logo

Pandemi Covid-19, Pengunjung Museum Radya Pustaka Solo Turun Drastis

Pandemi Covid-19, Pengunjung Museum Radya Pustaka Solo Turun Drastis

Museum Radya Pustaka Solo
11 November 2020 22:34 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Selama pandemi Covid-19, jumlah pengunjung di Museum Radya Pustaka Solo mengalami penurunan drastis. Museum yang berada di Jalan Slamet Riyadi Solo tersebut, sempat ditutup saat Solo dikatakan KLB (Kejadian Luar Biasa) Covid pada bulan Maret lalu dan baru dibuka kembali bulan Juni.

Sejak bulan Juni hingga saat ini, rata-rata pengunjung museum tertua di Indonesia tersebut hanya 300 sampai 500 pengunjung per bulan. Sebelum masa pandemi jumlah pengunjung dalam satu bulan bisa mencapai 1.000 orang dan sebagian besar dari kalangan pelajar.

"Kalau museum sudah dibuka tapi untuk ruang perpustakaan atau ruang manuskrip masih kami tutup untuk umum. Kecuali untuk keperluan riset, biasanya mahasiswa yang ingin mencari bahan skripsi maupun tesis," jelas Edukator Museum Radya Pustaka Solo, Soemarni Wijayanti, Rabu (11/11/2020).

Menurut Yanti, perpustakaan belum melayani umum untuk menghindari banyaknya orang yang memegang buku-buku koleksi kuno. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi.

"Biasanya di perpustakaan dalam satu meja bisa ada empat sampai lima orang. Jadi tidak berjarak, sehingga sampai saat ini masih ditutup," jelasnya lagi.

Mahasiswa dan peneliti yang ingin mencari bahan di perpustakaan Museum Radya Pustaka juga tidak bisa sembarangan masuk. Mereka harus mengajukan izin terlebih dahulu ke UPT Museum Solo.

"Kalau saat ini masih ada mahasiswa yang datang tapi hanya satu atau dua orang saja," katanya.

Museum Radya Pustaka beroperasi setiap hari Selasa-Minggu mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Sedangkan hari Senin libur. Pengunjung yang ingin masuk ke museum tidak dikenakan biaya alias gratis.

"Masih gratis karena belum ada aturannya sejak dialihkan dibawah Pemkot Solo," katanya lagi.

Selama pandemi Covid-19, pengunjung museum juga diwajibkan mematuhi protokol kesehatan. Mereka wajib mengenakan masker dan sebelum masuk museum juga harus mencuci tangan dengan sabun yang telah disediakan di depan museum.

Meskipun masih digratiskan, tapi tidak banyak pengunjung yang datang. Sebagian besar masih dari dalam kota dan beberapa dari luar kota seperti Surabaya dan lainnya.

"Kalau pengunjung dari luar negeri belum ada karena memang kondisi pandemi belum banyak wisatawan asing yang bepergian," ujarnya.

Salah satu pengunjung museum, Larasati mengaku sengaja datang ke museum tersebut untuk melihat koleksi benda-benda kuno.

"Sekaligus menambah wawasan. Apalagi saat pandemi seperti saat ini belum banyak tempat wisata yang dibuka, ini jadi salah satu alternatif," katanya.

Museum Radya Pustaka didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890. Di dalam museum, pengunjung bisa melihat koleksi benda-benda kuno. Diantaranya berbagai jenis wayang, berbagai jenis keris dan senjata lainnya.

Ada juga koleksi mata uang kuno, keramik kuno. Di bagian lain juga terdapat seperangkat gamelan kuno. Di salah satu ruangan juga dipajang hiasan untuk kepala kapal yang bernama Kyai Rojo Molo yang berbentuk raksasa. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH