logo

3 M Dan 3 T Harga Mati, Kata Mama

Yacob Nauly/skid

3 M Dan 3 T Harga Mati, Kata Mama

15 November 2020 02:08 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Yacob Nauy

Pesan  “Mama”, jaga kesehatan. Mama  (ibu) di mana pun di dunia ini pasti menasehati  putra -  purtinya,  menjaga kebersihan tubuh. Seperti   mandi apalagi mencuci tangan sebelum makan, adalah bagian dari  (3M). Selanjutnya, jika  Mama  mengecek suhu tubuh anak tinggi, langsung  dibawa ke dokter atau diobati ini pun  mama telah mempraktekkan  (3 T). 

Anekdot  di atas,  penulis analog-kan   ke penerapan  3 M dan 3 T. Artinya, kepada  putra putri  penerus bangsa  Indonesia,  3 M dan 3 T itu harga mati, seperti  pesan Negara  (ibu Pertiwi).  Bermakna  bahwa,  upaya,  memutus penyebaran   virus corona (Covid-19) di negeri kita tercinta, (Indonesia ) melalui  3 M dan 3 T itu sampai kapan pun  terus  dilakukan oleh masyarakat dan Negara. Karena, kita  akan hidup bersama  covid, sama seperti sejumlah virus lainnya yang sudah ada  sejak lama.

Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan  (3 M) adalah upaya  individu dan kelompok masyarakat untuk menjaga diri dari serangan virus. Sedangkan  3T (Tracing, Testing, Treatment) adalah tugas  pemerintah melalui badan yang ditunjuk  untuk melakukan  ini.

Membaca situasi terakhir memang  penerapan  3 M dan 3 T bakal berjalan  bersamaan dengan penyebaran  virus corona  yang terus  mengembara  di bumi kita ini.  Contohnya,  folio, Kolera, TBC  dan masih banyak lagi hingga kini  masih  berdampingan   bersama manusia.

3M dan3T Putus Covid-19 

  Penerapan praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Kedua hal tersebut adalah upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

 Hanya saja, penerapan praktik 3T masih perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat, mengingat masyarakat lebih mengenal 3M yang kampanyenya dilakukan terlebih dahulu dan gencar.

Penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala, mengatakan, “3M banyak membicarakan tentang peran  manusia  sebagai individu. Sementara 3T berbica ratentang bagaimana kita memberikan notifikasi atau pemberitahuan pada orang di sekitar kita untuk waspada.

“ Jadi memang ada satu proses yang tidak hanya melibatkan individu. Tapi, juga orang yang lebih banyak”,katanya dalam Dialog Produktif bertema Optimisme Masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment) yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN),Kamis (12/11/2020) lalu.

3T terdiri dari tiga kata yakni pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). Monica mengungkapkan pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, kita bisa menghindari potensi penularan ke orang lain.

Lalu, pelacakan dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif Covid-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut. “Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktik pertama (testing)”, kata Monica.

Kemudian, perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif Covid-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, maka orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.

Hingga saat ini, Monica mencatat ada tiga indikator yang menjadi standarisasi pemeriksaan Covid-19 yakni, jumlah spesimen, kecepatan hasil pemeriksaan, dan rasio positif. “Di Indonesia angka testing rata-rata mencapai 24.000-34.000 orang per hari”,jelas Monica.

Dari segi kapasitas laboratorium yang dimiliki Indonesia sangat memadai untuk melakukan pemeriksaan sesuai standar WHO. Kapasitas tes di laboratorium hampir 80.000. Kendalanya justru pada individu, ketika seseorang menunjukkan gejala Covid-19, kontak eratnya takut untuk memeriksakan diri (testing). “Setiap orang harus mengambil peranan untuk memutus rantai dengan berpartisipasi kooperatif menerapkan 3M dan 3T”,ujar Monica.

Sementara itu, Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan mengemukakan masi hada 29 persen masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya, 99 persen masyarakat mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah pada hal kenyataannya justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Kampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T”,jelas Soeprapto.

Selanjutnya Soeprapto mengemukakan salah satu faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat.  Pemerintah perlu menghimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif Covid-19, namun memberikan dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata public bisa menghilang.

Menurut Monica ada beberapa strategi yang dilaksanakan pemerintah untuk memperkuat upaya perubahan perilaku di masyarakat yakni, kampanye 3M, sedangkan 3T dengan melakukan deteksi awal penyebaran Covid-19 dengan testing dan tracing yang tepat sasaran, sementara untuk treatment pemerintah memperkuat manajemen perawatan pada pasien Covid-19.

Meski pun vaksin Covid-19 nantinya sudah ditemukan dan bisa didistribusikan, perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan. “Kalau misalkan mendapatkan vaksin Mei atau Juni (2021), kebiasan terhadap 3M dan 3T harus tetap kita jalankan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa Covid-19 sudah tidak ada”, katanya.

Monica pun menambahkan. “ Jadi dengan 3M dan 3T sama pentingnya dan satu kesatuan, kita berupaya memutus mata rantai penularan Covid-19 dengan kita melindungi diri dan melindungi sesama”, tambah  Monica.

“Saatini 3M masih satu-satunya cara “vaksin” paling ampuh. Jadi kita harus konsisten dan jangan lengah untuk melakukan 3M. Bersamaan dengan itu kita semua serta masyarakat harus mendukung pelaksanaan 3T, terutama dalam hal testing. Karena apabila masyarakat tidak mau melakukan testing, maka tracing tidak akan terjadi,”ujarnya.

Kesimpulan,

Seperti anjuran  “Mama”  anak bangsa ini  sudah  berkemampuan.  Yang dibutuhkan saat ini  semua orang  bisa ikut  kampanyekan dan  sosialisasikan  protokol kesehatan di lingkungan RW/RT  kita masing-masing.  Sosialisasi itu  harus  kombinasikan  3T dan 3M  kepada masyarakat sekitarnya.

Kepada masyarakat juga diimbau bahwa ketika Covid-19  dapat dikendaikan maka  pertumbuhan ekonomi mulai menggeliat lagi seperti semula. Yang jelas  ketika  pandemi dapat dikendali seperti  wabah lainnya maka lompatan  ekonomi  akan berjalan sesuai yang diharapkan. Terpenting  ingat  3 M, Dan 3 T Harga Mati , Kata Mama” ( Sumber tulisan ini : Siaran Pers Tim Komunikasi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional  juga   Referensi  lainnya). ***

Yacob Nauly: Wartawan suarakarya.id, Pemegang Kartu Utama UKW Dewan Pers, Mantan Ketua PWI Sorong, Sekretaris Dewan Penasehat PWI Sorong,Papua Barat saat ini