logo

Balai Litbang Kemenperin Siap Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Industri 4.0

Balai Litbang Kemenperin Siap Fasilitasi Pemanfaatan Teknologi Industri 4.0

Kepala BPPI Kemenperin Doddy Rahadi.
28 September 2020 18:42 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Perindustrian terus membuat terobosan baru dengan memanfaatkan konektivitas teknologi di sektor industri. Salah satunya dengan mendorong balai-balai binaannya yang tersebar di seluruh Indonesia agar bisa bertransformasi menjadi unit kerja yang lebih inovatif, sejalan dengan implementasi industri 4.0 untuk menyiasati adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19.

Hal itu merupakan salah satu bahasan utama pada Focus Group Discussion tentang Ekosistem Inovasi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin di Balai Besar Tekstil Bandung pada Kamis (24/9/2020).

Kepala BPPI Kemenperin, Doddy Rahadi menyampaikan, balai industri yang dimiliki oleh Kemenperin saat ini dianggap sebagai lembaga terdepan dalam menerapkan inisiatif peta jalan Making Indonesia 4.0. 

“Upaya ini akan terus kami kembangkan untuk menyosialisasikan, menciptakan dan testing solusi industri melalui jasa konsultasi, jasa sertifikasi, jasa pelatihan dan jasa pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan,” tuturnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (28/9/2020).

Dalam rangka mewujudkan ekosistem inovasi industri 4.0, BPPI telah menyusun panduan tentang Learning Factory Industri 4.0 dan assessment Technoware, Infoware, Humanware, dan Organware (TIHO) sebagai tools yang digunakan oleh Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri dalam meningkatkan pelayanan kepada dunia usaha dengan memanfaatkan penerapan teknologi industri 4.0.

Doddy menjelaskan, Learning Factory Industri 4.0 merupakan sebuah platform yang memuat metode penerapan industri 4.0 bagi perusahaan manufaktur di tanah air dengan melibatkan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, yang senantiasa mendukung kemajuan sektor perindustrian di Indonesia.

“Tingkat keberhasilan Learning Factory Industri 4.0 tidak hanya diukur dari sisi ekonomi, tetapi juga dari keuntungan intangible, seperti jumlah industri yang menerapkan industri 4.0, jumlah SDM yang up skilling, jumlah teknologi tepat guna, dan jumlah paten yang dihasilkan,” ujarnya.

Untuk mendukung balai dalam membuat Learning Factory Industri 4.0 tersebut, Kemenperin juga telah melakukan assessment THIO untuk melihat sejauh mana kondisi kesiapan teknologi, SDM, serta sistem informasi dan organisasi yang dimiliki.

Identifikasi kendala dan pain point yang dihadapi merupakan hal sangat penting karena akan menjadi landasan rekomendasi untuk membuat demonstrasi dalam pemanfaatan teknologi industri 4.0. Salah satunya adalah ketersediaan jaringan koneksi dan fasilitas digital yang mendukung.

"Artinya, pemanfaatan teknologi industri 4.0 menjadi bagian yang vital dalam proses transformasi digital," kata dia.

Doddy mengingatkan saat ini industri sudah menunggu solusi dari pemerintah terkait contoh sukses pemanfaatan teknologi industri 4.0. Sebab, teknologi industri 4.0 memberikan kemudahan akses digital secara real time serta meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan manufaktur.

Usai memberikan arahan pada FGD, Kepala BPPI berkesempatan mengunjungi proyek learning factory showcase di Balai Besar Tekstil, di Gedung Product Development and Design Center (PDDC). 

Pada tahun 2020, Balai Besar Tekstil merupakan 1 dari 6 satker di bawah BPPI yang mengimplementasikan program Learning Factory gagasan Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika.

Saat ini, Kemenperin aktif menjalin koordinasi dan membangun jejaring kerja sama antarstakeholders untuk mempercepat transformasi industri 4.0. 

Dalam hal ini, Kemenperin telah menginisiasi ekosistem industri 4.0 yang disebut Ekosistem Indonesia 4.0 (SINDI 4.0) sebagai wadah saling bersinergi dan berkolaborasi, baik pemerintah, perusahaan kawasan, pelaku industri, akademisi dan lembaga litbang, technical provider, konsultan dan tentunya pelaku keuangan. ***

Editor : Laksito Adi Darmono