logo

Peristiwa Penyerbuan Kongres AS Di Gedung Capitol Jadi "Aib" Demokrasi

Peristiwa  Penyerbuan Kongres AS Di Gedung Capitol Jadi

Foto: Antara
08 Januari 2021 00:27 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - WASHINGTON: Sebanyak empat orang dilaporkan tewas di halaman Gedung Kongres Amerika Serikat, Capitol, sementara 52 orang ditangkap usai pendukung Presiden Donald Trump menyerbu gedung itu, Rabu (6/1/2021) waktu setempat, untuk menghentikan pengesahan hitungan suara pemilu yang dimenangkan Joe Biden.

Dalam konferensi pers usai kejadian, Kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Robert J. Contee menyebut bahwa 47 dari 52 orang yang ditahan itu terkait dengan pelanggaran jam malam pukul 18.00 yang, dengan 26 di antaranya ditangkap di halaman Gedung Capitol.

Sedangkan sejumlah orang lainnya ditangkap karena membawa senjata api tak berizin atau yang dilarang.

Contee tidak bersedia memberikan identitas seorang perempuan yang tewas ditembak petugas kepolisian--menyebut bahwa informasi lanjutan mengenai hal itu masih ditangguhkan.

Sementara tiga orang lainnya meninggal dunia karena keadaan medis, kata Contee.

Sebagai tambahan, ujar Contee, dua bom pipa berhasil diamankan dari kantor komite nasional bipartisan dari Republik dan Demokrat tersebut, juga tempat pendingin di sebuah kendaraan di halaman gedung yang berisi bom molotov.

Para pemimpin dunia pada Rabu (6/1/2021) menyatakan keterkejutan mereka ketika para pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerbu Gedung Capitol AS, tempat rapat para anggota Kongres, dalam upaya untuk membatalkan hasil pemilihan 3 November yang dimenangkan oleh Joe Biden.

Berikut reaksi dari seluruh dunia:

SEKRETARIS JENDERAL PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA:

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres "sedih" dengan kejadian di Capitol AS, kata juru bicaranya.

"Dalam keadaan seperti itu, penting bagi para pemimpin politik untuk memberi kesan kepada pengikut mereka akan perlunya menahan diri dari kekerasan, serta untuk menghormati proses demokrasi dan supremasi hukum," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan.

CHINA:

Kedutaan Besar China mengeluarkan peringatan di laman resminya pada hari Rabu, yang memperingatkan warga China untuk memperkuat tindakan pencegahan terkait keamanan, sehubungan dengan "demonstrasi skala besar" di Washington D.C. dan jam malam diumumkan oleh pemerintah setempat.

INDIA:

"(Saya) Sedih melihat berita tentang kerusuhan dan kekerasan di Washington DC," kata Perdana Menteri India Narendra Modi dalam sebuah cuitan di Twitter. "Peralihan kekuasaan yang tertib dan damai harus dilanjutkan. Proses demokrasi tidak boleh dibiarkan tumbang melalui protes yang melanggar hukum."

JEPANG:

"Kami menolak mengomentari gaya politik Presiden Trump karena ini tentang urusan dalam negeri AS," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato kepada wartawan.

"Tapi kami berharap dapat melihat demokrasi di Amerika Serikat mengatasi situasi sulit ini, ketenangan dan harmoni dipulihkan, dan transfer kekuasaan yang damai dan demokratis."

PRANCIS:

"Apa yang terjadi hari ini di Washington DC bukanlah Amerika, itu pasti," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pesan video di yang diunggah di Twitter.

"Kami percaya pada kekuatan demokrasi-demokrasi kami. Kami percaya pada kekuatan demokrasi Amerika," katanya dalam bahasa Inggris.

INGGRIS:

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam cuitannya menyebut peristiwa di Kongres AS sebagai "aib", mengatakan Amerika Serikat berdiri untuk demokrasi di seluruh dunia dan itu adalah hal yang "penting" sekarang karena harus ada transfer kekuasaan yang damai dan teratur.

JERMAN:

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan musuh demokrasi akan merasa terhibur dengan adegan kekerasan di gedung Capitol Amerika Serikat, dan dia meminta Trump untuk menerima keputusan para pemilih AS.

Dalam sebuah cuitan di Twitter, Maas mengatakan kekerasan itu disebabkan oleh retorika yang menghasut. "Trump dan pendukungnya harus menerima keputusan para pemilih Amerika pada akhirnya dan berhenti menginjak-injak demokrasi."

RUSIA:

"Cukup banyak gambar bergaya Maidan yang datang dari DC," Wakil Duta Besar Rusia Dmitry Polyanskiy mengunggah di Twitter, merujuk pada protes di Ukraina yang menggulingkan Presiden Ukraina yang didukung Rusia, Viktor Yanukovich pada tahun 2014.

