logo

Keluarga, Unit Terkecil Masyarakat Yang Perlu Diketahui Secara Mikro

Keluarga, Unit Terkecil Masyarakat Yang Perlu Diketahui Secara Mikro

Kepala BKKBN Dr dr Hasto Wardoyo, SP OG(K).(foto,ist)
21 Desember 2020 21:12 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Keluarga sebagai unit analisis terkecil dalam masyarakat perlu diketahui secara mikro. Perlu mendiagnosis keluarga sebelum dilakukan treatment.

"Untuk pembangunan kita bicara secara makro, sehingga tidak menyentuh hal-hal mikro keluarga. Seperti apa problem keluarga, kita tidak bisa memberi treatment yang tepat. Perlu mendiagnosis keluarga sebelum dilakukan treatment. Untuk itulah iBangga kami luncurkan," jelas Kepala BKKBN Dr dr Hasto Wardoyo Sp OG (K), saat peluncuran indeks Pembangunan Keluarga (iBANGGA), secara virtual dari Jakarta, Senin (21/12/2020).

Dikemukakannya, iBANGGA berbeda dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM), melalui iBANGGA masing-masing keluarga bisa dipotret secara mikro. Untuk kemudian dikelompokkan dalam indeks dengan unsur Tenteram, Mandiri, Bahagia. Ketiganya itu menjadi indeks iBaANGGA.

Dengan iBANGGA, potret keluarga menjadi lebih jelas. Masing-masing keluarga terdata dengan jelas dari banyak sisi. Termasuk adakah kasus KDRT, bagaimana ibadahnya, apakah sempat rekreasi.

"Tahun 2021 kita akan lakukan pendataan dengan mendatangi 77 juta keluarga. Masing-masing keluarga kita potret. Apakah ada kasus KDRT, apakah ibadah bagus, apa sempat rekreasi. Indikator yang ada untuk lihat apakah keluarga itu tenteram, mandiri, bahagia," ubgkap Kepala BKKBN.

Dia berharap, pembangunan nasional dikembangkan berbasis keluarga. Intervensi terhadap keluarga penting mengingat Indonesia tengah memasuki jendela peluang bonus demografi.

"Stunting, putus sekolah, angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, kawin muda, ciri-ciri ini tidak bisa petik bonus demografi yang akan menghasilkan bonus kesejahteraan," ujarnya.

Di sisi lain, dia mengatakan, tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini berbeda dengan sebelumnya. Hal ini karena BKKBN berada pada era, di mana generasi muda saat ini berbeda ekosistem dengan para orang tuanya.

Padahal, generasi ini cukup berpengaruh pada keberlangsungan pembangunan Indonesia di masa depan. Karena, jumlahnya cukup banyak, mencapai 64 juta.

"Mereka ini generasi yang akan membentuk keluarga. Kita (para orang tua) agak tergagap dalam mentransformasikan nilai-nilai luhur keluarga," ujarnya.

Untuk itu, lanjut Hasto, pola pewarisan perlu dicari bentuk yang tepat. Saat ini, belum ada bentuk yang formulasinya tepat. Tugas itu memang menjadi tanggungjawab BKKBN. BKKBN punya pekerjaan rumah karena menjalankan 8 Fungsi Keluarga.

"Untuk itu, kami membangun kerja sama dengan perguruan tinggi dan pakar untuk mencari pola itu," ucapnya.

BKKBN juga telah membangun dan mengembangkan program agar lebih terhubung dengan remaja. "Strateginya kita bikin teman sebaya. Contoh dengan meluncurkan tagline 'Hidup Berencana Itu Keren'. Biar BKKBN terhubung dengan milenial," jelas Hasto.***

Editor : Laksito Adi Darmono