logo

Jangan Remehkan Kyai Ma'ruf Amin!

Jangan Remehkan Kyai Ma'ruf Amin!

12 Agustus 2020 22:52 WIB

SuaraKarya.id -                     Oleh: Tony Rosyid

Siapa yang tak kenal Ma'ruf Amin. Sebelum menjadi Wakil Presiden Joko Widodo, Kyai Ma'ruf selain seorang ulama kharismatik, dia juga seorang politisi. Lama berkiprah di PPP dan menjadi anggota DPRD DKI di tahun 1977.

Saat PKB dilahirkan dari tangan Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Ma’ruf Amin pindah dan ikut membesarkan partai berbasis warga NU yang kini dibesut oleh Cak Imin ini.

Peran dan kiprahnya mengantarkan Ma'ruf Amin menjadi salah satu anggota DPR RI terpilih dari PKB tahun 1999.

Kiprahnya di dunia politik sejatinya cukup matang. Sayangnya, sebagian orang hanya melihat sosok Ma’ruf Amin sebagai ulama saja, terutama perannya sebagai Rais Am PBNU dan Ketua MUI saja. Padahal jauh sebelum menjadi Kyai top, Ma’ruf Amin telah lama menempa diri di dunia politik.

Sebagai kader PPP dan kemudian PKB, cukup menjadi bekal Ma’ruf mengasah pengalaman politiknya.

Sangat keliru jika ada pihak-pihak yang mengecilkan kemampuan berpolitik Ma’ruf Amin. Kyai yang satu ini punya insting politik yang tajam. Terbukti, ia piawai menjinakkan ambisi Mahfud MD dari posisi cawapres Jokowi di last minute.

Hanya dalam itungan jam sebelum deklarasi, Kyai asal Banten ini membalikkan prediksi sejumlah pengamat dan prakiraan politisi kalau Jokowi memilih cawapresnya dari tokoh selain Ma'ruf Amin. Jokowi yang semula meminta Mahfud MD untuk menjadi cawapresnya, tiba-tiba mendadak batal! Padahal, jas yang sedianya akan dipakai saat deklarasi capres-cawapres sudah dikirim oleh Mahfud ke istana. Tiba-tiba nggak jadi alias berubah total.

Justru yang deklarasi hari itu adalah Jokowi-Ma’ruf Amin. Sudah barang tentu Mahfud MD kecewa berat ekspektasinya tak kesampaian. Meski begitu Jokowi masih sangat akomodatif untuk posisi mantan Ketua MK ini menjabat sebagai Menkopolhukam, setidaknya telah mengobati kekesalan Mahfud MD.

Tidak saja Mahfud MD yang harus mengakui kelihaian Kyai Ma'ruf meyakinkan Jokowi memilihnya, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang jauh-jauh hari sudah bersiap-siap diri dengan seabreg-abreg memasang iklan cawapres dengan baliho raksasanya dimana-mana, akhirnya juga tersingkir. Ternyata, menjadi Ketua Umum PKB yang mengklaim warga NU berada dibelakangnya pun tak cukup mampu melawan kegesitan Ma’ruf Amin.

Begitu juga KH. Said Aqil Siroj. Sang Ketua Umum PBNU ini juga tak mudah dipilih Jokowi untuk mendampinginya di Pilpres 2019. Dan cerita ini justru dibongkar semua detil-detilnya oleh Mahfud MD dalam dialognya di tayangan sebuah televisi swasta. Jadi jangan main-main dengan Ma’ruf Amin.

Terpilihnya kyai senior di kalangan Nahdliyin ini sebagai cawapres saat itu adalah bukti kepiawaian sang kyai memainkan peran politiknya. Ini takdir Ma'ruf sudah pasti. Tapi Allah tentu selalu menghitung ikhtiar hamba-Nya yang selalu bertumpu kepada-Nya.

Jadi jika ada sebagian pihak yang berhasrat melengserkan Kyai Ma'ruf, tentu tak ada celah konstitusional ke arah itu, kecuali mundur.

Bagaimana kalau Ma’ruf Amin tidak mau mundur? Maka, juga tak ada pergantian wapres. Disini, Ma’ruf akan melihat siapa-siapa yang mengincar posisinya. Tentu ia tak akan tinggal diam.

Desas desus (kabar-kabur), pergantian Ma’ruf Amin di tengah jalan sudah didesign jelang pilpres 2019. Bahkan isunya sudah ada kesepakatan antara Ma’ruf Amin dengan pihak yang memberi rekomendasi.

Lalu apa ada buktinya? Seandainya ada bukti itu ada, toh dalam politik, semua perjanjian tak harus berlaku permanen. Perjanjian Batu Tulis antara Prabowo-Megawati, adalah salah satu contohnya. Juga perjanjian (konon tertulis) antara Prabowo-PKS terkait komposisi capres-cawapres di pilpres 2019. Bahkan janji Prabowo terkait Wagub DKI dari PKS sebagai pengganti Sandi pun akhirnya juga tak berlaku.

Janji politik, memang beda dengan janji-janji yang lain. Tingkat bohongnya lebih tinggi. Kalau sudah begini, siapa yang akan disalahkan. Jadi salah sendiri anda percaya.

Kebohongan berjama’ah terjadi terutama saat pileg, pilkada dan pilpres. Pemilu adalah pasar untuk obral janji.

Bagaimana jika Jokowi juga mendukung pergantian Ma’ruf Amin? Ingat dan perlu dicamkan Presiden Jokowi bahwa Ma’ruf Amin sudah sepuh usia.

Soal pengalaman, belum tentu Jokowi lebih matang. Jika adu kuat? Ma’ruf bisa dengan mudah mengkapitalisasi NU dan umat untuk melakukan perlawanan. Bisa-bisa, bukan Ma’ruf yang diganti, tapi Jokowi yang akan dilengserkan.

Saat Jokowi lengser, Ma’ruf Amin jadi presiden. Presiden kedua dari NU. Ini akan jadi sejarah untuk kedua kalinya setelah Gus Dur jadi presiden. Bahwa dua tokoh dan darah Nahdliyin menjadi Presiden RI.

Jika 23 Juli 2001 Gus Dur (NU) diganti Megawati (PDI Perjuangan), maka tak ada yang bisa menjamin Jokowi (PDIP) tidak lengser dan diganti oleh Ma’ruf Amin (NU). Hari esok, tak seorang pun yang tahu bagaimana takdir itu meneteskan tintanya***

Tony Rosyid- Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Editor : Dwi Putro Agus Asianto