logo

Tabur Kejaksaan Agung Tangkapi Buronan Korupsi

Tabur Kejaksaan Agung Tangkapi Buronan Korupsi

Kejaksaan Agung
18 September 2020 19:59 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA:Kejaksaan Agung menangkap dua buronan terbaru hasil operasi Tim Tangkap Buronan (Tabur). Salah satunya telah melakukan pelarian selama 12 tahun atas kasus korupsi.

Kapuspenkum Kejaksaan Agung Hari Setiyono mengungkapkan, terpidana pertama adalah Mochamad Zakaria bin Ali Zakaria. Dia buronan perkara tindak pidana penipuan yang berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 821K/ PID/2019 tanggal 21 Agustus 2019 dinyatakan bersalah karena telah melakukan tindak penipuan. "Karenanya dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama satu tahun dan enam bulan," tutur Hari dalam keterangannya, Jumat (18/9/2020).

Menurut Hari, Zakaria ditangkap pada Kamis 17 September 2020 di tengah Jalan Soedirman Nomor 55, Rejasari, Purwokerto Barat, Banyumas, Jawa Tengah, saat sedang beraktivitas. "Petugas mendatangi terpidana dan langsung menangkap yang bersangkutan guna melaksanakan isi putusan Mahkamah Agung RI dengan cara memasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas 2 Purwokerto," jelas dia.

Tim Tabur Kejaksaan Agung juga menangkap buronan atas nama Samson Fareddy Hasibuan yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 2008 lalu. Hari menyebut, tersangka yang sudah 12 tahun menjalani masa pelariannya itu terlibat tindak pidana korupsi pekerjaan pembangunan perumahan tipe 36 sebanyak 58 unit di Desa Tulumbaho, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, pada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias tahun 2006.

"Menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp454.476.400. Pada saat proses penyidikan berlangsung, tersangka sempat melarikan diri dan tidak diketahui lagi keberadaannya, sehingga sangat menghambat proses penyidikan perkara tersebut," kata Hari.

Samson merupakan Direktur CV Harapan Insani, rekanan pada proyek pembangunan 58 unit perumahan tipe 36 di Desa Tulumbaho, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias. Itu merupakan proyek Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD–Nias tahun 2006. Rumah-rumah yang dibangun diperuntukkan bagi para korban gempa di Nias. Proyek pembangunan ini diduga dikorupsi. Penyidik menemukan kerugian negara Rp454.476.400. Usai ditetapkan sebagai tersangka pada 2008, tersangka kabur hingga keberadaannya tidak diketahui.

Setelah 12 tahun, keberadaan Samson diketahui tim intelijen menjadi petani sawit. Buronan ini diringkus di kebun miliknya di Kecamatan Sosa, Padang Lawas. Saat diamankan tersangka bersikap kooperatif.

Sementara itu, terpidana kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pembelian lahan kantor cabang Bank Maluku dan Maluku Utara, Heintje Abraham Toisuta dieksekusi ke Lembaga Kemasyarakatan kelas II Ambon, Kamis (17/9/2020). Abraham terjerat kasus pembelian lahan dan bangunan pembukaan kantor cabang Bank Maluku dan Maluku Utara tahun 2014 senilai Rp54 miliar. Dia diduga merugikan negara senilai Rp7,6 miliar.

Abraham sebagai buron kemudian dibawa ke Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku untuk selanjutnya dijebloskan ke Lembaga Kemasyarakatan (Lapas) kelas II Ambon.  Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Rorogo Zega mengatakan Abraham telah buron selama kurang lebih tiga tahun setelah perkaranya berkekuatan hukum tetap. "Syukur atas kerja sama Kejati Maluku dan tim Sabur Kejagung RI buronan ini ketangkap dikosnya di daerah Kramat Sintiong, Jakarta Pusat," kata Zega, di Ambon, Maluku, Kamis (17/9).

Abraham dihukum dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 8 bulan kurungan. Selain itu, ia juga diminta membayar uang pengganti sebesar Rp7,2 miliar. "Jadi buronan ini langsung diserahkan ke Kejaksaan Negeri Ambon untuk membawa ke Lapas," ujarnya. Zega mengungkapkan Abraham bersalah dalam kasus pembelian lahan dan bangunan terkait pembukaan kantor cabang Bank Maluku dan Maluku Utara senilai 7,6 miliar di Surabaya, Jawa Timur.

Selain Abraham, jaksa juga mengeksekusi dua terpidana lainnya eks Dirut PT Bank Maluku-Maluku Utara, Idris Rolobessy dan bekas Kepala Divisi Rentra dan Korsel PT Bank Maluku-Maluku Utara, Pedro Tentua.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto