logo

Sekongkol Lelang Agunan, Eks Dirut BOII Dituntut Lima Tahun

Sekongkol Lelang Agunan, Eks Dirut BOII Dituntut Lima Tahun

terdakwa Ningsih Suciati
20 Oktober 2020 09:55 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dugaan persekongkolan jahat yang dilakukan eks Dirut Bank Of India Indonesia (BOII) Ningsih Suciati SE bersama-sama dengan direksi, komisaris dan pimpinan bank yang dulu bernama Bank Swadesi itu mulai terkuak dan terbukti dalam proses hukum di pengadilan.

Salah satu dari 21 yang diduga terlibat atau pelaku dalam kasus lelang ilegal agunan debitur PT RK/Rita KK tersebut, Ningsih Suciati,  akhirnya dituntut lima (5) tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum  (JPU) Meilany Wuwung SH MH,  JPU Olla dan Rima di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (19/10/2020). Sedangkan 20 lainnya masih menunggu giliran menjalani proses hukum sesuai perbuatannya.

Terdakwa Ningsih Suciati yang juga pernah menjalani hukuman terkait kasus perbankan lainnya, diwajibkan JPU pula untuk membayar denda Rp5 miliar atau jalani kurungan selama tiga bulan apabila tak sanggup membayarnya. "Terdakwa Ningsih Suciati terbukti secara sah dan meyakinkan melnggar pasal 49 ayat 2 huruf b Undang-Undang (UU) tentang Perbankan," demikian JPU Olla saat bacakan requisitor dalam sidang pimpinan M Sainal SH MH di PN Jakarta Pusat, Senin (19/10/2020).

Dalam tuntutan JPU dari Kejaksaan Agung yang cukup tebal itu disebutkan pula bahwa tindak kejahatan perbankan yang merugikan debitur PT RK/Rita KK tersebut dilakukan terdakwa tidak sendirian. Melainkan bersama-sama dengan direksi, komisaris, pimpinan dan bankir di Bank Swadesi yang kini menjadi Bank BOII.

Akibat perbuatan Ningsih Suciati tersebut, debitur PT RK/Rita KK menderita kerugian miliaran rupiah. Agunan pinjamannya berupa villa Kozy di Seminyak jadi dilelang Bank Swadesi/BOII tidak sesuai prosedur hukum yang berlaku. Harga lelang villa yang lokasinya strategis itu diduga diciutkan sedemikian rupa oleh kreditur sementara pemiliknya tetap berhutang atau tetap ditagih kreditnya.

"Perbuatan terdakwa tidak mengindahkan asas kehati-hatian dan ketaatan dalam pelaksanaan pelelangan agunan kredit debitur," tutur jaksa.

Debitur Rita KK/PT RK melaporkan ke Kepolisian 21 direksi, pimpinan dan bankir-bankir Bank Swadesi/Bank BOII atas dugaan tindak pidana perbankan atau lelang agunan pinjamannya. Diantara ke-21 orang tersebut, salah satunya Ningsih Suciati.

Fakta-fakta yang terungkap selama persidangan dalam kasus perbankan ini, rekayasa dilakukan terdakwa bersama direksi dan komisaris Bank Swadesi/Bank BOII atas agunan debitur. Padahal, Rita KK/PT RK bukanlah debitur/nasabah baru bagi Bank Swadesi/BOII. Pengusaha itu sudah 21 tahun menjadi nasabah/debiturnya.

Tidak itu saja, Rita KK juga mengirim surat lima kali untuk memohon restrukturisasi atas kreditnya namun selalu ditolak dan tak digubris para pengelola Bank BOII. Bahkan janggalnya lagi Bank Swadesi/Bank BOII tidak mau bekerjasama mencari solusi dengan debiturnya. Bank Swadesi/BOII sedemikian ngebut dan lakukan berbagai upaya agar obyek agunan kredit Rita KK/PT RK dapat dilelang secepatnya yang tentu saja mengakibatkan harga sangat rendah dan tanpa ada independent appraisal. Ironisnya, begitu agunan usai dilelang seketika diagunkan lagi oleh pembeli lelang untuk mendapatkan pinjaman kredit berlipat-lipat dari nilai lelang atau pembelian jaminan tersebut. Inilah salah satu bukti kuat adanya pelelangan agunan secara pesanan.***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto