logo

Klaim Sepihak, Gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia Pada Diri HRS

Klaim Sepihak, Gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia Pada Diri HRS

16 November 2020 08:43 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Syamsudin Walad

Semua orang tahu Habib Riziek Shihab (HRS) adalah seorang habaib. Bahkan sebagian besar ulama meyakini HRS memiliki sanad ke Rosulullah Muhammad SAW. Kita tak pernah mendengar bantahan atau sanggahan dari para ulama terkait hal ini. Termasuk yg berbeda pendapat dengan HRS. Kecuali dari mulut orang-orang awam yg kadung membencinya akibat sepak terjang Front Pembela Islam (FPI).

HRS memang Imam Besar FPI. Pengikutnya, jangan ditanya. Sama seperti NU dan Muhammadiah, FPI sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Wajar saja kiprahnya cukup ditakuti lawan-lawan politiknya. Meski FPI bukanlah partai politik.

Kembali ke sosok HRS. Sebagai pemimpin tertinggi FPI, HRS memang layak disematkan sebagai Imam Besar. Kiprahnya, perjuangannya dalam membesarkan organisasi sudah terbukti nyata. Kini FPI tampil sebagai ormas besar yang keberadaannya tak bisa diremehkan. Sosok HRS pun semakin membumbung saat dirinya mampu menggerakan massa 212 di Monas. Massa yang terkumpul saat itu disebut terbanyak di dunia, bahkan mengalahkan massa haji yang kuotanya dibatasi 2 juta orang. Sementara 212 kabarnya terkumpul hingga 7 juta orang dan mengekor hingga kiloan meter.

Sukses mengawal 212, nama HRS terus menggema. Sampai gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia disematkan kepada beliau. Sebab massa 212 bukan lagi massa FPI tetapi berbaur dengan massa umat Islam Indonesia yang merasa sakit hati dengan Ahok, Gubernur DKI Jakarta ketika itu. Ahok dianggap telah menistakan agama Islam dan Al Quran saat berkata "Jangan mau dibohongi Almaida 51".

Gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia yang disematkan oleh pengikut dan simpatisan HRS ini dimata sebagian orang dianggap sudah berlebihan. Meski sebagian lainnya menggangap hal itu pantas dan tak perlu diperdebatkan. 

Dalam sebuah kesempatan Ketua PBNU KH Said Aqil Siraj menyentil umat yang telah mengangkat HRS sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia. Ia menekankan agar tidak terlalu berlebihan dalam menghormati seorang habaib. Dalam penjelasannya, ia menilai selama ini tidak ada gelar Imam Besar Umat Islam, terlebih di Indonesia terdapat banyak faham pemikiran keagamaan yang berbeda yang hingga kini masih sulit disatukan.

Di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Said Aqil, memang mengenal gelar Imam untuk pemuka Mazdhab dalam Fiqh seperti Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Iman Hambali. Atau menyebut ulama peneliti dan kompilator hadits sebagai Imam, misalnya Imam Bukhary dan Imam Muslim. Tapi mereka tak pernah disebut Imam Besar.

Pada umumnya, mereka yang menjadi Imam Besar memang bukan orang sembarangan. Harus memiliki tingkat keilmuan yang luas, khususnya Islam dan telah ditempa berbagai   gelombang kehidupan. Tapi bisa pula itu terikat pada tempat ibadah tertentu (di suatu tempat; misalnya Imam Besar Mesjid Istiqlal), sesuai dengan (tak jauh beda dengan) makna dan fungsinya pada masa lalu. Atau bisa pula disematkan pada pemimpin dalam organisasi Islam yang oleh anggota dan simpatisannya telah disepakati bersama.

Namun jika gelar Imam Besar itu dikaitkan dengan umat Islam Indonesia maka ini menjadi kontroversi. Ada dua ormas Islam besar di Indonesia NU dan Muhammadiah yang tak pernah setuju dengan sebutan Imam Besar Umat Islam Indonesia. Keduanya bahkan lebih mempresentasikan umat Islam di Indonesia ketimbang FPI. Semisal dalam hal ibadah antara yang qunut dan yang tidak dalam sholat subuh. Yang tahlil dan yang tidak dalam hal kematian.

Terlepas dari itu, Allah memang telah mengangkat drajat HRS. Tempaan fitnah dan bully yang menimpa HRS membuat dirinya semakin menuai simpati umat Islam. Semakin ditekan, semakin muncul kepermukaan. Kepulangannya ke Indonesia yang disambut jutaan orang menjadi pukulan lawan-lawannya. Terima tidak terima, itulah kehendak Allah SWT. Karunia Allah yang begitu besar inilah yang sebenarnya menjadi beban dan godaan HRS. Masihkan kedepan beliau tetap istiqomah dan tawadu? Atau malah berubah jadi angkuh, sombong dan takabur?

Di masa sahabat nabi, sosok Khalid bin Walid mungkin bisa dilihat sebagai sosok yang tawadu. Dia seorang panglima yang tak terkalahkan di setiap medan perang. Hingga ia dijuluki sebagai "Pedang Allah" oleh umat Islam. Julukan ini membuat khalifah Umar bin Khatab risau. Bukan khawatir Khalid akan menjadi sombong dan takabur. Karena beliau mengenal betul khalid yang istiqomah. Umar khawatir penghormatan yang berlebihan akan mengarah pada pengkultusan individu. Umar takut pasukannya akan bergantung pada khalid melebihi bergantungnya mereka kepada Allah SWT saat di medan perang. Akhirnya Umar pun menurunkan Khalid tak lagi menjadi panglima perang dan menunjuk sahabat lain sebagai panglima perang. 

Diturunkan menjadi prajurit biasa tidak membuat Khalid sakit hati atau risau. Ia tetap istiqomah berjuang di jalan Allah. Dan tanpa dipimpin Khalid umat Islam tetap menang di medan perang. Sungguh Khalid menjadi pemimpin yang memiliki budi luhur dan akhlak yang patut dicontoh.

Kembali ke HRS, penulis dalam hal ini tentu menghormati dan mengagumi sosok HRS. Sebagai pejuang amar maruf nahi munkar, beliau patut dihormati. Tapi penulis berusaha berpikir jernih. Sudah layakkah HRS diberi gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia?***

Syamsudin Walad

Wartawan Suarakarya.id