logo

Siapkan Naker Berketerampilan Spesifik, Kemnaker Latih 480 CPMI

 Siapkan Naker Berketerampilan Spesifik, Kemnaker Latih 480 CPMI

Menaker Ida Fauziyah.(foto,ist)
14 Agustus 2020 21:51 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dalam rangka menyiapkan tenaga kerja (naker) berketerampilan spesifik (specified skilled worker/SSW) ke Jepang, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan melatih 480 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang berasal dari seluruh Indonesia.

"Pelatihan Bahasa Jepang yang kita selenggarakan merupakan salah satu manifiestasi dari kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Jepang melalui MoC (Memorandum of Cooperation), yang ditandatangani pada tanggal 25 Juni 2019 lalu," tutur Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, dalam sambutannya pada pembukaan pelatihan bahsa Jepang secara daring, bagi CPMI Tahun 2020 dari Ruang Serbaguna, Kemnaker, Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Selain untuk meningkatkan kompetensi, pelatihan bahasa Jepang secara daring (oline) itu juga bertujuan meningkatkan pelindungan kepada pekerja migran. Sebagaimana diamanahkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI).

Menaker mengungkapkan, dalam MoU Indonesia diberi target untuk mengirimkan SSW ke Jepang sebanyak 70 ribu orang untuk jangka waktu 5 tahun ke depan. Mereka merupakan bagian dari 350 ribu orang tenaga kerja asing yang dibutuhkan Jepang untuk mengisi 14 sektor.

"Selain itu, Kemnaker juga akan mempersiapkan implementasi dari kesepakatan Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), khususnya untuk up-skilling bahasa Jepang," katanya.

Menaker menyadari situasi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, berdampak pada berbagai sektor, khususnya sektor kesehatan dan ekonomi. Situasi itu turut mempengaruhi proses pelatihan kerja yang biasanya dilaksanakan secara offline atau tatap muka secara langsung pada suatu tempat yang sama.

"Namun, dalam situasi global yang terjadi saat ini harus dilakukan penyesuaian metode dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid 19, yaitu dengan metode dalam jaringan (daring). Kami harapkan pelatihan dengan metode daring (online) dilaksanakan tanpa menghilangkan substansi dan pencapaian kompetensi yang dibutuhkan," ungkap dia.

Pada peserta pelatihan, Menaker berpesan, agar mengikuti pelatihan secara serius dan sungguh-sungguh. "Jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang sudah diberikan kepada kalian, apa lagi pelatihan ini disubsidi oleh Pemerintah. Ingat, kalian terpilih dari ratusan orang yang berminat dan mendaftar," tuturnya.

Pada lembaga pelatihan kerja, dia minta agar pelatihan dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab, serta sesuai dengan program dan kurikulum standar Jepang. Hal ini mengingat bahasa merupakan instrumen terpenting dalam melakukan pekerjaan.

"Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada BP2MI yang telah dan akan terus menjalin koordinasi dan sinergi, khususnya yang terkait dengan pelaksanaan program pelatihan ini," katanya.

Di bagian lain, Dirjen Binalattas Kemnaker Bambang Satrio Lelono, menjelaskan, pelatihan bahasa Jepang ini akan dilaksanakan selama 4 bulan. Standar kurikulum yang diterapkan yakni memahami, membaca, menulis, menguasai 300 kanji; menguasai 1500 kosa kata; konteksualisasi substansi; teknis attitude dalam bahasa Jepang; dan memahami budaya Jepang.

"Lembaga pelatihan kerja yang dipilih melalui proses seleksi yang dilakukan secara online melalui situs Kemnaker atau Sisnaker," terangnya.

Sementara Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii, secara virtual berharap peserta pelatihan bahasa Jepang yang merupakan CPMI mampu berkiprah di Jepang.

"Sebagian besar pelatihan berkeinginan untuk bekerja di Jepang sebagai pekerja berketerampilan khusus pada masa mendatang," katanya.

Masafumi Ishii menambahkan, sistem bekerja pekerja berketerampilan khusus di Jepang telah dimulai sejak bulan Mei 2019. Sehingga, para pekerja asing yang sudah memiliki keterampilan tinggi dapat bekerja di Jepang maksimal selama 5 tahun.

"Ada pekerja berketerampilan khusus dari berbagai negara dan pekerja Indonesia merupakan pekerja terbanyak kedua setelah Vietnam," terangnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto