logo

Polisi Kembali Amankan Dua Pelaku Perusakan Di Solo

Polisi Kembali Amankan Dua Pelaku Perusakan  Di Solo

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Ahmad Luthfi menggelar rilis kasus perusakan dan penganiayaan dsri kelompok intoleran di Mapolresta Solo
13 Agustus 2020 15:16 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Polisi kembali mengamankan dua orang berinisial N dan A yang.diduga sebagai pelaku tindakan perusakan dan penganiayaan di Kampung Mertodranan, Pasar Kliwon, Sabtu (8/8/2020) lalu. Sehingga saat ini sudah ada tujuh orang yang diamankan dari peristiwa tersebut.

Hal ini dikatakan Kapolda Jawa Tengah,, Irjen Pol, Ahmad Luthfi, saat konferensi pers, di Mapolresta Solo, Kamis (13/8/2020).

"Jadi semuanya jumlahnya menjadi tujuh orang. Kemarin lima sekarang dua dan yang bisa kita tingkatkan lagi menjadi tersangka satu orang. Sehingga lima orang sudah menjadi tersangka, sedangkan dua lainnya masih kita dalami lagi," jelas Kapolda.

Lebih lanjut Kapolda mengatakan hingga saat ini sudah ada 35 orang saksi yang diperiksa. Mereka dari masyarakat yang melihat mendengar dan lain sebagainya.

Ahmad Luthfi  juga menghimbau kembali kepada pelaku lainnya untuk menyerahkan diri. Jika tidak maka aparat kepolisian akan bertindak tegas dengan menangkap dan memproses secara hukum.

"Negara tidak boleh kalah oleh intoleransi oleh radikalisme dan premanisme yang terjadi di wilayah hukum Polda Jawa Tengah. Segera menyerahkan diri atau kita tangkap untuk proses hukum. Langit runtuh hukum akan ditegakkan di wilayah Polda Jawa Tengah," tegasnya.

Mantan Kapolresta Solo itu juga meminta kepada masyarakat jika mempunyai informasi yang sangat berharga untuk polisi, untuk segera menyampaikan. Sebab sampao kapanpun penegakan hukum terkait dengan potensi konflik yang terjadi di wilayah Pasar Kliwon akan terus dilakukan.

"Untuk motifnya, nanti kalau semuanya sudah lengkap baru kita sampaikan motifnya apa," ujarnya.

Kasus perusakan dan penganiayaan di Kampung Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo terjadi setelah kelompok intoleran membubarkan paksa acara Midodareni atau doa bagi calon pengantin. Kelompok intoleran tersebut juga melakukan perusakan dan melukai tiga orang warga. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto