logo

Klinik Aborsi Di Jakpus Digerebek, Ribuan Janin Dikubur Di Septictank

Klinik Aborsi Di Jakpus Digerebek, Ribuan Janin Dikubur Di Septictank

PMJ merilis pengungkapan kasus klinik aborsi di Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat. (Istimewa)
23 September 2020 16:41 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Praktik dokter aborsi masih saja ditemukan di Jakarta.  Polda Metro Jaya  (PMJ) menangkap dokter DK, karena menjalankan praktik yang dilarang undang undang ini.

"Tersangka dokter lulusan perguruan tinggi di Sumut, tapi tak punya sertifikat dokter kandungan," kata Kabid Humas PMJ Kombes Yusri Yunus di Mapolda, Rabu (23/9/2020).

Yusri yang didampingi Wadir Reskrimum AKBP Calvin J Simanjuntak, menyebut total tersangka yang ditangkap 10 orang. Klinik mereka   beroperasi di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat.

Dari 10 pelaku tersebut berinisial LA (52), DK (30), NA (30), MM (38), YA (51), RA (52), LL (50), ED (28), SM (62) dan RS (25).

Dalam kesehariannya, dr DK didampingi dua asisten LA dan NA. Tersangka lain berperan sebagai penjemput, pendaftar, dan peran lainnya.

Penangkapan tersangka berawal dari adanya laporan masyarakat bahwa ada salah satu klinik menjalani praktik aborsi ilegal.

Berdasarkan laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan menangkap sepuluh orang. 

"Dari sepuluh orang itu, sembilan di antaranya yang menjalani praktik dan satu orang yang menjadi pasien itu sendiri," ujar Yusri.

Klinik ini menjalani praktik aborsi ilegal setiap hari Senin hingga Sabtu dari pukul 07.00 sampai dengan 13.00 WIB.

"(Praktik) dilakukan setiap hari, kecuali hari Minggu. Jadwal itu dari jam 7 pagi sampai 1 siang," kata Yusri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, para pelaku yang menjalani praktik aborsi ilegal itu dapat menerima hingga enam orang pasien setiap harinya.

"Hampir setiap hari dia bisa menerima lima sampai enam orang pasien," ucap Yusri.

Dari penangkapan para pelaku, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa sejumlah alat praktik kesehatan, beberapa obat, selimut, dan dua buku pendaftaran.

Tersangka dikenakan Pasal 346 KUHP, Pasal 348 ayat (1) KUHP, Pasal 194 Jo Pasal 75 Undang-undang RI Nomor 36 tentang kesehatan dengan ancaman paling lama 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto