logo

Lalai Saat Dinas, Mangharuskan Waty Isolasi Di RS

Lalai Saat Dinas, Mangharuskan Waty Isolasi Di RS

Ilustrasi
29 Desember 2020 19:22 WIB
Penulis : Silli Melanovi

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sebut saja namanya Wati. Sebagai pegawai pemerintahan, Wati selalu disibukkan dengan dinas- dinas keluar kota. Kedudukannya sebagai Humas (hubungan masyarakat), Wati seringkali bepergian, baik dengan menggunakan transportasi udara ataupun darat. Terlebih dirinya yang masih single, maka acapkali dia mendapat tugas keluar kota. 

Rasa tanggung jawab yang besar terhadap tugas-tugasnya, maka setiap kali mendapatkan tugas, maka dia tidak bisa mengelak. Diakui Wati, dirinya seringkali was-was bila harus melakukan perjalanan keluar kota di tengah pandemi covid19. Wati khawatir satu saat dia akan lengah dengan protokol Covid19. Dan kekhawatiran itu terjadi. Saat dia lengah, dia pun harus isolasi di rumah sakit wilayah Jakarta timur. 

Semua berawal saat iya akan melakukan perjalanan dinas bersama beberapa teman kantor dan pimpinan. Seperti biasa, sebelum melakukan perjalanan dia dan rekan-rekan melakukan swab terlebih dahulu. Hasil swab menunjukkan mereka semua non reaktif. Baru beberapa hari usai melakukan perjalanan dinas ke Makasar,  Wati dan pimpinan pun lanjut dinas ke Jogyakarta. Sekembali dari Jogyakarta, Wati dan beberapa teman serta pimpinan melakukan swab di kantor tempat dia bekerja. Dan hasilnya mengejutkan. Apa yang selama ini ditakutinya terjadi. Bermula hasil swab pimpinan yang hasilnya reaktif, Wati dan teman-temannya pun reaktif. Bingung apa yang harus dilakukan, akhirnya Wati dan teman-temannya mengambil keputusan untuk isolasi di sebuah hotel. Setelah terlebih dahulu memberi kabar ke rumah. Karena, Wati tidak mungkin untuk isolasi mandiri di rumah, dikarenakan ayahnya pun sedang sakit parah dan dia khawatir ayahnya akan tertular. Dua hari isolasi mandiri di hotel, akhirnya Wati bisa mendapatkan tempat isolasi di rumah sakit dibilangan Jakarta Timur. 

Kecemasan pun melanda dirinya, karena sepulang dari Makasar dia beberapa hari tidur di rumah. Akhirnya dengan anjuran pihak puskesmas, kedua orang tuanya pun harus melakukan swab. "Selama menunggu hasil swab, betapa saya gelisah memikirkan papa saya. Sebab, di rumha, papa sedang sakit cukup parah. Saya takut orang tua saya tertular dan rasa bersalah pun ada di hati saya. Setiap malam saya sholat mendoakan kedua orang tua saya agar tidak terkena covid,"kata Wati lirih.

Rasa syukur tak terkira dia panjatkan kepada Tuhan, hasil swab kedua orang tuanya non reaktif. "Allah masih melindungi kedua orang tua saya. Selama isolasi di rumah sakit, saya tidak mendapati keluhan apapun. Layaknya orang sehat, saya merasakan badan saya sehat-sehat saja. Karenanya, Alhamdulillah saat swab kedua hasil swab saya dinyatakan negativ. Saya orang tanpa gejala (OTG) oleh karenanya, keesokan harinya saya diperbolehkan pulang,"kata Waty sambil tersenyum.

Namun, sampai di rumah dia pun tidak langsung berbaur dengan kedua orang tuanya, dia masih menjaga jarak dengan kedua orang tuanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Saya benar-benat bersyukur pada Tuhan, saya hanya OTG dan orang tua saya pun terhindar dari covid19,"jelasnya.

Namun, kata Waty, dia akan lebih perketat lagi kepedulian terhadap protokol covid 19. Untuk sementara ini, katanya, pihak kantor pun belum menugaskannya lagi untuk pergi dinas keluar kota."Mungkin saya akan mengurangi aktivitas dinas saya keluar kota dan semoga kantor pun tidak menugaskan saya lagi untuk dinas keluar kota," tutup Waty. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH