logo

Pemerintah Targetkan Pemutakhiran Data Kemiskinan Nasional Mulai 2021

 Pemerintah Targetkan Pemutakhiran Data Kemiskinan Nasional Mulai 2021

Menko PMK Muhadjir Effendy.(foto,ist)
15 Desember 2020 21:16 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Periode akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 merupakan masa pencapaian angka kemiskinan terendah bagi Indonesia. Namun, seiring terjadinya pandemi Covid-19, persentase penduduk miskin pada Maret 2020 kembali naik menjadi 9,78 persen atau meningkat 0,37 persen dari Maret tahun lalu.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, di Jakarta, Senin (14/12/2020) mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan kemiskinan di Tanah Air.

Di antaranya, melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) yang dipastikan masih akan berlanjut di awal 2021. Walau begitu, dikatakannya, salah satu kunci terpenting dalam upaya penanganan kemiskinan ialah terkait Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

DTKS digadang merupakan sumber data dalam penanggulangan kemiskinan, yang berisi profil lengkap Keluarga Penerima Manfaat (KPM). "Perlu diperhatikan betul, untuk DTKS ini pemerintah memiliki target akan melakukan pemutakhiran skala besar pada tahun 2021," ujarnya.

Selain melibatkan semua kementerian/lembaga (K/L), ujarnya, termasuk yang ada di bawah Kemenko PMK. Pemerintah daerah juga memiliki peran yang sangat penting dan diharapkan dapat ikut terlibat.

Disebutkannya, salah satu provinsi angka kemiskinannya di bawah level nasional, yaitu Provinsi Riau dengan jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 6,8 persen atau 483.390 jiwa. Sementara, untuk perbaikan DTKS-nya dari 12 kabupaten/kota masih ada 5 kabupaten/kota dengan persentase masih 0 persen.

Meskipun demikian, untuk Kabupaten Indragiri Hulu sudah memiliki capaian perbaikan DTKS mencapai 79,3 persen. "Saya senang angka kemiskinan di Provinsi Riau relatif jauh di bawah rata-rata nasional. Ini patut kita apresiasi dan untuk Kabupaten Indragiri tentu ini bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota yang lain dalam hal pemutakhiran DTKS,” tutur Menko PMK.

Lebih lanjut, diungkapkannya, masih terdapat banyak tantangan untuk mengatasi kemiskinan di Bumi Pertiwi. Mengingat luasnya wilayah, serta beragam kondisi sosial budaya dan karakteristik di tiap-tiap daerah, baik di kota maupun di desa dengan kondisi geografis yang berbeda-beda.

Karenanya, imbuhnya, penting untuk tiap daerah dapat mengenali dinamika kemiskinan yang ada di wilayahnya. Termasuk dalam menghadapi tantangan perkembangan ekonomi digital, yang menjadi buah simalakama, khususnya bagi masyarakat yang hidup di desa ataupun pedalaman.

“Literasi digital harus kita perluas, agar pemerataan ekonomi bisa menjangkau seluruh wilayah. Ke depan kita harapkan tidak ada lagi masyarakat miskin yang sulit mengakses peluang ekonomi, yang sejatinya sudah diberikan oleh pemerintah melalui bantuan sosial atau bantuan lainnya dalam mengembangkan perekonomian mereka,” papar Menko PMK.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto