang tinggal di pulau-pulau terisolir itu dengan Pembangit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menggunakan baterry.

Sementara, kehadiran negara lewat PLN ternyata bukan hanya menjadi impian bagi warga di pulau terpencil. PLN bahkan disebut-sebut telah mewujudkan mimpi ratusan petani Desa Golan, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur yang sudah lama mendambakan bisa bercocok tanam rutin sepanjang tahun.

Jangankan untuk bertanam sepanjang tahun, menurut Kepala Desa Golan, Purwito, warganya yang terkendala  saluran irigasi itu, bahkan harus melakukan segala cara agar bisa mengalirkan air ke areal persawahan. "Beruntung PLN menghadirkan solusi pemasangan listrik kolektif untuk pompa sawah, yang selama ini belum terpikirkan oleh para warga," ujarnya.

Selain lebih efisien dari segi biaya, air yang disedot dari dalam tanah menggunakan pompa bertenaga listrik ini telah memberikan jaminan kepastian pengairan sawah yang pada gilirannya ikut memberi kepastian panen rutin tiap 3 bulan sekali. Kehadiran PLN di areal persawahan telah berkontribusi untuk menjaga ketahanan pangan bagi negeri.***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto