logo

Kemenperin Sebut Tatalogam Group Komitmen, Bertransformasi Dukung Industri 4.0

Kemenperin Sebut Tatalogam Group Komitmen, Bertransformasi Dukung Industri 4.0

Kepala BPPI Kemenperin Doddy Rahardi saat meninjau ekspor baja lapis Tatalogam Group, di kawasan Delta Sillicon, Cikarang, Jumat (14/8/2020). (Foto: Dharma/suarakarya.id).
14 Agustus 2020 23:40 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - CIKARANG: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Doddy Rahardi menyebut Tatalogam Group telah menunjukan komitmennya bertransformasi untuk mendukung kesiapan menuju industri 4.0.

"Ditengah pandemi Covid-19, sektor logam ini mampu melakukan ekspor ke pasar global," ujar Doddy usai pelepasan ekspor baja lapis Tatalogam Group, di kawasan Delta Sillicon, Cikarang, Jumat (14/8/2020).

Tatalogam Group telah melakukan ekspor baja lapis alumunium seng sebanyak 2.000 ton ke negara Australia, Thailand dan Amerika Latin.

Tatalogam Group sendiri menjadi manufaktur logam pertama yang menjalani assessment INDI 4.0 oleh BPPI Kemenperin.

Menurut Doddy, salah satu bentuk Komitmen Kemenperin adalah mendukung kepada industri yang bertransformasi. 

"Ini menjadi salah satu bentuk komitmen Kemenperin dalam mendukung perusahaan yang bertransformasi ke industri 4.0," papar Doddy.

Doddy mengatakan, Kemenperin masih melakukan pendampingan terhadap sektor logam ini dengan target di tahun 2021 bisa menuju industri 4.0. 

Namun demikian, menurut Doddy, komitmen Tatalogam sudah luar biasa untuk maju dan bisa  bertransformasi di era digital 4.0 ini. 

"Jadi, bisa bersaing, masuk pasar global dan menghasilkan devisa negara," ujar Doddy.

Vice President Tatalogam Group, Stephanus Koeswandi menambahkan, ekspor komoditi baja lapis ini sudah kesekian kalinya. 

"Ini sudah order keempat sampai lima kalinya sejak bulan April 2020 di masa pandemi," kata Stephanus.

Stephanus mengatakan, ekspor ini dilakukan karena sebagai deversifikasi pasar dan untuk menjaga supaya mesin atau investasi (baru) ini masih tetap running dan juga tidak ada PHK.

"Ini yang kami pertahankan," kata Stephanus.

Stephanus mengakui, keberhasilan ekspor ini tidak terlepas dari penerapannya dalam implementasi industri 4.0 yang golnya adalah efesiensi. Dari efesiensi ini, nantinya akan menghasilkan produk yang berkualitas.

"Karena pasar ekspor ini tidak sertamerta kita masuk begitu saja. Karena pasar ekspor harus mengikuti standar-standar yang berlaku seperti ASTM," ujar Stephanus. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto