logo

Mudah & Murah

Mudah & Murah

04 Januari 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi 

Kilas balik sosial ekonomi selama 2020 menarik dicermati karena tidak saja terkait isu pandemi dan problem kehadiran vaksin, tapi juga ketahanan pangan. Oleh karena itu pada 2021 tantangannya adalah ketersediaan pangan secara mudah dan murah. 

Realita ini pada dasarnya memberikan tantangan terkait pandemi covid-19 karena banyak yang terjebak ketidakmampuan membeli pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk tentu pemenuhan gizi. Faktor yang mempengaruhi sangatlah beragam, termasuk salah satunya adalah lemahnya daya beli. Padahal, daya beli berkaitan erat dengan pendapatan yang di masa pandemi justru terjadi banyak gelombang PHK di sejumlah industri. Jadi, PHK itu sendiri memicu kerentanan terhadap kemampuan untuk mendapatkan penghasilan yang kemudian justru dibarengi dengan ancaman kemiskinan.

Mata rantai dari problem tersebut menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan di masa pandemi menuntut adanya ketersediaan pangan secara mudah dan murah sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan secara massal. Oleh karena itu beralasan jika kondisi ini akhirnya menuntut adanya koordinasi sektoral dan lintas sektoral sehingga capaian di sektor pertanian pangan tercukupi. Meskipun demikian, bukan berarti persoalan menjadi selesai karena pertanian pangan terutama di perdesaan terkendala oleh berbagai problem termasuk misalnya kualitas infrastruktur yang ada di perdesaan. Terkait hal ini, benar adanya jika kemudian pemerintah memacu pembangunan infrastruktur karena akan bisa mendukung mobilitas dan distribusi barang – jasa sehingga menghasilkan keuntungan di perdesaan yang akhirnya meningkatkan pendapatan untuk pemenuhan konsumsi pangan.

Salah satu upaya untuk mendukung pembangunan pertanian pangan di perdesaan supaya harga pangan bisa mudah diperoleh dan murah harganya yaitu dengan alokasi dana desa. Pada tahun 2020 nilainya Rp.72 triliun dengan fokus pemanfaatan untuk pemberdayaan desa dan pengembangan potensi ekonomi desa, selain potensinya dalam pengembangan kewirausahaan di perdesaan terutama yang berbasis potensi lokal dan kearifan lokal. Hal ini menegaskan bahwa memacu pertanian pangan memberikan manfaat kompleks, selain dari pemenuhan kebutuhan pangan nasional, juga bermanfaat untuk penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat di perdesaan secara berkelanjutan. Jadi potensi ini mampu membangkitkan produk pertanian pangan lokal untuk dipasarkan secara global.

Fakta perekonomian yang terdampak pandemi ternyata terus berlanjut dan resesi seolah menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Fenomena yang menyertainya yaitu PHK massal di sejumlah korporasi, bukan hanya yang berskala menengah – kecil tetapi juga di skala besar. Kadin menyebut jumlah pekerja di PHK terdampak covid-19 mencapai 29 juta orang dan di sektor formal 6,4 juta orang dengan rincian di garment - tekstil 2,1 juta orang dan sektor transportasi darat 1,4 juta orang dan restoran 1 juta orang dengan potensi peningkatan PHK sampai akhir 2020. Di sektor informal dan UMKM ternyata hampir separonya terdampak dan data OJK yang mengajukan restrukturisasi perbankan mencapai Rp.550 triliun di semester I 2020 tetapi per 2 November menjadi Rp.934,8 triliun untuk 7,55 juta debitur. Realita ini didukung laporan survei ADB jumlah UMKM terdampak mencapai 48,4% dari total 60 juta.

Mengacu tantangan pangan 2021 maka dapat disimpulkan bahwa memacu pertumbuhan pertanian pangan dan komitmen terhadap nutrisi penduduk serta upaya mempertahankan pasokan pangan menjadi tanggung jawab bersama, baik sektoral atau lintas sektoral. Hal ini secara tidak langsung menegaskan isu pandemi menuntut ketersediaan pangan secara mudah dan murah untuk rakyat agar tetap terpenuhi kebutuhan pangan dan nutrisinya. Di satu sisi, jumlah kumulatif kemiskinan di republik ini juga menjadi tantangan bagi pemenuhan pangan karena kasus ini terkait dengan daya beli, sementara di sisi lain juga tidak mengabaikan fakta kondisi industrialisasi yang semakin terpuruk akibat terdampak pandemi covid-19. Realitas yang terjadi juga diperparah oleh ancaman resesi karena pertumbuhan minus. Jadi pemenuhan pangan di masa pandemi covid-19 sangat penting sehingga ketersediaanya secara mudah dan murah tidak bisa diabaikan dan ini menjadi tantangan bersama. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo