logo

Kolaborasi Kao, Apical, Asian Agri, Luncurkan ‘SMILE’ Bantu Petani Sawit

Kolaborasi Kao, Apical, Asian Agri, Luncurkan ‘SMILE’ Bantu Petani Sawit

Petani sawit.
17 Oktober 2020 11:15 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Tiga perusahaan terkemuka dalam industri kelapa sawit --Kao Corporation, Apical Group, dan Asian Agri-- meluncurkan inisiatif baru di bidang keberlanjutan untuk membantu petani swadaya kelapa sawit di Indonesia dalam meningkatkan produktivitas, memperoleh sertifikasi internasional, dan mendapatkan premi dari penjualan minyak sawit yang bersertifikat.

SMILE atau Smallholder Inclusion for Better Livelihood & Empowerment adalah program kolaborasi antara Kao corporation (sebagai produsen hilir), Apical Group (sebagai midstream processor, eksportir, dan trader), serta Asian Agri (sebagai produsen hulu).

Inisiatif yang akan berlangsung selama 11 tahun ini berupaya untuk membangun rantai nilai minyak sawit yang lebih berkelanjutan melalui kerja sama dengan petani swadaya. Hal ini didukung oleh petani swadaya yang telah berkontribusi di atas 28% dari keseluruhan pasar minyak sawit di Indonesia.

Kolaborasi ini, sesuai rilis yang diterima Sabtu (17/10/2020), dibentuk setelah melihat adanya kendala yang dialami petani swadaya sebagai pengusaha swasta dalam meningkatkan produktivitas kebun mereka akibat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan teknis.

Sebagai minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia, minyak sawit memiliki berbagai jenis kegunaan seperti untuk makanan olahan, minyak goreng, bahan baku biodiesel, dan bahan baku pembuatan deterjen. 

Keragaman fungsi ini membuat produksi minyak sawit global dapat mencapai 75 juta ton per tahun dan diprediksi akan mencapai 111,3 juta ton di tahun 2025. 

Oleh karena itu, Indonesia memberi fokus lebih besar dalam meningkatkan produktivitas minyak sawit dengan meminimalisir kebutuhan ekstensifikasi lahan pertanian yang ada. 

Hal itu tidak hanya membantu menjaga ketahanan pangan tetapi juga menyeimbangkan kebutuhan sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Kao Corporation, Apical Group, dan Asian Agri melaksanakan aktivitas sesuai dengan kerangka kerja yang disediakan oleh RSPO dan memastikan penelusuran hingga ke perkebunan kelapa sawit untuk membangun rantai pasokan yang ramah secara lingkungan dan sosial. 

Di saat industri kelapa sawit telah bergerak maju dengan skema sertifikasi nasional seperti ISPO dan internasional seperti RSPO, sertifikasi untuk petani swadaya baru mencapai momentum. 

"SMILE hadir untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan petani swadaya melalui kemitraan dan pemanfaatan pengalaman dan keberhasilan Asian Agri yang telah membangun kemitraan jangka panjang bersama petani swadaya," ujar Managing Director Asian Agri Kelvin Tio.

SMILE akan mengerahkan tim ahli yang berpengalaman luas di bidang manajemen perkebunan dan agronomi untuk bekerja dengan 5.000 petani swadaya yang mengelola 18.000 hektare perkebunan di Provinsi Sumatera Utara, Riau dan Jambi. 

CEO Kao Corp. Michitaka Sawada, mengatakan, melalui berbagai seminar dan lokakarya yang dirancang khusus, tim SMILE akan melakukan banyak kegiatan. Di antaranya:

- Mengedukasi petani tentang cara meningkatkan produktivitas, mengelola perkebunan secara berkelanjutan, dan pentingnya untuk tetap berkomitmen pada praktik-praktik berkelanjutan seperti nol-deforestasi, kebijakan tanpa bakar, dan nol-eksploitasi;

- Memberikan bantuan untuk sertifikasi RSPO;

- Memberikan pelatihan tentang cara menerapkan langkah-langkah keamanan di perkebunan dan peralatan keamanan (termasuk helm pengaman, sarung tangan, dan alat pemadam kebakaran).

Peningkatan dan penyediaan peralatan ini akan dilaksanakan dari tahun 2020 hingga 2030 dengan tujuan membantu petani swadaya memperoleh sertifikasi RSPO di tahun 2030. 

Setelah disertifikasi, petani akan memenuhi syarat untuk menerima premium minyak sawit bersertifikat dengan rata-rata 5% lebih tinggi dibandingkan minyak sawit yang tidak bersertifikat. 

"Sebagai bagian dari persyaratan RSPO dan komitmen perusahaan dalam membantu masyarakat mewujudkan UN Sustainable Development Goals (SDGs), SMILE mengikutsertakan inisiatif yang memromosikan inklusivitas dan peningkatan mata pencaharian melalui pemberdayaan masyarakat," ujar Michitaka.

Pencapaian tujuan peningkatan mata pencaharian petani swadaya ini akan dilakukan melalui peningkatan produktivas dengan nol-deforestasi, nol-lahan gambut, dan nol-eksploitasi. 

Presiden Apical Group, Datao’ Yeo How mengungkapkan, selama pelaksanaan SMILE, ketiga perusahaan akan secara rutin melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti LSM, NPOs, dan tokoh masyarakat untuk memastikan pelatihan yang kompeten, alokasi peralatan yang memadai, dan penyaluran kebutuhan yang tepat waktu di tingkat perkebunan dan masyarakat, serta optimalisasi kolaborasi dalam membangun rantai pasok yang berkelanjutan dan dapat dilacak. ***

Editor : Laksito Adi Darmono