logo

Aksi Guru Honorer Kabupaten Bekasi Ke KPK Dinilai Tidak Relevan

Aksi Guru Honorer Kabupaten Bekasi Ke KPK Dinilai Tidak Relevan

Tokoh muda Bekasi Sahroji. (FOTO: Dok/Suarakarya.id).
12 Januari 2021 23:45 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - CIKARANG: Aksi damai yang dilakukan sejumlah guru honorer pada Senin, 11 Januari 2021 di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai tokoh muda Bekasi Sahroji tidak relevan.

Hal itu ia sampaikan, karena guru adalah seorang pendidik yang memiliki tupoksi diantaranya menyusun program pengajaran pada setiap semester dalam kalender pendidikan dan melakukan pembinaan terhadap program-program kesiswaan.

Selain itu, menurutnya, guru juga memiliki kode etik yang seharusnya bisa dijadikan sebagai norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru di Kabupaten Bekasi sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi. 

Lanjut Sahroji, pertama, aksi itu dilakukan di hari pertama pelaksanaan kebijakan pemerintah terkait 

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKam) Kedua, aksi yang dilakukan seperti sebuah tindakan pemaksaan kehendak karena didasari dari rasa kekecewaan guru honorer yang meminta tunjangan gaji sesuai UMK namun tidak dapat. 

"Dan ketiga saya memandang bahwa aksi yang dilakukan terkesan politis karena hal yang disampaikan terkait dugaan tindak pidana korupsi dan gratifikasi," kata Sahroji kepada Suarakarya.id, Selasa (12/1/2021).

"Saya melihatnya lucu dan menurut saya sangat tidak relevan, hal yang dituntut tidak di dapat lalu mencari-cari kesalahan pemerintah dan bersikap seperti tidak mencerminkan seorang pendidik. Melakukan pelaporan dan aksi tanpa melakukan observasi, kajian, dan penelitian secara komprehensif terhadap sebuah kegiatan yang baru diduga telah terjadi suatu tindakan pidana. 

Itu kan lucu, apalagi ada informasi bahwa guru honorer yang pada aksi kemarin sudah habis SK penugasannya. Artinya, kalau gitu secara "de jure" mereka yang demo itu bukan guru honorer lagi dong, tetapi masyarakat sipil yang mengatasnamakan guru honorer," paparnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto