logo

PT IU Diduga Telah Mengingkari Perjanjian Jual Beli

PT IU Diduga Telah Mengingkari Perjanjian Jual Beli

sidang gugatan Arwan Koty terhadap PT IU
25 September 2020 21:07 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ahli hukum perdata Henni Wijayanti SH MH menyatakan wanprestasi atau cidera janji merupakan suatu perbuatan yang mengingkari isi perjanjian yang telah dibuat, ditandatangani dan disepakati dua pihak (bersama).

Jika salah satu pihak melanggar atau menciderai isi perjanjian maka pihak tersebut telah mencederai hukum perdata dan perjanjian kerja sama itu sendiri. Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli (jual beli) diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Hal itu dilontarkan Henni Wijayanti dalam sidang gugatan wanprestasi Arwan Koty terhadap PT Indotruck Utama (IU) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Kamis (24/9/2020). Arwan Koty  sebelumnya menggugat PT IU suatu Perseroan Terbatas (PT) yang telah memilki nama besar dan terkenal dalam hal pemasaran dan penjualan berbagai macam alat berat Exacavator terutama dengan merk Volvo. Pasalnya, jual beli Excavator bermuara pada persengketaan, atau alat berat tersebut tidak kunjung diserahkan kepada pembeli. Oleh karena itu, penggugat dalam surat gugatannya terhadap  PT Indotruck diminta segera memenuhi kewajiban Perjanjian Jual Beli (PJB).

Jika PJB tidak dilaksanakan, PT IU diminta untuk mengembalikan uang yang telah dibayarkan oleh Arwan Koty atas pembelian Excavator Volvo EC 210D. Atau PT IU menyerahkan unit Excavator Volvo EC 210D  dalam keadaan baru kepada penggugat yang telah membayar lunas.

Penasihat hukum Arwan Koty,  J Untung Situmorang SH menyebutkan perkara bermula saat Arwan Koty ingin mengembangkan salah satu lini bisnisnya dalam bidang pertambangan. Untuk itu Arwan Koty membutuhkan alat berat Crawler Excavator. Maka pada  27 Juli  2017 Arwan Koty melakukan proses jual beli alat berat jenis Excavator dengan tergugat PT IU. Kedua belah pihak setuju dan sepakat untuk mengadakan dan menandatangani perjanjian jual beli 1 unit Crawier Excavator Volvo EC 210D  sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Jual Beli Nomor 157/PJB/ ITU/JKT/ Vu / 2017 tanggal 27 juli 2017.

Menurut J Untung adanya gugatan yang diajukan kliennya (penggugat) dikarenakan tergugat (PT IU) tidak mempunyai itikat baik menyelesaikannya.

Penggugat Arwan Koty setuju membeli 1 unit Excavator Volvo EC 210D dari tergugat PT IU seharga Rp 1.265.000.000 atau Rp 1,2 miliar lebih sebagaimana tertuang sesuai Perjanjian Jual Beli (PJB). Dengan begitu, tergugat wajib menyerahkan 1 unit Excavator Volvo EC 210D kepada penggugat selambatnya 1 minggu setelah DP lunas.

Dalam perjanjian jual beli diatur pula tempat penyerahan barang. yang mana mengacu pada Pasal IV ayat 4 tergugat berkewajiban untuk menyerahkan 1 unit Excavator Volvo EC 210D di Yard PT IU dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima barang oleh para pihak yaitu Arwan Koty dan pihak PT IU.

Terkait perjanjian jual beli, tergugat mengirimkan surat tagihan (invoice) kepada penggugat sebagaimana invoice No.G-1100 CI-170006850 tanggal 20 November 2017. Padahal, sebelum tergugat mengirimkan invoice kepada Arwan Koty, yang bersangkutan telah memenuhi kewajibannya yaitu melakukan pembayaran secara lunas atas pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D senilai Rp1.265.000.000 dengan perincian: tanggal 12 Oktober 2017 senillal Rp 265 juta sebagaimana Official Receipt No 124873  tanggal 12 Oktober 2017 dan tanggal 17 November 2017 senilal Rp 1 miliar sebagaimana Official Receipt No 124874. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembeli merupakan costumer yang beritikad baik karena telah membayar lunas sebelum waktu jatuh tempo.

Meskipun Arwan Koty telah memenuhi kewajibannya membayar lunas pembelian unit Excavator Volvo EC 210D, tergugat hingga saat ini belum juga menyerahkan unit Excavator Volvo EC 210D yang telah dibelinya lunas.

Atas cidera janji atau wanprestasi tersebut, penggugat mohon kepada Ketua Majelis Hakim Fahzal Hendri untuk mengabulkan seluruh gugatannya. Juga menyatakan sah dan berharga Perjanjian Jual Beli Nomor 157/ PJB /ITU/JKT/VII/ 2017 tanggal 27 Juli 2017.

Menanggapi gugatan Arwan Koty tersebut, penasihat hukum tergugat PT IU enggan atau tidak bersedia memberikan tanggapan/penjelasan kepada wartawan.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto