logo

Petualangan Lumowa Sementara Berhenti Di Kursi Pesakitan

Petualangan Lumowa Sementara Berhenti Di Kursi Pesakitan

terdakwa Maria Pauline Lumowa
14 Januari 2021 11:16 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Petualangan Maria Pauline Lomowa untuk sementara terhenti di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Jakarta. Selanjutnya hampir bisa dipastikan bakal sampai lagi di bui dalam waktu lama. Sebab, kawan-kawannya yang terlibat dalam pencairan LC fiktif sudah mendahului pemilik PT Gramarindo Group itu menjalani hukuman sesuai perbuatannya.

Dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/1/2021), Jaksa Penuntut Umum (JPU) R Wisnu Bagus Wicaksono mempersalahkan terdakwa Lumowa telah merugikan keuangan negara sebesar Rp1,2 triliun. Hal itu dilakukan Maria Pauline dengan cara mengajukan pencairan berupa LC dengan melampirkan dokumen ekspor fiktif BNI 46 Cabang Kebayoran Baru Jakarta sekatan sehingga melanggar buku pedoman ekspor Bab III halaman 22.1 (IN/0075/INT tanggal 29 April 1998). Atas perbuatannya, Maria didakwa telah memperkaya diri sendiri, orang lain dan korporasinya.

"Terdakwa, memperkaya orang lain yaitu saksi Adrian Herling Waworuntu, memperkaya korporasi yaitu PT Jaka Sakti Buana Internasional, PT Bima Mandala, PT Mahesa Karya Putra Mandiri, PT Parasetya Cipta Tulada, PT Infinity Finance, PT Brocolin International, PT Oenam Marble Industri, PT Restu Rama, PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Grahasali," ungkap jaksa.

Atas perbuatannya itu,  Lumowa dipersalahkan melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Lumowa juga dipersalahkan melakukan pencucian uang dengan menyimpan uang hasil korupsinya ke penyedia jasa keuangan, yakni PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Infinity Finance baik atas nama Maria sendiri dan korporasi yakni PT Sagared Team, PT Bhinekatama Pasific, PT Magnetiq, PT Gramarindo Mega Indonesia , PT Bima Mandala dan PT Dimas Drilindo.

Terkait tindak pidana penyimpanan/penyamaran uang hasil koerupsi itu, Lumowa dipersalahkan pula melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a dan b UU Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif yang sempat buron sejak 2003 atau selama 17 tahun. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar Amerika Serikat (AS) dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Permainan PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari "orang dalam" karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.  Namun pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, hanya saja saat itu Maria Pauline Lumowa sudah di Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto