logo

Saling Sindir Soal Demokrasi Yang Tidak Beres

Saling Sindir Soal Demokrasi Yang Tidak Beres

Anies Baswedan. (Instagram)
23 November 2020 19:13 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto dirinya mengenakan baju koko berwarna putih dan sarung cokelat sedang membaca buku berjudul 'How Democracies Die'. Ia membaca buku bernuansa politik itu sambil duduk menyilangkan kaki dengan latar belakang rak buku-buku koleksinya.

Anies mengunggah buku tersebut sambil menikmati suasana libur di akhir pekan. "Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," kata Anies di media sosial Instagramnya, @aniesbaswedan, Minggu (22/11/2020) pukul 00.31 WIB.

Melihat postingan tersebut, Partai Golkar DKI menilai Anies tengah mencari perhatian. "Kan biasa Pak Gubernur begitu, lagi cari perhatian atau lagi mengalihkan perhatian juga mungkin," ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Basri Baco, Minggu (22/11/2020).

Basri meminta Anies lebih fokus mengurus rakyat Jakarta. Terlebih, menurutnya, banyak janji kampanye Anies yang belum terpenuhi. "Seharusnya fokus urus rakyat Jakarta sajalah, banyak janji kampanye yang belum dipenuhi," katanya.

Sementara anggota Komisi III DPR RI Fraksi PPP, Arsul Sani justru menanyakan balik ke Anies maksudnya memposting kegiatan membaca buku tersebut. "Apakah menurutnya demokrasi kita ini akan mati kalau kondisinya seperti sekarang atau bagaimana?" ucapnya, Minggu (22/11/2020).

Sekjen PPP itu menilai makna dari konteks postingan Anies itu sebaiknya dikembalikan ke Anies agar tak menimbulkan tafsir sendiri-sendiri. "Mulai dari tafsir yang melihatnya sebagai hal biasa sampai pada tafsir tentang kegundahan Pak Anies dengan situasi yang dihadapinya," ungkap Arsul, dikutip dari Detik.com.

Lain Asrul Sani, lain pula pendapat Wasekjen PPP Achmad Baidowi yang lebih menilai kegiatan membaca buku Anies bukan dari kapasitasnya  sebagai ilmuwan namun juga sebagai pejabat publik atau politisi. Anies, kata pria yang akrab disapa Awiek itu, seolah-olah mencari perhatian agar mendapat atensi publik.

Menurut Awiek, Anies sengaja berupaya menarik simpati publik untuk menjaga elektabilitasnya di media sosial. Sebagai kepala daerah yang menduduki jabatan politik, popularitas Anies di medsos perlu dijaga supaya perhatian politiknya tetap mendapat perhatian tidak hilang begitu saja.

"Untuk menjaga elektabilitas di media sosial, popularitas di media sosial itu saya kira tetap perlu dan itu disiasati oleh seorang Anies yang menjabat gubernur sekaligus dan jabatan politik," ujar Awiek.

Diminta Fokus Tangani Pandemi

Sementara itu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) DKI Jakarta meminta Anies tidak terlalu banyak gimik dan lebih fokus pada penanganan pandemi Corona (Covid-19).

"Daripada memperbanyak gimik, saran saya, Pak Anies lebih tekun dan konsentrasi saja sama penanganan Covid-19 di Jakarta yang meningkat tajam akhir-akhir ini, buah dari ketidaktegasan beliau," kata Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Ima Mahdiah kepada wartawan, Minggu (22/11/2020).

Selain itu, Ima menilai seharusnya Anies fokus ke pembahasan masalah di DKI ketimbang menyampaikan gimik politik seperti ini. "Dan, juga pembahasan APBD 2021. Itu lebih penting daripada menyampaikan pesan-pesan politik seperti ini," tegas Ima.

Dukung Pernyataan JK

Terlepas dari itu, Anies Baswedan mengunggah postingan foto dirinya tengah membaca buku demokrasi di Instagramnya tampaknya untuk menyindir kehidupan demokrasi di Indonesia. Sekaligus, mendukung pernyataan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) tentang demokrasi di Tanah Air yang perlu dievaluasi menyusul fenomena kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, baru-baru ini, yang mendapat sambutan hangat para pendukungnya.

