logo

Era Post Truth Solidaritas Dan Potensi Konflik

Era Post Truth Solidaritas Dan Potensi Konflik

16 September 2020 07:39 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Chrysnanda Dwi Laksana*

Konflik sosial pada umumnya karena perebutan sumber daya atau perebutan pendistribusian sumber daya. Bisa juga dikarenakan masalah harga diri. 

Suatu konflik terjadi sebenarnya merupakan puncak gunung es. Permasalahan2 sudah menumpuk dan tinggal menunggu ada triger. Permasalahan yang tidak terselesaikan akan menimbulkan kekecewaan hingga kemarahan walaupun masih dapat dipendam. Namun itu di omongkan terus ke mana mana dan bagi orang yang tidak pernah mengalami pun bisa ikut menceriterakan. Dari mulut ke mulut ditambah-tambahi dan saling memiliki penafsir berbeda dari faktanya. Ini gosip. Semakin digosok semakin sip. Gosip ini tatkala berlapis lapos dan terus menerus dilakukan ini akan menjadi labeling. Pemberian label ini bisa untuk perorangan bisa untuk kelompok. Tatkala labeling ini terus dihembuskan seolah olah menjadi kebenaran maka akan menjadi kebencian.

Apa yang dilakukan di atas ini sangat mudah memicu konflik sosial tatkala dikaitkan atau dihubung hubungkan dengan primordial. Primordial merupakan hal yang utama dan pertama bisa sara bisa juga komunitas atau kelompok kelompok kategorial. Di dalam primordial emosional, spiritual diutamakan dan kadang mengabaikan rasionalitas. Pokok e atau dg semangat siap membantu mengeroyok atau balas dendam dan menyerbu. Kelompok primordial tatkala sudah saling melabel saling membenci dari konflik perorangan pun bisa terjadi. Primordial dipilih atau digunakan karena untuk mendapatkan legitimasi walau hanya pada pembenaran bukan kebenaran. Apalagi kebenaran yang tidak berbasis hal hal yang hakiki hanya berdasarkan populasi. Kambing tatkala diteriaki orang banyak sebagai anjing bisa saja semua meyakini itu anjing.

Di dalam masyarakat yang majemuk primordialisme sangat mudah untuk memecah belah atau mengadu domba satu sama lain. Antar suku antar ras antar agama antar kelompok menjadi basis solidaritas pokok e yaang sebenarnya pekok e. Rasionalitasnya koprol dibuang. Yang ada dikepalanya hanyalah hajar serbu hancurkan mereka musuh menghina kita. Spirit premanisme muncul walau kembali dengan keroyokkan dan pengkambinghitaman. Siapa yang lemah disalahkan dan ditumbalkan. Tatkala kelompok-kelompok primordial ini sudah menjadi crowd maka akan muncul gerakkan anarkisme walaupun hanya dgn bullshit dikeroyok si a dan si b atau mengarang kejadian seolah teraniaya. Sifat orang2 yg cengeng mudah di berdayakan untuk membakar amarah. Sikap ksatria rela digantung diganti nalar koprol, mereka saat itu seakan penuh jiwa yang heroik walaupun melakukan hal hal yang di luar nalar. Otaknya seakan dibekukan dicocok hidungnya diseret untuk mengamini anarkisme. Kesadaran kolektif sudah tdk mampu lagi dikendalikan. Seakan orang mabuk ia lupa dgn dirinya dan sadar menyesal dibelakang hari.

Era post truth ini sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman dahulu walaupun tidak separah di era digital dgn media sosialnya. Menghasut memecah belah untuk saling membenci. Kita bisa belajar dari pemberontakan2 mulai dr ken arok, hingga penyerbuan tentara china ke kediri, pengusiran pasukkan kubilaikan, pemberontakan jaman majapahit, masa kolonialisme, masa pra kemerdekaan hingga masa kini trs saja ada. Primordial  menjadi pilihan apalagi kalau sudah mengatasnamakan apa saja apalagi yang berkaitan dgn harga diri ini mudah memicu konflik. Kadang kala pelakunya bisa dari orang gila. Tatkala diperiksa dinyatakan gila. Ini putus mata rantainya. Konflik sosial ini by design walaupun kadang tanpa kesengajaan. Bullsit di era postrutrhnya seolah kebenaran walaupun sarat trik intrik pembenaran. Memang ujung ujungnya juga kekuasaan penguasaan pendominasian sumber daya.

Masyarakat majemuk memerlukan adanya suatu pencerdasan hingga nalar atau logikanya tidak mudah dikoprolkan. Paradigma multikulturalisme ini mungkin mampu merasukkan kebanggaan akan kebhinekaan. Patriotisme cinta bangga akan bangsa dan negara tatkala bukan pd solidsritas semu apalagi dg berbagai hal yang menjurus kepada premanisme. Kekuatan massa khususnya bagi masyarakat suatu bangsa dan negara layak untuk dijaga atau ditumbuh kembangkan kekayaan seni budayanya dalam konteks karakter bangsa bagi hidup tumbuh dan berkembangnya. Multikulturalisme ini menjadi kekuatan bagi pelestarian kebhinekaan dan mencerdaskan untuk memberdayakan melestarikan salah satunya melalui masyarakat sadar wisata. Kesadaran akan wilayahnya orang orangnya suku bangsa bahasa dan seni budayanya menjadi sumber daya baru. Penanaman cinta bangsa bukan lagi doktrin namun penumbuhkembangam nalar dan daya logika waras. Lagi lagi ujung nya memang politik sehat waras lah yang mampu menjaga dan membawa suatu bangsa maju dan sejahtera.***

*Chrysnanda Dwi Laksana, PhD. Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto