logo

Pura Ulun Danu Beratan Ujung Tombak We Love Bali

Pura Ulun Danu Beratan Ujung Tombak We Love Bali

08 Desember 2020 21:03 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - BEDUGUL:  Pura Ulun Danu Beratan layak menjadi salah satu kawasan wisata yang masuk dalam program percepatan pemulihan pariwisata di Indonesia, khususnya di Bali dalam kampanye We Love Bali. Mengapa?

Ya, karena kalau Anda ingat gambar belakang mata uang Rp50 rb, di situ terdapat gambar Pura Ulun Danu Beratan. Artinya, Pura ini sudah ikonik hingga pemerintah Indonesia saja mengabadikannya dalam gambar mata uang Rupiah.

Di Pura Ulun Danu Beratan, wisatawan selain dapat berwisata kekinian juga sekaligus menikmati wisata religius. Pasalnya, Pura Ulun Danu Beratan adalah salah satu dari sembilan pura kahyangan jagat yang mengelilingi Pulau Bali, yang membuatnya jadi salah satu pura yang paling penting bagi masyarakat Bali. Khususnya umat agama Hindu. 

Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 5 Kompleks Pura dan 1 buah Stupa. Pura ini adalah tempat yang digunakan oleh umat Hindu di Bali maupun Indonesia untuk berhadapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam manifestasinya sebagai Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) dalam pengharapan untuk kesuburan tanah, kemakmuran dan kesejahteraan manusia, termasuk juga demi lestarinya alam semesta.

Secara historis, Pura ini dibangun oleh I Gusti Agung Putu pada Tahun Saka 1556 (tahun 1634 masehi). Secara geografis, Pura Ulun Danu Beratan terletak di ketinggian 1200 mdpl yang dikelilingi oleh perbukitan hijau serta pemandangan yang menyegarkan. Karena itulah aura sejuk selalu menyambangi destinasi ini.

Tempat ini telah menjadi salah satu landmark di Bali dan menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi oleh ribuan wisatawan domestik maupun internasional setiap tahunnya disaat mereka sedang berwisata di Bali.
Karena itu Pura Ulun Danu Beratan sangat layak masuk ke dalam Program We Love Bali, yang merupakan kerjasama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekrarf/Baparekraf) dengan Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Bali dan segenap unsur yang terlibat dalam pariwisata Bali.

“Pariwisata jadi salah satu sektor yang paling terdampak dari pandemi Covid-19. Bali sebagai destinasi utama di Indonesia mendapatkan pukulan paling telak akibat terbatasnya mobilitas masyarakat. Untuk memulihkan kondisi ini, sekaligus mengembalikan perekonomian masyarakat, Kemenparekraf/Baparekraf menggelar program We Love Bali, sekaligus memanfaatkan momentum akhir tahun 2020 dan meramaikan kembali pariwisata Bali mulai 2021,” beber Deputi Bidang

Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Minggu (6/12/2020).
"Tapi tidak hanya itu, melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment friendly (ramah lingkungan)," imbuhnya. 

We Love Bali menjadi bukti komitmen besar Kemenparekraf/Baparekraf. Menaikan lagi branding-nya, eksplorasi masif digulirkan melalui ‘We Love Bali’. 10 Program Famtrip yang telah dilaksanakan selama selama 2 bulan terakhir kini memasuki pengujung dan dilaksanakan pada 6-8 Desember 2020. 

Program We Love Bali jadi penegas implementasi CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability). Kemasannya melalui Familiarization Trip (Famtrip) media nasional dengan zonasi 5 destinasi utama Pulau Dewata. Secara keseluruhan program ini telah melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja serta 4.800 peserta dari masyarakat umum yang berasal dari Provinsi Bali.***

Editor : Laksito Adi Darmono