Sebelumnya, dalam Webinar yang diselenggarakan DPP PKS bertajuk 'Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Membangun Demokrasi yang Sehat' Jumat (20/11/2020), JK menjadi pembicara dalam webinar itu. JK angkat bicara mengenai fenomena Habib Rizieq yang meluas sehingga melibatkan TNI-Polri.

"Kenapa masalah Habib Rizieq Syihab begitu hebat permasalahannya sehingga polisi, tentara, turun tangan, sepertinya kita menghadapi sesuatu yang goncangnya yang ada. Kenapa itu terjadi, ini menurut saya karena ada kekosongan kepemimpinan yang dapat menyerap aspirasi masyarakat secara luas," kata JK dalam webinar itu.

"Adanya kekosongan itu, begitu ada pemimpin yang kharismatik katakanlah kharismatik, begitu, atau ada yang berani memberikan alternatif maka orang mendukungnya. Ini suatu menjadi, suatu masalah, Habib Rizieq itu adalah sesuatu indikator bahwa ada proses yang perlu diperbaiki dalam sistem demokrasi kita," tambah JK.

Lebih jauh terkait buku 'How Democracies Die' yang dibaca Anies di sela akhir pekannya, Ima Mahdiah berharap Anies belajar banyak dari buku itu terkait bahaya politikus berada di barisan yang sama dengan kelompok ekstremis.

"Jika dibaca sampai habis,  Levitsky dan Ziblatt (penulis buku) di buku itu benar-benar menjelaskan bagaimana berbahayanya jika politisi yang pragmatis dan oportunis bisa bergandengan tangan dan satu barisan dengan kelompok ekstremis. Semoga Pak Anies bisa belajar banyak dari buku tersebut," tutur Ima.

Senada dengan Ima,  mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menanggapi foto Anies Baswedan membaca buku demokrasi itu dengan memuji sang Gubernur, tapi lalu mengkritiknya.

"Bacaanmu bagus pak Gub. Demokrasi mati salah satunya karena politik identitas, jualan Tuhan, Surga, Ayat dan Mayat," cuit Ferdinand di akun Twitternya. @FerdinandHaean3, Minggu (22/11/2020).

Negara Diktator

Dilansir Detik.com, buku 'How Democracies Die' merupakan karya penulis profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku tersebut membahas beberapa pemimpin di dunia yang terpilih melalui Pilpres tetapi lekat dengan label 'diktator'.

Dalam bukunya, mereka mencatat bahwa kemunculan beberapa pemimpin diktator justru merupakan hasil dari pemilu. Demokrasi mati bukan karena pemimpin diktator yang memperoleh kekuasaan lewat kudeta, melainkan justru yang menang melalui proses pemilu.

Setidaknya hal ini mereka catat saat Donald Trump, yang diusung oleh Partai Republik, menang pada Pilpres Amerika Serikat (AS) tahun 2016. Trump unggul atas kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton. Padahal banyak lembaga survei lokal yang memprediksi kekalahan Trump. Trump diduga kuat menang karena berhasil memainkan isu rasisme kulit hitam dan menebarkan ketakutan melalui hoax.

Begitu terpilih, Trump langsung mengeluarkan pernyataan kontroversial yang semakin memunculkan kesan dia sebagai diktator. Beberapa di antaranya pernyataan perang yang diumumkan lewat akun Twitter pribadinya, rencananya membangun tembok perbatasan Meksiko-Amerika Serikat; kebijakan luar negeri Korea Utara dan Afghanistan yang memicu perang; reformasi pajak; sikapnya arogan pada media yang mengkritiknya, ketidakpercayaannya pada fenomena perubahan iklim; hingga yang paling kontroversial soal pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pada buku 'How Democracies Die', selain di Amerika Serikat, Brasil, Filipina, dan Venezuela, fenomena 'soal pemimpin yang menang pemilu namun terkesan diktator' ini terjadi di beberapa negara lain, misalnya Peru, Polandia, Rusia, Sri Lanka, Turki, dan Ukraina. ***

Sumber: Instagram, Detik.com, Twitter, 

Editor : Laksito Adi Darmono