"Beberapa teman saya bertanya apakah seseorang akan membagikan biskuit kepada para pengunjuk rasa untuk menggemakan aksi Victoria Nuland," katanya, mengutip kunjungan 2013 ke Ukraina ketika Asisten Menteri Luar Negeri AS saat itu, Victoria Nuland, menawarkan makanan kepada para pengunjuk rasa.

NATO:

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyebut protes kekerasan di Washington sebagai "pemandangan yang mengejutkan" dan mengatakan hasil pemilihan demokratis AS harus dihormati.

SPANYOL:

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan dalam sebuah cuitan di Twitter: "Dengan kekhawatiran, saya mengikuti dengan berita yang datang dari Capitol Hill di Washington. Saya percaya pada kekuatan demokrasi Amerika.

"Presidensi baru @JoeBiden akan mengatasi ketegangan kali ini, menyatukan rakyat Amerika."

IRLANDIA:

Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney menyebut pemandangan di Washington sebagai "serangan yang disengaja terhadap Demokrasi oleh Presiden yang sedang menjabat & pendukungnya, mencoba untuk membatalkan pemilihan yang bebas & adil! Dunia sedang menonton! Kami berharap untuk pemulihan ketenangan."

TURKI:

Kementerian luar negeri Turki mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan keprihatinan tentang kekerasan dan menyerukan ketenangan dan akal sehat, sambil mendesak warganya untuk menghindari keramaian dan area protes.

UNI EROPA:

Charles Michel, ketua para pemimpin Uni Eropa, di Twitter mengungkapkan keterkejutannya atas kejadian di Washington. "Kongres AS adalah kuil demokrasi ... Kami memercayai AS untuk memastikan transfer kekuasaan secara damai ke @JoeBiden"

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan: "Saya percaya pada kekuatan lembaga dan demokrasi AS. Peralihan kekuasaan yang damai adalah intinya. @JoeBiden memenangkan pemilihan. Saya berharap dapat bekerja dengannya sebagai Presiden AS berikutnya. "

KANADA:

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengungkapkan keprihatinannya tentang peristiwa di Washington. "Jelas kami prihatin dan kami mengikuti situasi dari menit ke menit," kata Trudeau kepada stasiun radio News 1130 Vancouver. "Saya pikir institusi demokrasi Amerika kuat, dan mudah-mudahan semuanya akan kembali normal segera."

SWEDIA:

Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven dalam cuitannya menggambarkan adegan itu sebagai "serangan terhadap demokrasi". "Presiden Trump dan banyak anggota Kongres memikul tanggung jawab signifikan atas apa yang sedang terjadi. Proses demokratis dalam memilih presiden harus dihormati."

NORWEGIA:

Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg mengatakan di Twitter: "Ini adalah serangan yang tidak dapat diterima terhadap demokrasi AS. Presiden Trump bertanggung jawab untuk menghentikan ini. Gambaran yang menakutkan, dan tidak dapat dipercaya bahwa ini terjadi di Amerika Serikat."

FINLANDIA:

Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Serangan terhadap Capitol Hill di Washington DC adalah masalah yang sangat serius dan mengkhawatirkan. Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk mempertahankan demokrasi dengan tegas dan kuat setiap saat."

AUSTRALIA:

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menggambarkan pemandangan di Washington sebagai "menyedihkan". "Kami mengutuk tindakan kekerasan ini dan berharap untuk transisi damai Pemerintah ke pemerintahan yang baru terpilih dalam tradisi demokrasi Amerika yang hebat," dia mengatakan di Twitter.

SELANDIA BARU:

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan di Twitter: "Demokrasi - hak orang untuk melakukan pemungutan suara, suaranya didengar dan kemudian keputusan itu ditegakkan secara damai tidak boleh dibatalkan oleh massa. Kami memikirkan semua orang yang sama hancurnya seperti kita dengan kejadian hari ini. Saya yakin demokrasi akan menang."

VENEZUELA:

Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza mengatakan: "Venezuela mengungkapkan keprihatinannya atas peristiwa kekerasan yang terjadi di kota Washington, AS; mengutuk polarisasi politik dan berharap bahwa rakyat Amerika akan membuka jalan baru menuju stabilitas dan keadilan sosial."

ARGENTINA:

Presiden Argentina Alberto Fernandez mengatakan di Twitter: "Kami menyatakan kecaman kami atas tindakan kekerasan yang serius dan penghinaan terhadap Kongres yang terjadi hari ini di Washington DC. Kami percaya bahwa akan ada transisi damai yang menghormati keinginan rakyat dan kami menyatakan dukungan terkuat kami untuk Presiden terpilih Joe Biden. " (Antara) ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto