logo

Praktisi: Perlu Modal Sosial Dalam Pengembangan Pariwisata

Praktisi: Perlu Modal Sosial Dalam Pengembangan Pariwisata

14 Januari 2021 23:49 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - YOGYAKARTA: Program Studi Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana UGM menggelar Seminar Series Nasional Kepariwisataan ke-6, Selasa lalu (12/1/2020).

Seminar kali ini mengulas perlunya modal sosial dalam pengembangan pariwisata.

“Modal terbentuk karena adanya kesamaan nilai dan tujuan yang hendak dicapai sehingga unsur kepercayaan, jaringan, dan norma menjadi penting dalam pembentukan modal sosial,” ujar Dr. Bakri, MM, alumni Doktoral Program Kajian Pariwisata UGM selaku salah satu pembicara seminar.

Sektor pariwisata terbilang unik karena dijalankan dengan kerja sama seluruh lapisan masyarakat yang secara sosial memberikan ruang gerak bagi perkembangannya. Hampir tidak mungkin pariwisata tumbuh tanpa keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam mempersiapkan destinasi, menjaga keamanan, melayani wisatawan, dan melakukan promosi.

Bakri sendiri telah melakukan pendampingan dan riset di Desa Wisata Dieng, Jawa Tengah. Dengan parameter tersebut, ia menganalisis modal sosial di desa wisata Dieng dan menemukan bahwa dengan kepercayaan dan mandat yang diberikan kepada masyarakat, mereka berhasil mengembangkan Desa Wisata sejak 2009.

Masyarakat, untuknya telah berhasil mengubah potensi alam dan budaya menjadi produk wisata, seperti paket wisata, 120 homestay, makanan khas, dan Festival Budaya Dieng.

“Bahkan masyarakat pengelola homestay mampu mendapatkan penghasilan hingga 4,3 Juta rupiah. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah kunjungan wisata sejak 2011 – 2016,” ucap mantan Direktur Pemberdayaan Pariwisata era Menpubpar Jero Wacik dan Menparekraf Mari Elka Pangestu ini.

Prof. Heddy Shri Ahimsaputra sebagai pembahas menambahkan bahwa selain modal sosial, dalam pengembangan pariwisata diperlukan pula modal budaya dan modal ekonomi. Ketiganya harus ada dan berjalan dengan beriringan.

“Meski demikian, di banyak destinasi seringkali ada ketimpangan dan keduanya tidak sejalan, misalnya modal sosial tinggi tetapi modal ekonomi rendah,” ungkapnya.

Heddy juga menggarisbawahi peran agen eksternal dalam pengembangan pariwisata Dieng yang juga dikonstruksi dari peningkatan dan perluasan jaringan yang dibentuk oleh Desa Wisata.

Seminar kali ini turut menghadirkan salah satu penggerak desa wisata Dieng, yaitu Alif, anggota Pokdarwis Dieng Pandawa.

Ia mengatakan bahwa meski masyarakat Dieng memiliki modal sosial, dukungan dari pemerintah dan akademisi khususnya pendampingan UGM dirasa sangat membantu. Dalam kondisi pandemi Covid-19, pengunjung desa wisata Dieng tetap tinggi, meski pada hari-hari tertentu jumlah pengunjung relatif sepi.

“Bagi masyarakat, hari-hari sepi mereka manfaatkan untuk beristirahat dan merefleksikan ulang dengan melakukan penataan-penataan yang diperlukan. Artinya, baik Dieng sepi maupun ramai masyarakat mengambil hikmah,” jelasnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto