logo

Pelaku Penembakan Mobil Bos Tekstil Ajukan Praperadilan, Polisi Tegaskan Sesuai Aturan

Pelaku Penembakan Mobil Bos Tekstil Ajukan Praperadilan, Polisi Tegaskan Sesuai Aturan

Kuasa hukum tersangka penembakan mobil milik bos tekstil di Solo, Sandy Nayoan memberikan keterangan seusai sidang
13 Januari 2021 16:06 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Kasus penembakan mobil Toyota Alpard Hitam AD 8945 JP yang ditumpangi bos perusahaan tekstil, Indriati terus bergulir di pengadilan. Tersangka penembakan, Lukas Jayadi (72) mengajukan praperadilan karena penanganan kasus tersebut yang dinilai cacat hukum.

Gugatan praperadilan terhadap penyidik Polresta Solo tersebut telah didaftarkan ke PN Solo pada Desember 2020 lalu. Sidang pertama praperadilan telah dilakukan Jumat (8/1/2021) lalu dan sidang kedua dengan agenda pembacan jawaban dari pihak termohon dilakukan Rabu (13/1/2021). Sidang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta dan dipimpin hakim tunggal Bambang Hermanto di ruang sidang Oemar Seno Adji.

Kuasa hukum tersangka, Sandy Nayoan seusai sidang mengatakan dasar gugatan praperadilan karena pihaknya melihat perlunya dikaji, diperiksa oleh hakim PN Surakarta terkait tahapan dan prosedur atau SOP yang diterapkan termohon dalam penetapan tersangka dengan menggunakan Pasal 53 jo 340 KUHP.

“Dengan pasal itu termohon meletakkan klien kami sebagai tersangka. Tahapan ini perlu dikaji oleh hakim dengan melihat tahapan oleh termohon sesuai ketentuan yang berlaku," jelas Sandy.

Menurut Sandy ada beberapa catatan yang diungkap dalam persidangan. Yakni terkait penahanan, penangkapan, penggeledahan dan penyitaan serta penetapan sebagai tersangka.

"Kami akan melihat dan mempelajari jawaban termohon apakah dua alat bukti mencukupi. Jika pihak termohoh menjawab sudah sesuai silahkan saja tapi hakim yang akan menentukan apakah prosedur itu benar atau tidak," jelasnya lagi.

Sementara itu, dari pihak termohon melalui Advocat Polda Jateng, Kompol Priyono mengatakan meskipun ada gugatan praperadilan dari tersangka, kasus tersebut tetap berjalan dan saat ini masuk pelimpahan tahap pertama.

"Pastinya kami bersikukuh apa yang dilakukan seauai dengan hukum yang berlaku. Kalau dikatakan proses penangkapan, penyitaan dan penggeledahan tidak membawa surat izin, itu terserah mereka," ujarnya.

Termasuk alasan penembakan yang dilakukan tersangka karena akan ditabrak dan dilakukan spontan, Priyono mengatakan itu hak pemohon mengatakan hal tersebut. Tetapi pihaknya bicara atas fakta dan saksi-saksi.

"Silahkan saja pendapat mereka seperti itu tetapi kami sesuai fakta dan saksi," kata Priyono.

Sidang akan dilanjutkan Kamis (14/1/2021) dengan mendengarkan replik dari pemohon. Kasus penembakan tersebuterjadi di Jalan Monginsidi, Banjarsari, Solo, pada Rabu (2/12/2020) lalu. Korban bersama sopirnya sedang keluar dari rumah untuk makan siang.

Kemudian pelaku Lukas bersama istrinya tiba-tiba menghentikan mobil  dan masuk ke dalam mobil. Pelaku meminta untuk diantar ke umah sarang walet milik tersangka di Jalan Monginsidi.

Saat tiba di lokasi, pelaku turun dan meminta korban untuk turun dari mobil tetapi tidak dituruti. Sopir yang melihat gelagat pelaku yang mencurigakan langsung memutar mobil untuk meninggalkan lokasi. Tetapi pelaku tiba-tiba menembaki mobil korban. Selanjutnya korban  masuk ke Mako Brimob Detasemen C Pelopor untuk mengamankan diri. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto