logo

Saksi Napoleon Pun Sebut-sebut Nama Bambang Soesatyo

Saksi Napoleon Pun Sebut-sebut Nama Bambang Soesatyo

terdakwa Napoleon Bonaparte
26 November 2020 11:20 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Seorang aktivis tidak setuju nama Ketua MPR Bambang Soesatyo dibawa-bawa dalam kasus red notice Djoko Tjandra. Agar tidak terjadi dampak negatif terhadap orang yang namanya dibawa-bawa itu, aparat penegak hukum (APH) perlu menjernih atau menuntaskannya.

“Kasihan yang bersangkutan (Bambang Soesatyo) kalau tidak betul ada keterlibatannya dalam kasus itu,” ujar aktivis antikorupsi yang tidak mau disebut jati dirinya itu di Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Sebagaimana diketahui nama Ketua MPR RI Bambang Soesatyo disebut-sebut dalam kasus pengurusan red notice terpidana Djoko Tjandra dengan terdakwa Tommy Sumardi. Hal itu terjadi saat Irjen Napoleon Bonaparte dihadirkan sebagai saksi.

Irjen Napolen menyebut nama Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Tidak itu saja, saksi Napoleon yang juga terdakwa terkait kasus sama juga menyebut Tommy yang didakwa menjadi perantara suap dari Joko Tjandra merupakan “orang” atau kepercayaan  Bambang Soesatyo yang kerap disebut Bamsoet tersebut.

Nama Bamsoet mencuat saat tim kuasa hukum Tommy Sumardi menanyakan kepada Napoleon ihwal istilah "Orang Bapak" yang tertulis dalam BAP Napoleon terkait pertemuan pertamanya dengan Tommy Sumardi. Penasihat hukum Tommy merasa rancu dengan keterangan dalam BAP tersebut, karena terdapat perbedaan dengan yang disampaikan Napoleon di persidangan dengan yang tersusun di BAP.

"Saksi menjelaskan di pertemuan pertama Pak Tommy menyampaikan dan menyebut nama petinggi Polri, kalau saya bandingkan dengan BAP bapak Nomor 18 tanggal 12 Agustus 2020, di situ bapak menceritakan pertemuan pertama, saya bacakan. Pertama kali bertemu Brigjen Prasetijo Utomo bersama Haji Tommy, Brigjen Pol Prasetijo mengenalkan Haji Tommy sebagai orangnya bapak. Saya tanya bapak siapa? Jawabannya ya bapak. Saya tanya lagi, siapa bapak? Dia menyebut Ketua MPR, Bambang Soesatyo," kata penasihat hukum Tommy Sumardi saat membacakan BAP Napoleon di persidangan.

Dalam BAP yang dibacakan kuasa hukum, Napoleon juga mengaku ingat, setahun sebelumnya saat Brigjen Prasetijo Utomo masih menjabat sebagai anggota Divisi Hubinter menawarkan untuk memperkenalkannya dengan Bambang Soesatyo yang ketika itu menjabat Ketua DPR. Napoleon saat itu masih menjabat Sekretaris NCB-Interpol. Napoleon menuturkan, Prasetijo mengajaknya ke rumah Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo di Kompleks Widya Chandra. Bahkan, dalam BAP disebutkan juga Napoleon sempat berkomunikasi lewat telepon genggam dengan Bamsoet.

"Pada waktu Brigjen Pol. Prasetijo membawa Haji Tommy dan dikatakan kepada saya ini orangnya Bamsoet, untuk meyakinkan kepada saya, saya dihubungkan kepada Bamsoet dan saya bicara dengan Bamsoet melalui telepon. Saya bicara izin ini saya di ruangan Kadivhubinter, Pak Ketua baik-baik saja? Ini Brigjen Prasetijo Utomo ada bareng saya, tidak lama saya bicara tapi saya meyakini, bahwa Brigjen Pol. Prasetijo dan Tommy sebelumnya sama-sama sudah menelpon ke Bamsoet dan menyambungkan ke saya. Yang lebih meyakinkan saya bahwa Brigjen Prasetijo membawa misi dengan atas sepersetujuan atau permintaan Bamsoet pada pertemuan kedua, " kata penasihat hukum saat membacakan BAP Napoleon. Kuasa hukum pun mempertanyakan perbedaan keterangan Napoleon. Dalam BAP, Napoleon menyebut nama Bamsoet, sedangkan di persidangan malam itu, Napoleon menyebut nama Listyo dan Azis Syamsuddin.

Napoleon menjelaskan saat pemeriksaan pertama dirinya mengaku tidak membawa data. "Semakin jelas waktu kami direkonstruksi, semakin jelas lagi setelah pada waktu kami praperadilan mendapatkan bukti yang dipegang oleh penyidik. Kami baru ingat lagi tanggalnya. Mengenai pertanyaan bapak, statement itu pernyataan itu, sebetulnya dalam BAP saya yang terakhir sebagai tersangka tanggal 17 September 2020 itu saya cabut," kata Napoleon.

BAP itu dicabut lantaran Napoleon merasa keterangan tersebut tidak terlalu berhubungan dan berkaitan dengan perkara yang menjeratnya tersebut. Dia mengaku tidak ingin melebarkan masalah yang tidak terkait. "Tapi kalau bapak tanya yang sesungguhnya terjadi, pada pertemuan pertama itu Haji Tommy memang menceritakan kedekatannya dengan Kabareskrim, yang dibuktikan dengan menenteng membawa seorang Brigjen Prasetijo yang merupakan pejabat utama di Bareksrim dan anak buah Kabareskrim semakin meyakinkan saya bahwa ini bukan orang sembarangan," tutur Napoleon.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH