logo

Prospek & Tantangan

Prospek & Tantangan

18 Januari 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Prospek kinerja perbankan di 2021 tidak hanya mengacu data angka nominal tetapi juga sejumlah kejahatan perbankan yang muncul sehingga ini bisa menjadi pemetaan untuk mereduksinya di 2021. Hal ini penting karena perbankan tidak sekedar layanan berbasis offline dan online tapi juga komitmen menjamin keamanan dana nasabah dari berbagai kemungkinan kejahatan kerah putih perbankan. 

Urgensi dari review kinerja perbankan 2020 tidak saja terkait langkah antisipasi persaingan ke depan yang semakin kompleks tapi juga pentingnya antisipatif dari peluang kejahatan perbankan. Model layanan yang berbasis tradisional (offline) dan modern (online) tetap saja masih menyisakan peluang kejahatan bank dan raibnya deposito Rp.22 miliar di salah satu bank kemarin menjadi catatan yang sangat menarik.

Kilas balik kinerja perbankan di 2020 dan prospek di tahun 2021 memberikan gambaran tentang sejumlah hal yang menarik dicermati, misalnya prospek merger 3 bank syariah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri Tbk  dan PT Bank BNI Syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Operasional hasil merger ketiga bank tersebut atau PT Bank Syariah Indonesia Tbk tetap memanfaatkan jejaring kantor pusat, cabang dan unit yang dimiliki ketiga bank itu di semua daerah. Selain itu, dalam operasionalnya dipastikan tidak ada PHK. Jadi, perseroan masih tetap menjalankan operasional sampai semua proses merger tuntas dan faktanya hasil merger itu menjadikan aset-nya Rp.214,6 triliun dengan modal inti Rp.20,4 triliun. Tentu ini menjadi kekuatan untuk bersaing di sektor perbankan menuju tahun 2021 dan juga target penguasaan di industri perbankan syariah secara nasional. Di sisi lain, tetap harus diwaspadai adanya kejahatan perbankan

Selama 2020 ternyata ada sejumlah kasus kejahatan perbankan, termasuk yang terbaru raibnya deposito di salah satu bank yang sempat viral. Kasus ini menarik dicermati tidak hanya dari aspek keamanan tetapi juga potensi ancaman. Oleh karena itu, rush menjadi konsekuensi logis dari ancaman kejahatan perbankan. Yang justru menjadi pertanyaan mengapa kejahatan perbankan terus terjadi? Paling tidak, hal ini menjadi acuan penting tentang trend dan modus kejahatan perbankan di republik ini. Yang juga perlu perhatian adalah ancaman keterlibatan internal pada setiap kejahatan perbankan. Hal ini menjadi penting karena realitas pengungkapan kejahatan perbankan mayoritas melibatkan orang dalam, baik sebagai pelaku langsung atau tidak langsung. Artinya, ancaman kejahatan kolektif dari setiap kejahatan perbankan memang sangat rentan terjadi dan ini menjadi tantangan untuk bisa mereduksinya di tahun 2021.

Fakta pengungkapan dari berbagai modus dan trend kejahatan perbankan seharusnya memberikan pembelajaran untuk meningkatkan pengawasan. Sistem pengawasan telah menjadi bagian penting dalam tata kelola dan juga model kepatuhan dalam operasional perbankan. Namun sayangnya, kasus-kasus kejahatan perbankan yang mengebiri aturan tentang tata kelola dan model kepatuhan cenderung terus terjadi sehingga kejahatan di sektor perbankan juga terus meningkat dengan nominal kerugian yang sangat besar. Hal ini perlu dicermati karena ancaman dari kejahatan perbankan adalah aspek kepercayaan dan implikasinya adalah rush yang bisa berdampak negatif terhadap likuiditas. Selain itu maraknya fintech saat ini juga harus dicermati, tidak saja aspek generic competition tapi juga product form competition untuk mengantisipasi semua resikonya. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo