logo

Alex Asmasoebrata Optimis Hakim Bakal Hukum Mafia Lelang Bank BOII

Alex Asmasoebrata Optimis Hakim Bakal Hukum Mafia Lelang Bank BOII

majelis hakim PN Jakarta Pusat tengah sidangkan kasus perbankan dengan terdakwa Ningsih Suciati
23 November 2020 12:38 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: HMAS Alex Asmasoebrata optimis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat bakal menghukum berat eks Dirut Bank Swadesi (kini BOII) Ningsih Suciati, yang diduga sebagai salah satu dari 21 mafia lelang agunan kredit Rita KK/PT RK.

Alasan politikus senior PDIP yang dikenal suka menolong warga yang dizolimi, dikriminalisasi dan dirugikan tersebut, di samping majelis hakim PN Jakarta Pusat pimpinan M Sainal SH MH jujur, berintegritas, bersih, independen juga selalu menjaga kehormatan hakim. Tidak itu saja, baginya kasus ini memprihatinkan sehingga ikut merasa prihatin akan apa yang dialami Rita KK.

“Saya optimis dengan hakim yang menyidangkan kasus perbankan ini bakal benar-benar memberi keadilan yang didambakan Rita KK/PT RK selama ini, atau sejak hampir puluhan tahun dimana mulai dia mulai berjuang mempertahankan hak-haknya berupa Villa Kozy yang dijadikan agunan kreditnya di bank namun dilelang secara ilegal,” tutur Alex di Jakarta, Senin (23/11/2020).

Untuk mempertahankan hak-hak Rita KK itulah, HMAS Alex mengirim surat permohonan pengawasan proses sidang perkara Nomor 469/Pid.Sus/2020/PN Jkt.Pst di PN Jakarta Pusat itu ke Komisi Yudisial (KY) sesuai dengan surat bernomor 0588/VI/2020/S. KY pun kemudian menyurati Ketua PN Jakarta Pusat dengan Nomor 470/PIM/PM.01/07/2020 tertanggal 23 Juli 2020 perihal mohon perhatian melakukan pemantauan mandiri.

Dalam surat KY ke PN Jakarta Pusat pada 8 Oktober 2020 yang ditandatangani Plt Sekretaris Jenderal KY Y Ambeg Paramarta itu diisyaratkan apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran kode etik dan  pedoman perilaku hakim, maka dapat dilaporkan kembali ke KY disertai dengan bukti pendukung.  “Institusi penegak hukum terkait dalam penyelenggaraan persidangan ini bersih, jujur, kredibel, independen dan tanpa intervensi telah menunjukkan eksistensinya dalam hal penanganan perkara. Saya yakin diantara mereka tidak ada lagi yang mau main-main dengan perkara yang cukup menarik perhatian ini. Mereka bakal memberikan keadilan bagi pencarinya (Rita KK) pada persidangan pembacaan putusan, Kamis (26/11/2020). Sebaliknya menghukum berat yang bersalah,” tutur HMAS Alex.

Menindaklanjuti permohonan dan harapan HMAS Alex Asmasoebrata itu juga, Badan Pengawasan (Bawas) Mahkamah Agung pun menyurati Ketua PN Jakarta Pusat. Dalam Surat Plt Kepala Bawas MA, Hj Lulik Tri Cahyaningrum tanggal 17 Juli 2020 disebutkan MA telah meneliti dan mempelajari dengan seksama pengaduan dan permohonan HMAS Alex Asmasoebrata. Berkaitan dengan hal itu tanpa mengurangi independensi dan kebebasan hakim dalam memutus perkara diminta Ketua PN Jakarta Pusat dan majelis hakim agar menaruh perhatian serta menjaga penanganannya agar sesuai prosedur yang berlaku.

Terdakwa Ningsih Suciati yang kini tengah menjalani hukuman terkait kasus perbankan berbeda berdasarkan putusan PN Jakarta Selatan, dalam kasus dugaan mafia lelang di Bank BOII sebelumnya telah dituntut lima tahun penjara oleh JPU Meilani Wuwung SH MH, Olla SH MH dan Rima SH MH. Selain itu, terdakwa juga diwajibkan membayar denda Rp 5 miliar atau menjalani kurungan (subsider) selama tiga bulan jika tidak mampu membayarnya.

Selama persidangan perkara Nomor 469/Pid.Sus/2020/PN Jkt.Pst itu, keterangan saksi dan ahli saling bersesuaian menguatkan adanya tindak pidana perbankan dilakukan terdakwa Ningsih Suciati bersama direksi, komisaris dan pimpinan Bank BOII. Hal itu sesuai dengan dakwaan dan kemudian tuntutan jaksa. Itu artinya, Ningsih Suciati yang dilaporkan sesuai surat tanda penerimaan laporan No.Pol:STPL/233/VI/2011/Dit Reskrim Polda Bali terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana perbankan sebagaimana dalam surat dakwaan kemudian tuntutan JPU pada persidangan sebelumnya.

“Mengenai berat atau ringannya vonis, saya menyerahkannya kepada yang mulia majelis hakim. Majelis lebih tahu hal itu. Hakim juga tentunya tahu kalau residivis iya dihukum lebih berat daripada terdakwa yang belum pernah melakukan tindakan kejatahan,” tutur Alex.***    

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto