logo

Balai Anak Antasena Mantapkan Penerapan ATENSI Dan Tingkatkan Kapasitas SDM

Balai Anak Antasena Mantapkan Penerapan ATENSI Dan Tingkatkan Kapasitas SDM

Dirje Rehsos Harry Hikmat.(foto, ist)
16 Desember 2020 17:37 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BANYUWANGI: Balai Anak Antasena selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik Kementerian Sosial (Kemensos) melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas sumberdaya manusia (SDM). Untuk merespon ditunjuknya balain itu sebagai pilot project Sentra Layanan Sosial (SERASI) dan mendukung implementasi Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).

Kegiatan diselenggarakan di Hotel Aston Banyuwangi, Jawa Timur, awal Desember diikuti 40 peserta, yang terdiri dari pejabat struktural, pejabat fungsional khusus, pejabat fungsional umum, serta PPNPN.

Kepala Balai Anak Antasena Faisal menerangkan, tujuan dari kegiatan itu ialah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman program ATENSI dan SERASI bagi para petugas Balai Anak Antasena. Sehingga, dalam penerapannya nanti dapat meminimalisir kesalahpahaman dan perbedaan persepsi.

Kegiatan itu juga diharapkan dapat meningkatkan kekompakan dan sinergitas antar pegawai. Agar dapat memberikan pelayanan yang prima kepada para pemangku kepentingan.

Sementara, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial (Dirjen Rehsos) Harry Hikmat, selaku salahsatu narasumber secara virtual dari Jakarta, Selasa (112/2020) menjelaskan, akan ada penyederhanaan nomenklatur balai, untuk menghindarkan peluang stigmatisasi terhadap anak, dan nantinya Antasena akan menjadi Balai Anak Antasena saja.

"Kita sudah mendapatkan legal standing yang kuat karena Permensos No. 16 Tahun 2020 Tentang Asistensi Rehabilitasi Sosial telah ditandatangani oleh Menteri Sosial. Dan ini adalah _omnibus law_ yang membuat nanti semua balai harus menyesuaikan dengan Permensos ini," tutur Harry.

Balai, lanjutnya, mendapat tugas melaksanakan pelayanan langsung ke penerima manfaat (PM) termasuk anak, keluarga, serta lingkungan sekitar. "Intinya kita tidak hanya berbicara mengenai anak yang memerlukan perlindungan khusus, anak terlantar dan anak jalanan," ujarnya.

Kemensos tidak berorientasi hanya bekerja untuk anak-anak, yang telah menjadi korban kekerasan, korban penerlantaran, korban diskriminasi, korban ekploitasi. Tapi, orientasinya kelak sebagai balai anak atau mempunyai fungsi _“Children Centre”_, sebagai pusat layanan anak. Maka anak tanpa terkecuali selama membutuhkan layanan sosial harus direspon sedemikian rupa.

"Karena itu, teman-teman harus mulai berpikir tidak mengkhususkan pada AMPK. Ini akan dituangkan nanti di Perdirjen tentang Operasional ATENSI” ujar Harry.

Ke depan, terang Dirjen Rehsos Harry Hikmat, orientasi tidak hanya Rehabilitasi Sosial, tapi juga Habilitasi Sosial, sejak usia dini. Kalau Rehabilitasi Sosial konsepnya orang perlu di refungsionalisasi, karena suatu hal bukan faktor sejak lahir.

"Namun, Habilitasi itu faktor sejak lahir. Saya juga dalam waktu dekat akan ke Balai Anak Antasena untuk membahas desain Sentra Layanan Sosial atau SERASI, dan juga _detail engineering design_ untuk renovasi Balai Anak Antasena. SERASI atau _Centrelink_. Seting ruangannya harus segera disiapkan, diharapkan seperti rumah sakit serta jaringan atau aplikasi _Centrelink System_ dengan semua layanan sosial” ungkap Harry.

Narasumber lain, yang mengisi kegiatan ini ialah Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kanya Eka Santi, Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Kemensos Amin Rahardjo, serta dari Inspektorat Jenderal yang diwakili oleh Auditor Madya Sri Handayani.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi menekankan pada pentingnya pelaksanaan _Foster Care_ atau Sistem Pengasuhan Anak. “Memastikan seluruh anak diasuh dalam keluarga dan memastikan anak tidak keluar dari asuhan keluarga," ujarnya.

Kecuali, imbuhnya, apabila anak dalam kondisi darurat yang mengharuskan anak keluar dari keluarga. Ibu tiri/ ayah tiri merupakan keluarga inti. Apabila keluarga inti tidak ada maka idealnya kita salurkan ke _foster care_, satu tahun kepengasuhan. "Kemudian ada perwalian, mm dvxxc. Cxvnn anak dan LKSA. Pengasuhan berbasis keluarga pengganti.” ujar Kanya.

Sedangkan, Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian Kemensos Amin Raharjo menyampaikan, tentang peran dan implementasi peralihan jabatan struktural menjadi jabatan fungsional. Tujuannya untuk menciptakan birokrasi yang lebih dinamis.

Amin juga mengatakan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan tidak hanya selama kegiatan peningkatan SDM, tetapi dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di tempat kerja dan ketika bepergian.

Inspektorat Jenderal Rehabilitasi Sosial yang diwakili Auditor Madya Sri Handayani menyampaikan, pentingnya administrasi pertanggungjawaban keuangan.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto