logo

Pola Perjalanan Overland, Kemenparekraf Ingin Pariwisata Flores Berbasis Partisipasi Warga

Pola Perjalanan Overland, Kemenparekraf Ingin Pariwisata Flores Berbasis Partisipasi Warga

11 November 2020 15:32 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - FLORES: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menyusun pola perjalanan overland Flores. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ayana Komodo Resort Labuan Bajo kepariwisataan Flores tengah disusun secara holistik. 


Pada kesempatan tersebut, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani berharap pariwisata Flores tak menegasikan keberadaan masyarakat sebagai basis utama pengembangan industri pariwisata. "Kembangkan pariwisata Flores ini dengan konsep community participation. Kalau tidak tidak ada manfaatnya untuk masyarakat, percuma kita berbicara pariwisata. Basis pariwisata itu adalah masyarakat. Pariwisata itu dikembangkan untuk masyarakat," tegas Rizki Handayani di sela acara, Rabu (11/11/2020).

Bukan tanpa alasan hal itu disampaikannya, sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi destinasi, maka pariwisata memiliki multiplier effect yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, perempuan yang karib disapa Kiki itu menilai salah satu komponen penting dari pariwisata adalah tour atau perjalanan. Untuk itulah pola perjalanan overland Flores ini dibuat dengan tujuan menjadi pedoman tak hanya kepada wisatawan, tetapi juga pelaku usaha untuk meningkatkan destinasi wisata mereka. 

"Pariwisata itu tour. Maka kita harus mengoptimalisasi resort yang ada untuk masyarakat. Dan ini harus ada pelatihan. Pola perjalanan overland Flores ini akan disusun oleh tim yang terdiri dari akademisi, pelaku wisata, masyarakat dan unsur lainnya," papar Kiki.

Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf, Alexander Reyaan menambahkan, pola perjalanan overland ini diharapkan tak hanya menaikkan kualitas destinasi wisata yang sudah ada, tetapi juga menjadi stimulus untuk menciptakan obyek wisata baru potensial di Flores. "Pola perjalanan ini tidak bermakna kalau tidak dijalankan menjadi obyek wisata," tegas dia. Di sisi lain, Alex, sapaan akrabnya, berharap pola perjalanan dibuat secara terpadu tanpa melihat batas-batas administrasi wilyah. "Karena wisatawan tidak akan bertanya mereka sedang berada di daerah mana. Jadi, kabupaten-kabupaten yang ada di Flores ini lepaskan batas wilayah dalam penyusunan pola perjalanan overland ini," pinta Alex.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Labuan Bajo, Agustinus Rinus berharap tak hanya dari aspek pola perjalanan overland saja yang didukung, tetapi juga transportasi untuk kemudahan menjangkau destinasi yang telah dirumuskan. Terutama katanya untuk aksesibilitas darat yang memudahkan wisatawan menuju destinasi yang ingin ditujunya. "Misalnya kereta api cepat lintas Flores untuk mendukung pola perjalanan overland ini. Ini bukan mimpi. Saya punya keyakinan Labuan Bajo ini akan menjadi destinasi wisata unggulan nasional. Maka, fasilitas pendukungnya juga harus kita pikirkan," papar dia.

Apalagi, kata dia, pemerintah menetapkan Flores, khususnya Labuan Bajo sebagai kawasan wisata premium. "Tolong dikaji dengan baik moda transportasi di kawasan wisata premium itu seperti apa. Sebab kalau tidak, maka akan timbul persoalan dalam hal tersebut, karena keamanan ini menjadi tantangan yang berat," ucap dia. ***

Editor : Markon Piliang