logo

Dari Pramono Untuk Indonesia

Dari Pramono Untuk Indonesia

07 Januari 2021 10:47 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Chrysnanda Dwi Laksana

Pramono Pramoedjo dikenal sbg kartunis media Sinar Harapan dan setelah itu Suara Pembaruan. Karya karyanya menggelitik banyak hal yang dicatat di dalamnya. Kedalaman karya Pramono bukan sebatas p ada teknis menggambar semata melainkan kepekaan dan kecerdasannya menangkap peristiwa yang akan digambarnya atau dijadikan model karikaturnya. Opini opini Pramono begitu lugas cerdas, memang jarang yang mendalami atau mengkaji kedalaman karyanya. Dari buku buku karikatur yang sudah terbit menunjukkan betapa dalam catatan sejarah bangsa ini. Baik dalam urusan dalam negeri hingga luar negeri.

Apa yg digambarkan seringkali hanya ditangkap kelucuannya keapikan gambarnya, namun konten kedalaman pesannya jarang ditelaah apalagi dibahas. Padahal itulah yang penting bagi catatan sejarah dalam gambar. Karikatur bisa saja dikatakan kartun opini yg mjd tajuk atau pengungkapan issue penting yg terjadi pd masyarakat.

Memahami karya Pramono sebenarnya juga belajar atas rentang peristiwa yg menjadi head line atau tajuk dari media atas peristiwa yang diliputnya. Memahami kedalaman suatu karya karikatur jelas melihat apa yg ingin disampaikan sbg early warning, kepekaan dan kepeduliannya bahkan bs saja dilihat dr keberpihakkannya kepada keadilan kebenaran dan kemanusiaannya.  

Pramono Pramoedjo hingga kini terus mengasah kepiawaiannya dalam menangkap situasi sosial yg terjadi dlm masyarakat. Di usia senjanya guyonan cerdasnya masih terasa dan masih dirasakan segar yg menunjukkan Pram seorang pembelajar tdk mau kalah atas waktu usia dan suasana. Buku buku yg sudah diterbitkan merupakan catatan sejarah seni karikatur Indonesia, di mana Pram tetap komitmen dan konsisten hingga saat ini. Inilah jasa seorang guru ( pak Kusnadi) yg membangkitkan semangatnya menggambar lagi.

Pak Kusnadi seorang guru dan kritikus seni yg peka peduli akan seni dan kebudayaan di Indonesia. Beliau berkenan mendatangi muridnya yg sdg down dan enggan berkarya. Bisa dibayangkan jika Pramono yg sejak th 1971 tdk lagi berkarya? Indonesia kehilangan Maestronya. Ini mungkin yg perlu saling menguatkan antar sesama antar kurator yg bukan saling mengkritisi tapi tdk ada spirit membangkitkan. Model konflik ala panjat pinang satu naik satu melorotkan tentu ini tdk ada kemajuan selain saling menjatuhkan. Parahnya lagi di era post truth ini malah saling membunuh karakternya.

Memahami karya Pramono setidaknya mencakup unsur unsur yang scr garis besar menunjukkan :
1. Ada ketimpangan sosial atau ada sesuatu yg tdk berjalan sbgm mestinya
2. Rakyat atau pihak yg lemah dikorbankan atau terdampak
3. Masalah yg berkaitan dr ideologi politik sosial hukum seni budaya korupsi kebijakan publik hingga ketidak adilan bahkan gangguan2 keteraturan sosial
4. Diungkapkan dlm bentuk dialog gambar untuk menunjukkan sesuatu yg dikritisi
5. Ada sesuatu yg boleh dikatakan tempered radical
6. Ada sisi lucu atau humor shg memudahkan dicerna atau dutangkap pesan moralnya
7. Plesetan dalam bentuk gambar maupun tulisan menjadi pelengkap opini yg disampaikan
8. Karakter yg dibuat oleh senimannya mjd tanda khusus atau boleh dikatakan sbg style atau gayanya
9. Keberpihaknya pada kebenaran keadilan dan kemanusiaan
10. Tidak menghakimi atau menyalahkan namun ada sesuatu yg dpt dijadikan bahan belajar dari kesalahan.

Sebenarnya masih banyak point2 penting yg bisa didalami dalam setiap karya Pramono, namun setidaknya 10 point di atas telah ditunjukkan sbg komitmen dan konsistensinya dalam berkarya. 

Karikatur dan kartun Pramono sedikit demi sedikit akan didigitalkan shg interpretasi dan apresiasinya akan lbh mudah dikenal luas. Dan ide ide cerdas benasnya tdk hilang ditelan waktu. Pramono ada dan hidup, ia berjuang melalui karya karyanya bukan sebatas dongeng. Kedalaman karya yg dihasilkan sangat luar biasa. Melalui media sosial dan teknologi digital ttg Pramono dpt trs dibahas dan dipelajari dari karya dan orang2 terdekatnya. Pramono memang tdk meminta apa apa ia hanya ingin karyanya memiliki ruang ubtk dpt dipelajari dan dikenang.

Kami dari komunitas Kampoeng Semar berupaya membuat Electronic book dan mensharingkan forum2 dialog ttg Pramono di lini mana saja. Upaya kami bukan lagi mengkritisi melainkan memberi suatu apresiasi dan interpretasi atas karya Pramono yg tak lekang ruang dan waktu.***

* Chrysnanda Dwi Laksana PhD - anggota Polri yang juga aktivis di Seni Lukis.

Editor : Gungde Ariwangsa SH